Soliter

April 18, 2008

Pindahan Yuk Kawan…

Yuk mari ke..

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

Yuk ah.. 

March 9, 2008

Tekad

Kategori: privasi

Di sini hujan, dan hati ini terasa meleleh.

Sepertinya harus menyibukkan diri dengan aktivitas-aktivitas lain. Harus dilupakan. Belum saatnya. Akan ada waktu yang tepat.

Saat ini masih banyak manusia papa yang menunggu. Masih banyak harapan dan cita-cita yang harus diraih, harus direalisasikan.

Oleh karena itu hai pembolak-balik hati manusia,
jangan cabut sedetik pun tekad itu dari hatiku.





 

 

 

 

_belajarmenulis
http://belajarmenulis.wordpress.com/2008/03/09/tekad/ 

February 27, 2008

Shubuh

Kategori: privasi

Selepas shubuh. Selesai tilawah.
Apa selanjutnya?!
Lari pagikah?

Tapi rasanya mata ini ingin mengatup sebentar. Ibu pasti mencak-mencak kalau tahu saya tidur sehabis shubuh. Rizki hari ini bakal dipatok ayam, katanya. biasanya waktu masih di rumah, S.O.P. ba’da shubuh di hari libur adalah kunci pintu kamar, pasang earphone dengan konten lagu heavy, selimutan, plus tutup pake bantal kalau perlu.

Ya, mata ini makin terasa berat kini.











dimuat juga di http://belajarmenulis.wordpress.com/

 

February 26, 2008

Absen

Kategori: manusia, privasi, budaya

Penggunaan istilah absensi seringkali tertukar dengan presensi. Absensi secara harfiah berarti ketidakhadiran berakar dari kata dasar absen yang artinya tidak hadir. Sedangkan presensi berarti kehadiran, berasal dari noun bahasa inggris present yang artinya hadir.

“isi nama tuh di absensi”. Kalimat yang ditujukan untuk menyuruh seseorang yang hadir pada sebuah kegiatan untuk membubuhkan tanda kehadirannya pada daftar ketidakhadiran. Kesalahan penggunaan istilah yang cukup fatal bukan? paling tidak secara logika bahasa.

Istilah yang tepat, presensi, memang agak asing di telinga. Namun, apa salahnya kita coba untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya? Mari kita tidak lagi terus menerus mendzalimi diri kita sendiri.

Oya, siang tadi saya seharusnya mengisi lembar absensi.











dimuat juga di http://belajarmenulis.wordpress.com/

 

February 24, 2008

Tidur

Kategori: umum, privasi

Sehabis training tadi, entah kenapa kepala terasa berat, pusing ga keruan. Sholat dzuhur terus tilawah sebentar, hingga akhirnya nyungsep di tempat bobo.

Yah, tentu saja bobo, atau bahasa resminya: "tidur". Adalah seperti yang disampaikan oleh kbbi:

