Soliter

April 18, 2008

Pindahan Yuk Kawan…

Yuk mari ke..

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

Yuk ah.. 

December 5, 2007

Kepemimpinan Perempuan

Kategori: manusia, serius, kampus

Perempuan. Aku benar-benar ingin tahu bagaimana sebenarnya Engkau..
(more…)

November 22, 2007

Konstantinopel 1453

Kategori: serius, islam

Muslim (Turki Utsmani)
Leader : Muhammad II
Pasukan: 150ribu orang
Source: senjata klasik jarak pendek + meriam (teknologi baru saat itu)
Tokoh pembantu: Syaikh Aaq Syamsudin (guru Muhammad II), Halil Pasha dan Zaghanos Pasha (keduanya tangan kanan Muhammad II)

  VS

Byzantium (Konstantinopel)
Leader: Constantine Paleologus
Source: Benteng 10 m dengan parit 7 m 

Tokoh pembantu: Kardinal Isidor, Pangeran Orkhan dan Giovanni Giustiniani (dari Genoa)

 
 

 

Kondisi umum konstantinopel

  • Barat => benteng dua lapis, artileri muslim harus membobolnya
  • Selatan => laut Marmara, pasukan laut muslim berhadapan dengan pelaut Genoa pimpinan Giustiniani
  • Timur => selat sempit Golden Horn, armada laut harus masuk ke  yang sudah dilindungi dengan rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak bisa lewat.

Skenario perang

  • penyerangan dimulai hari jumat 6 april 1453M (sebelumnya Muhammad II mengirim surat kepada Paleologus untuk masuk Islam atau menyerahkan penguasaan kota secara damai atau perang)
  • dari barat benteng berusaha dibobol, tetapi setiap kali runtuh sedikit, si pasukan konstantinopel numpukin lagi
  • Usaha lain dicoba; menggali terowongan di bawah benteng, cukup menimbulkan kepanikan kota, namun juga gagal
  • berminggu2 benteng tidak bisa dijebol
  • akhirnya, ada ide untuk menyerang dari arah timur (golden horn) yg pertahanannya agak longgar (konsentrasi pertahanan konstantinopel ada di barat).
  • dalam semalam 70 kapal dipindahkan melalui DARAT untuk menghindari rantai penghalang (ini awalnya dianggap ide bodoh)
  • 29 mei 1453 (setelah sehari istirahat) dilakukan penyerangan total
  • pasukan muslim terdiri dari 3 lapis: irregular di lapis pertama, Anatolian Army di lapis kedua dan terakhir pasukan Yanisari
  • Giustinianimenyarankan Constantine untuk mundur atau menyerah tapi Constantine tetap konsisten hingga gugur di peperangan (kabarnya Constantine melepas baju perangnya dan bertempur bersama pasukan biasa hingga tak pernah ditemukan jasadnya => WOW)
  • Giustiniani meninggalkan kota dengan pasukan Genoa-nya. Kardinal Isidor lolos dengan menyamar sebagai budak melalui Galata, Pangeran Orkhan gugur di peperangan.
  • Konstantinopel jatuh

Epilog pasca perang

  • Penduduk kota berbondong-bondong berkumpul di Hagia Sophia
  • Sultan Muhammad II memberi perlindungan kepada semua penduduk, siapapun, baik Islam, Yahudi ataupun Kristen
  • Toleransi tetap ditegakkan, siapa pun boleh tinggal dan mencari nafkah di kota tersebut
  • Sekolah dibangun, siapa pun boleh belajar, tak ada perbedaan terhadap agama, GRATIS lagi
  • Membangun perumahan, diberikan gratis kepada para pendatang yang bersedia tinggal dan mencari nafkah di reruntuhan kota Byzantium.
  • Kota tersebut kini bernama Istanbul, Hagia Sophia yang megah berubah fungsi menjadi museum.

 

 

——


Referensi

http://panji-only.web.ugm.ac.id/?p=13
http://myquran.org/forum/index.php?topic=9909.0;wap2
http://eramuslim.com/berita/lpk/7b16154048-muhammad-al-fatih-the-conqueror.htm?prev

August 25, 2007

Sadar atau Tidak, Engkau Telah Melakukan Pembunuhan!

Kategori: serius

Kemarin pagi saya pulang dari ‘tugas negara’, berada di kapal laut genap 11 hari. Tak ada akses informasi, tv ga pernah nonton, koran ga ada, hp mati, internet ga bisa nyentuh. Ke kampus sore hari, ketemu sama mahasiswa-mahasiswa baru, browsing-browsing dikit, ketemu temen2 di lab n di himpunan, say hi, ngobrol ampe deket shubuh..

Kaget, ada sebuah fenomena yang kembali membuat saya geleng-geleng kepala saat browsing malam tadi. Ada seorang anak manusia yang membuat pernyataan maaf di depan publik akibat tulisannya di blog pribadi yang bersangkutan.

Pembunuhan karakter terjadi lagi.

Benar, secara konten memang yang dia tulis sangat provokatif dan kontroversial. Oke, apa yang dia tulis menyakiti beberapa orang. Tepat, apa yang ditulisnya tidak berdasar fakta, data, dan pengetahuan yang mumpuni. Hanya saja kemudian ada fenomena penghakiman massa. Ibaratnya ada seseorang yang mengemplang kepala anaknya kyai, kemudian orang itu dikejar dan digebuki rame-rame oleh fans-nya kyai tersebut, juga orang-orang yang sama sekali tidak kenal sang kyai, tapi ingin ikut meramaikan suasana.

Ini terjadi di dunia nyata. Paling tidak di negara kita. Dan akhirnya saya temukan juga beberapa kasus yang hampir serupa dengan bentuk yang berbeda-beda di dunia ‘tidak nyata’. menggelitik sekali rasanya, apakah ini memang menjadi gambaran mental orang indonesia secara umum?

Menjustifikasi tanpa data dan pengetahuan memang dosa,
Menjustifikasi tanpa data dan pengetahuan dan/atau nggebuki orang rame-rame secara ‘anonymous’ tentunya juga dosa.

Hit and Run (and laugh). Menyedihkan!

 

June 21, 2007

Saling Berbicara (di Belakang)

Kategori: serius

Dosen bicara tentang mahasiswa,
Dosen masih bicara tentang mahasiswa.

VS

Mahasiswa bicara tentang dosen,
Mahasiswa masih bicara tentang dosen.

 

 

$#*&*)()*+)**&$%$&$*%$&($%(&$%$#*&*)()*+)**&$%$&$*%$&($%(&$%$#*&*)()*+)**&$%$&$*%$@(&^$&$

 

 

 

 

 

Jadi???! 

 

 

May 20, 2007

Pemuda Loyo dalam Sebuah Drama Kebangkitan*

Orang yang hidup bagi dirinya sendiri
akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil.
Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain
akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.

- Sayyid Quthb -

 

Hari kebangkitan nasional tidak pernah membuat kita bangkit sebenarnya. Sama halnya seperti 99 tahun yang lalu saat para ambtenaar mendirikan Boedi Oetomo (BO). BO didirikan bukan dengan semangat pembangkitan, yang ada, BO malah bersifat sangat a-nasionalis, mendukung dan didukung penjajah, tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka. Maka tidak heran ketika ruh kebangkitan tidak muncul-muncul di kalangan manusia Indonesia. Lha wong yang digunakan adalah simbol penghambaan terhadap kolonialis, bukan simbol kebangkitan.

Semangat kebangkitan biasanya dimulai dengan semangat anti-kemapanan. Mempunyai semangat tinggi, pikiran yang meledak-ledak dan tak kenal batas adalah prasyaratnya. Jika kita telaah sekilas saja, secara logis kita sudah bisa mengatakan bahwa prasyarat tersebut ada pada elemen kaum muda.

Tidaklah berlebihan kiranya ketika sastrawan Pram berujar ”Sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Jika angkatan muda mati rasa, matilah sejarah sebuah bangsa”. Tentu saja kita bisa melakukan studi atas pernyataan tersebut. Kebangkitan suatu kaum, faktanya, adalah kebangkitan kaum mudanya.

Indonesia kini mempunyai stempel besar di dahinya sebagai negara pecundang. Coba kita trace berbagai rekor dunia saat ini. Indonesia kita tercinta pasti akan selalu menempati urutan teratas dalam kategori-kategori yang jelek bin buruk bin mengkhawatirkan. Politik penuh kecurangan-yang-dimaklumi, budaya bangsa yang kian meluntur diterpa arus MTV, Holywood, dan—sialnya—Bollywood. Kebijakan Hankam yang membuat kita tidak aman, ekonomi yang bisa dikendalikan pihak-pihak kapitalis non-Indonesia. Kiranya kita tidak usah panjang-panjang membicarakan keburukan-keburukan tersebut, toh sudah hampir sebagian besar orang Indonesia saat ini dengan bangga melakukannya—penulis berharap untuk tidak dimasukkan dalam golongan tersebut.