ti·dur v 1 dl keadaan berhenti (mengaso) badan dan kesadarannya (biasanya dng memejamkan mata): siang untuk bekerja, malam untuk istirahat dan—; obat—(penidur), obat bius (obat yg menyebabkan dapat tidur nyenyak); 2 (masuk—; pergi—) hendak (mulai) mengistirahatkan badan dan kesadarannya: biar aku saja yg menyudahkan pekerjaan ini, engkau boleh pergi—; tempat—, tempat untuk tidur; ranjang; 3 berbaring; terbaring (tidak berdiri): bubu—;
di atas miang (enjelai), pb tidak dapat tenang (selalu gelisah);— tak lelap, makan tak kenyang, pb sangat gelisah (krn bersusah hati, banyak pikiran, dsb);
ti·dur-ti·dur v berbaring-baring (untuk melepaskan lelah dsb): ia ~ di pematang seraya berlagu;
~ ayam tidur, tetapi belum nyenyak benar;
me·ni·duri v 1 tidur di; berbaring di; 2 ki bersetubuh dng: seorang pemuda ditangkap krn disangka ~ istri orang;
me·ni·dur·kan v 1 membawa tidur; membaringkan (meninabobokan dsb) supaya tidur: ia biasa ~ anaknya dng senandung; 2 merebahkan: setelah di rumah ia langsung ~ dirinya di balai-balai;
ter·ti·dur v 1 (sudah) tidur; mulai tidur: Upik sudah ~; 2 tidak sengaja tidur: semalam ia ~ di depan pesawat televisi;
ti·dur·an v berbaring-baring tetapi tidak tidur (untuk melepaskan lelah dsb): ia ~ di sofa sambil membaca koran; ia senang ~ di kursi malas;
ti·dur-ti·dur·an v tiduran;
pe·ni·dur n 1 cak tukang tidur; orang yg suka tidur (mudah sekali tidur): sambil duduk pun ~ itu dapat tidur lelap walaupun keadaan di sekelilingnya sangat bising; 2 (obat dsb) untuk memudahkan atau menyebabkan tidur nyenyak: obat ~; hikmat ~;
pe·ti·dur·an n tempat tidur;
ke·ti·dur·an 1 n tempat (balai-balai dsb) untuk tidur; 2 v tidak sengaja tidur; tertidur: krn sangat lelah, ibu ~ di sofa;
ke·ti·dur-ti·dur·an v selalu hendak tidur;
se·ke·ti·dur·an n setempat tidur; keadaan tidur bersama-sama di satu tempat tidur;
selapik ~ , ki (sahabat) karib sekali;
ber·se·ke·ti·dur·an v 1 tidur bersama-sama di tempat tidur; 2 bersetubuh


dan saya tidur selama lebih dari 4 jam siang ini..

 

 

February 2, 2008

Sidang Chapter 1

Kategori: privasi, kampus

Jumat, 1 februari 2008, dimulai jam 9.00 berakhir jam 09.45
Berlokasi di 1205, bersebelahan dengan bengkel.
(more…)

January 6, 2008

Kenapa Kamu Berjuang?*

Kategori: privasi

Karena Cinta.

(more…)

December 26, 2007

Open Up Your Heart and Let The Sunshine In

Kategori: syair, privasi

Buka mata dan hati..
Saat keadaan marah dan tersakiti

Buka mata dan hati..
Dalam kondisi tertekan dan terasing

Buka mata dan hati..
Ketika merasa kalah dan terpuruk

(more…)

November 20, 2007

Yang Terjadi di Tempat Gelap

Kategori: privasi, kampus

And i dont want the world to see me
(GGD – Iris)

Tepatnya jangan kepergok! Seperti maling. Zaman dulu, saat masih angkatan muda, saat masih semangat-semangatnya, masih fresh!

Jangan kepergok karena kalau kepergok bisa berbahaya. Haha..  Malam-malam ngampus sekitaran jam 2, terus beraksi jam 3-an sampe jam setengah 5. Keliling dari tembok satu ke tembok yang lain, dari papan pengumuman satu ke papan pengumuman lain. Semua gedung, bahkan mushola dan kamar mandi biasanya tak luput dari polesan karya-karya eksentrik.

Perekat yang kuat tentu saja jadi bahan yang tak boleh disepelekan. Provokasi kreatif harus mantap. Kelincahan dan pengenalan medan, kapan satpam berkeliling misalnya, harus diperhitungkan. Moment harus pas, isu yang dibawa kudu menggelitik. Kalau ngajak sekutu, harus yang loyal, ga bocor orangnya.

Banyak hal yang harus disiapin, tapi yang paling penting: mental. Mental? ya, mental, karena beresiko. Resiko? Mungkin ditelanjangin atawa diiket di tiang basket bisa jadi yang minimal.

Pernah hampir kepergok. Beraksi kesiangan alias hampir shubuh. Untung pernah belajar beladiri, sehingga masih bisa melakukan perlawanan. Alhamduillah, bisa menang dan identitas tidak terbongkar, padahal saat itu hanya satu jurus yang dikeluarkan, jurus sakti mandraguna – pilih tanding: Melangkah Tanpa Bayangan (lebih terkenal di kalangan awam dengan istilah ‘kabur’ atau ‘lari’)

Seru. Menegangkan. Indah. Memorable.

Hmmmm.. Sekarang adek-adek masih suka ‘begituan’ ga ya?!

November 9, 2007

Kontemplasi

Kategori: syair, privasi

Seperti kata Gie.. "Aku tak tahu mengapa, aku merasa agak melankolik malam ini.." (1969)
(more…)

July 21, 2007

Wisuda

Kategori: syair, privasi

lalu kapan saya akan diwisuda
adik kelas sudah lebih dulu
rasa cemas merasa masih begini
teman baik sudah di d.o.
(more…)

June 16, 2007

RAN..

Kategori: syair, privasi

Semua yang berawal pastinya akan berakhir
bagaimanakah kiranya kalau sama sekali tidak berawal?

Sudilah sejenak engkau menyimak kata sebentar saja
elegi yang aselinya om sapardi sediakan, dan kini kupergunakan.. 

 

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada


 

 

—-
Bandung di subuh hari,
karena sebuah rasa cinta..

June 11, 2007

Antosan di S2 nya?!

Kategori: privasi

Alhamdulillah, akhirnya ada juga yang dapet A, hehehe… Di semester kerontang ini, ada juga embun penyejuk.

Perancangan Organisasi, TI-3252. Kuliah ni sebenernya bukan kuliah dari jurusan saya, tapi seperti kebiasaan yang lalu-lalu, kuliah yang tidak berkepala FI adalah kuliah-kuliah menyenangkan dan me-refresh lingkungan suram di perjalanan akademik saya.

Jadi ceritanya ikut ngambil karena tertarik sama namanya, keren. Ngerancang-rancang kan kerjaannya orang iseng, yaa seperti saya ini => definitely, no complain, no debat. Dosennya seorang praktisi yang juga konsultan masalah-masalah organisasi, Dr. Ir. S.B. Hari Lubis. Naah, si bapak ini ngomongnya memang pelaaan, plus sering telat juga. Tapi itu semua menjadi sangat tidak berarti dibandingkan dengan pembawaannya yang mantap, serta wawasan dan pengalamannya yang begitu luas.

Cerita-cerita faktual sering beliau sisipkan di setiap kuliahnya. Yang lebih mantep, diskusi yang dibawakan sepanjang kuliah cukup seru dan menantang. Rasanya tak pernah saya merasa ngantuk selama 3 JAM kuliah. Hebat bukan?!

Dari awal saya memang lebih tertarik untuk mendalami disiplin ilmu yang berbasis sosio – humaniora. Di beberapa kesempatan yang ada saya mencoba untuk belajar langsung secara praxist, banyak hal yang saya temui dan menarik saya lebih dalam untuk terjun bebas ke kedalaman hikmahnya. Mungkin di waktu-waktu selanjutnya akan cukup cocok bagi saya untuk lebih berkonsentrasi di disiplin yang menarik ini. 

 

 

Sepertinya..
Another story shall begun.. 
Haha.. 

 

 

May 28, 2007

Tentang Saya (2) : Membeli Petasan

Kategori: privasi

Dibesarkan di lingkungan mesjid tidak secara langsung membuat saya soleh dan baik hati dan rajin menabung dan penyayang binatang emoticon.

Sering sekali disetrap => dijemur siang2, berdiri di depan kelas sampai kaki jontor, bersihin wc. Pernah juga disidang. Tetapi hal itu tidak membuat surut komitmen saya untuk terus menjadi yang terbadung.

Waktu bulan puasa, kalo ga salah saat itu saya duduk di kelas 5, berdua dengan salah seorang teman (hasil dari rayu sana – rayu sini, provoke sana – provoke sini), kita sebut saja sepatu (bosen mawar – melati terus), saya mempergunakan waktu istirahat kelas sekitar jam 9 sampai jam setengah 10 untuk beli petasan ke pasar. Waktu sore (hanya waktu sore-lah saya bisa bermain) setelah ashar petasan itu akan saya pergunakan untuk media perang-perangan emoticon dan alat menjaili yang efektif dan efisien.

Sedikit tentang pemberdayaan petasan, biasanya memang kita pakenya petasan korek. Nah, si petasan korek ini modelnya kayak korek api, ada bandul coklat mesiu di salah satu ujungnya. Keunggulan yang bersangkutan selain tidak perlu ada lagi korek untuk menyulut sumbu, juga keistimewannya dalam hal jeda waktu antara t1 (waktu pemantikan/penyalaan sumbu) dan t2 (meledaknya petasan) yang cukup lama dan bisa ditentukan dengan agak pasti, 3 sampai 5 detik. Jadilah petasan ini primadona bagi saya.