Banyaknya permasalahan di negeri ini tidak lepas dari peran kaum mudanya. Predikat pendobrak (agent of change) yang dimiliki kaum muda seakan tidak ada lagi bentuknya, dimakan kultur konsumtif dan hedonis kontemporer. Hitung sajalah berapa orang mahasiswa di kampus anda yang peduli pada nasib dan masa depan bangsa. Masalah dobrak-mendobrak menjadi penting tatkala kita dihadapkan pada wilayah-wilayah stagnan yang menggelayuti seluruh sektor kehidupan bangsa.

Saat ini pragmatisme sudah merasuk dan mengakar dalam hati dan otak. Mahasiswa yang merupakan representasi strata atas kaum muda tidak luput dari trend ini. The last stronghold rupanya juga ikut kepincut janji-janji instan menggiurkan yang dibawa oleh zaman.

Bagaimanapun, kita harus menyadari keadaan yang ada, rekonstruksi lagi pola pikir kita. Pemahaman yang benar akan masalah-masalah riil bangsa menjadi pondasi utama kebangkitan. Turun dan melihat langsung keadaan masyarakat adalah pilihan utama, karena dengan begitu sense of crisis bisa kita bangun dengan baik. Metode seperti ini digunakan oleh pemimpin-pemimpin revolusioner dunia seperti Muhammad SAW, Lenin, Soekarno, bahkan Che.

Pengasahan kapasitas pikir menjadi langkah selanjutnya. Membaca, menulis, berdiskusi. Mahasiswa-pemuda (mari untuk selanjutany kita batasi pada kelompok mahasiswa saja dulu) harus menyadari bahwa gerakan perbaikan dan perubahan harus dimulai dari kerangka logika intelektualitas. Dengan begitu, pertanggungjawaban ilmiah dan kebolehjadian suksesnya kebangkitan menjadi lebih kuat.

Membaca akan memberikan wawasan yang luas. Buku adalah instrumen yang melintas ruang dan waktu. Diskusi jika dilakukan paralel dengan proses membaca akan saling melengkapi dalam ideologisasi pemikiran personal. Kemudian, penerjemahan dari kegelisahan-kegelisahan akan sangat efektif tersampaikan dalam budaya tulis menulis. Berkomunikasi dan melakukan persuasi terhadap orang lain dalam kacamata globalisasi dunia.

Lalu beranjak pada pengambilan konklusi dan pematangan konsep. Melakukan pengasahan intelektualitas dan pendalaman sense of crisis secara paralel akan memberikan nuansa baru bagi paradigma berpikir. Arahkanlah pada ujung yang solutif dalam kerangka konsep yang matang.

Sebagai finishing touch, mahasiswa akan dihadapkan pada pilihan yang menjadi pamungkas: bergerak. Pola pikir dan semangat adalah sumbu dari kebangkitan, pergerakan adalah hulu ledaknya. Solusi yang kita tawarkan haruslah kita sendiri yang mengeksekusi. Mempercayakannya kepada orang lain, atau bergantung pada inisiatif orang lain adalah kebodohan terbesar yang mungkin dilakukan oleh mahasiswa, para muda penggagas kebangkitan.

Ayo kembali bangun rasa kepekaan kita terhadap nasib dan masa depan bangsa ini, tolak untuk menjadi bagian dari sekrup-sekrup kapitalisme global, emoh untuk hanya menjadi calon buruh-bergaji-besar-di-perusahaan-multinasional yang mandul sense of belonging pada bangsa sendiri. Mari coba memahami masalah yang ada, dan memberi solusi atasnya. Membangun mimpi dan menggenapkan ikhtiar. Semoga kita bukanlah angkatan muda yang mati rasa.

 

Mei 2007,
Bukan dalam rangka memperingati harkitnas versi soeharto

 

 

 

* Tulisan ini pernah dimuat dalam buletin Garda Ganesha

May 3, 2007

Menyoal Kompetensi Mahasiswa dalam Konteks Pergerakan yang Kontinu

Kategori: serius, kampus

Sejarah dunia adalah sejarah orang muda.
Jika angkatan muda mati rasa, matilah sejarah sebuah bangsa.

- Pramoedya Ananta Toer -

 

Masih ingat 1998? Euforia gerakan kemahasiswaan dalam penumbangan rezim penguasa yang otoriter. Terlepas dari penilaian gagal atau tidaknya gerakan tersebut untuk mencapai sistem kenegaraan Indonesia yang ideal, namun harus kita akui bahwa gerakan tersebut mampu memberikan nuansa geliat anak muda kuliahan yang telah mengaktualisasi gerakannya dalam ranah praksis yang kontributif bagi bangsa.