Kembali ke misi pembelian petasan tadi, saya sadar sesadar-sadarnya bahwa jarak pasar dengan sekolah lumayan jauh, ada sekitar 3 juta milimeter. Dan karena itu saya sadar sesadar-sadarnya juga kalo saya pasti tidak bisa tepat waktu sampai lagi di sekolah. Tapi bagaimanapun, the show must go on, hehehe..emoticon

Untuk mencapai pasar tadi, saya dan sepatu dengan sabar menelusuri rel kereta api. Kenapa rel kerta api? Karena selain kami cukup sayang untuk memberikan uang seharga satu dua buah petasan ke bapak sopir angkot, rel kerta api adalah juga resultan jarak antra pasar dan sekolah kami.

Singkat cerita, sampailah saya di pasar dan membeli petasan. Kami kembali menyusuri rel kereta api untuk pulang ke sekolah. Seperti yang sudah saya perkirakan, kelas sudah masuk dari se-jam-an yang lalu. Seperti biasa, kalo saya kabur atau telat masuk kelas, saya akan melompati pagar yang berada di samping sekolah. Tak dinyana tak diduga, di sana telah menunggu deretan ibu guru (means: lebih dari dua) yang sudah bersiap-siap dengan muntahan omelannya.

Karena sudah biasa, saya mah santai2 saja.. Sisa jam pelajaran harus saya habiskan di wc belakang sekolah pun tidak bermasalah (duh saya kesian sama sepatu, meler-meler dia emoticon).

May 27, 2007

Sentimentalia

Kategori: privasi

Mengapa perasaan sedih ini muncul?

 

May 7, 2007

I Want to Break Free

Kategori: syair, privasi

Pas dengan suasana hati saat ini..

 

I want to break free
I want to break free
I want to break free from your lies
You’re so self satisfied I don’t need you
I’ve got to break free
God knows God knows I want to break free

I’ve fallen in love
I’ve fallen in love for the first time
And this time I know it’s for real
I’ve fallen in love yeah
God knows God knows I’ve fallen in love

It’s strange but it’s true (hey yea)
I can’t get over the way you like me like you do
But I have to be sure
When I walk out that door
Oh how I want to be free baby
Oh how I want to be free
Oh how I want to break free

But life still goes on
I can’t get used to living without living without
Living without you by my side
I don’t want to live alone hey
God knows got to make it on my own
So baby can’t you see
I’ve got to break free

I’ve got to break free
I want to break free yeah

I want I want I want I want to break free….

 

—-
Queen 


May 2, 2007

Untuk Adindaku..

Kategori: syair, privasi

Bismillahirrahmanirrahim

Teruntuk adinda yang selalu berada di hati dan pikiranku
Buat adinda yang mungkin kini sedang menunggu-nunggu
Kepada adinda yang belum ku tahu siapa dan seperti apa raut dirimu 

Taqdir Allah akan selalu menyertai kebersamaan setiap insan
Termasuk kita saat ini
Waktu takkan pernah bisa mengikis ikatan kita
Sebaliknya, waktulah yang akan memperkokoh ikatan kita
Karena adindaku…
Suratan ini telah diteguhkan di lauhul mahfudz

Adindaku tercinta
Sungguh rindu hati ini bertemu denganmu
Sungguh rindu hati ini berdzikir bersamamu

Adindaku…
Mungkin selalu dan selalu terpikir olehmu betapa pengecutnya diriku
Mungkin selalu dan selalu terlintas kekesalan-kekesalan dalam benakmu tentangku
Mungkin selalu dan selalu hatimu tak rela dalam penantian-penantian panjangmu
Mungkin selalu dan selalu kau ingin berkata: “Kemanakah dikau pelipur lara? Penuntunku di dunia dan akhirat? Apakah kau masih malu untuk menampakkan dirimu dihadapanku? Aku telah siap untuk kau jemput, aku telah siap untuk kau jumpa, aku telah siap… tapi apakah kau masih malu?"