Hakikatnya gerakan mahasiswa adalah gerakan yang berlandaskan intelektualisme (intellectual movement). Sebagai insan ilmiah, mahasiswa harus bisa mengonsep gerakannya dalam kaidah-kaidah yang logis dan rasional, jauh dari kesan emosional, dan destruktif. Menurut perspektif penulis, dalam konteks gerakannya, mahasiswa ditopang oleh empat pilar utama yang menjadi kompetensi dasar, yaitu membaca (reading), menulis (writing), berdiskusi (discussion), dan pewarisan nilai (kaderisasi, forming of cadres).

Membaca adalah satu faktor penting yang sangat menentukan dalam transformasi pola pikir. Salah satu negarawan dan pemikir besar kita, Bung Karno, adalah seorang yang cinta membaca dan memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi-koleksi buku yang luar biasa; atau seorang Tan Malaka yang kabur ke Rusia di zaman pergolakan tanpa membawa apa-apa yang berharga kecuali sepeti besar buku untuk dibaca; juga seorang Bill Clinton yang kabarnya mampu menghabiskan dua buku tebal dalam hitungan beberapa hari.

Pergolakan isu saat ini berubah dengan sangat cepat, hal ini harus diimbangi oleh kualitas interpersonal mahasiswa yang mumpuni dalam hal wawasan dan kemampuan berwacana. Kedua hal ini bisa didapatkan dengan cara membaca; koran, majalah, tabloid dan lain sebagainya. Kiranya kesibukan bukanlah alasan yang menyebabkan kita tidak membaca, luangkanlah waktu barang sejam atau dua jam sehari untuk membaca.

Pilar kedua, mahasiswa harus mampu dan terbiasa untuk melontarkan opini, ide atau gagasannya dalam bentuk tulisan. Hal ini menjadi penting manakala gerakan mahasiswa ditujukan untuk sasaran yang massif dan global, tulisan-tulisan yang dicetak dalam bentuk media publik akan bisa dibaca oleh banyak orang dari berbagai kalangan, sehingga eskalasi gerakan bisa lebih cepat dan meluas, tak hanya lokal, tapi juga menasional, bahkan bisa menembus batas mancanegara.

Suatu ideologi ataupun pemikiran akan bisa terabadikan dalam bentuk tulisan, banyak contoh bisa disebut, diantaranya das Kapitalnya Marx yang dijadikan pegangan paham kaum komunis; teori kontroversial evolusi Darwin yang dituliskan dalam The Origin of The Species; atau jangan jauhjauh, hampir semua agama-agama besar di dunia mengabadikan ajarannya dalam bentuk tulisan pada kitab sucinya masing-masing.

Suatu kegembiraan besar ketika para mahasiswa sudah terbiasa melontarkan ide-ide dalam tulisan, menyuarakan opini dalam ruang gerak yang lebih luas dan bisa diakses dengan mudah. Bukankah orang bilang sebatang pena lebih tajam daripada sebilah pedang?

Pilar ketiga, berdiskusi. Instrumen diskusi mempunyai kemampuan yang powerfull dalam menganalisa masalah dan mengejawantahkan solusi konkritnya.

Dalam berdiskusi kita akan mendapat input-input yang berharga bagi pola pemikiran dan pola pergerakan yang matang dan intelek, akan ada share ide, juga akan ada proses pengujian terhadap suatu kualifikasi paham atau opini tertentu. Lebih dari itu fungsi psikologis akan sangat nampak disini, dengan proses seperti ini akan terjalin kedekatan emosional antar elemen yang akan mempermudah setiap mobilitas pergerakan.

Pilar keempat, kaderisasi. Aktivisme mahasiswa adalah sesuatu yang terbatas, terutama oleh waktu kuliah. Seorang mahasiswa yang telah lulus dan terjun langsung di masyarakat tak bisa lagi disebut aktivis mahasiswa, lahan dan potensi gerakannya menjadi jauh berbeda. Oleh karena itu, perlu ada pewarisan nilai-nilai idealisme terhadap para junior (adik kelas) sehingga kontinuitas gerakan bisa terjaga.

Harapan penulis, semoga gerakan kemahasiswaan akan selalu berada pada koridor idealisme intelektul dan memihak kepada kepentingan rakyat. Menjadi suatu kekecewaan manakala gerakan ini disusupi oleh motif dan cara yang tidak bisa dipertanggungjawabkan di depan mimbar intelektualisme.

 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main