O Adindaku…
Terasa bergetar hati ini
Terasa ditarik-tarik jantung ini

Kuatkanlah diriku ya Allah…
Aku tidak  ingin sepengecut ini…............................

 

—-
Bandung
di syahdunya separuh malam

 

 

 

April 30, 2007

Seueur Damelan

Kategori: privasi

Beuuh.. kebiasaan lama berulang kembali.

Banyak kerjaan yang harus diselesein, jadinya
1. tak berminat mengerjakan apapun
2. tak berminat mengerjakan apapun
3. tak berminat mengerjakan apapun
4. tak berminat mengerjakan apapun
5. tak berminat mengerjakan apapun
6. tak berminat mengerjakan apapun
7. tak berminat mengerjakan apapun

tapi bagaimanapun juga
1. harus dikerjakan
2. harus dikerjakan
3. harus dikerjakan
4. harus dikerjakan
5. harus dikerjakan
6. harus dikerjakan
7. harus dikerjakan

aha, terpikir sesuatu
1. mulai ah..
2. mulai ah..
3. mulai ah..
4. mulai ah..
5. mulai ah..
6. mulai ah..
7. mulai ah..

Kalo anda ada waktu dan rasa simpati, mohon do’akan saya..

terimakasih.

April 18, 2007

Tentang Saya (1) : Introduction

Kategori: manusia, privasi

Sederhana dan tahan lama… :)

Zamzam Badru Zaman

Nama saya Zamzam Badru Zaman, lahir tengah malam jam 12 lewat 12 menit (00:12), terhitung tanggal 3 Juli 1985. Sudah taqdir Allah saya dilahirkan waktu purnama sedang indah-indahnya emoticon, itulah mengapa ada kata ‘Badru’ sebagai nama tengah saya.

Masuk pendidikan sekolah dasar umur 6 tahun. Sekolah full dari pagi sampai sore hari selama kurang lebih 7 tahun (pagi -> siang : MI Tarbiyatul Falah, siang -> sore: TKA Tarbiyatul Falah lalu MD Tarbiyatul Falah), ditambah acara rutin mengaji di masjid sebelah rumah dari ba’da maghrib sampai waktu yang tidak menentu ~> bisa sampai tengah malam emoticon.

Kenangan indah di waktu kecil? Kebanyakan adalah cerita jahil dan kejahatan-kejahatan amatiran sesosok anak-anak yang tidak perlu kiranya diceritakan di sini emoticon.

Masa SLTP dilalui di sebuah lembaga pendidikan milik negera: SLTPN 1 Cicurug. Di sinilah saya mulai mengecap arti ego dan kompetisi. Ehm, cinta monyet pun ikut-ikutan berkembang juga. Saya adalah satu diantara sedikit anak madrasah yang mau masuk ke sekolah ini. Kelas 1 dan 2 di SLTP masih terbilang sangat baik, saya mampu berada di jajaran siswa kelas unggulan. Barulah di perpindahan ke kelas tiga kejatuhan itu terjadi: didepak dari kelas unggulan, peringkat 4 kelas dari belakang, dan pastinya terkucil. Marah, sedih, benci, iri, malu bergabung jadi satu. Jelek memang, tapi itulah yang membuat saya meledak dalam akhir akademik yang manis di jenjang SLTP

Berlanjut kemudian ke SMUN 1 Sukabumi. Seorang badung yang tukang kesiangan akhirnya terperosok ke jurang rohis sekolah. Di Rohis ini perubahan pola pikir ke arah (yang semoga memang benar2) lebih baik terjadi dalam diri saya, proses pencarian jati diri dimulai di sini. Jadi, ceritanya akan cukup panjang untuk nanti diceritakan kembali di postingan berikutnya emoticon.

Akhirnya kampus ITB jadi tempat singgah berikutnya. Program studi Fisika, alhamdulillah  (sayang sekali banyak yang mengira saya salah masuk jurusan emoticon). Kehidupan kampus saat ini saya jalani dengan keberagaman perilaku yang indah dan mencerahkan.

Yup, inilah sekelumit cerita tentang makhluq faqir yang sedang belajar..

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main