Dibesarkan di lingkungan mesjid tidak secara langsung membuat saya soleh dan baik hati dan rajin menabung dan penyayang binatang
.
Sering sekali disetrap => dijemur siang2, berdiri di depan kelas sampai kaki jontor, bersihin wc. Pernah juga disidang. Tetapi hal itu tidak membuat surut komitmen saya untuk terus menjadi yang terbadung.
Waktu bulan puasa, kalo ga salah saat itu saya duduk di kelas 5, berdua dengan salah seorang teman (hasil dari rayu sana – rayu sini, provoke sana – provoke sini), kita sebut saja sepatu (bosen mawar – melati terus), saya mempergunakan waktu istirahat kelas sekitar jam 9 sampai jam setengah 10 untuk beli petasan ke pasar. Waktu sore (hanya waktu sore-lah saya bisa bermain) setelah ashar petasan itu akan saya pergunakan untuk media perang-perangan
dan alat menjaili yang efektif dan efisien.
Sedikit tentang pemberdayaan petasan, biasanya memang kita pakenya petasan korek. Nah, si petasan korek ini modelnya kayak korek api, ada bandul coklat mesiu di salah satu ujungnya. Keunggulan yang bersangkutan selain tidak perlu ada lagi korek untuk menyulut sumbu, juga keistimewannya dalam hal jeda waktu antara t1 (waktu pemantikan/penyalaan sumbu) dan t2 (meledaknya petasan) yang cukup lama dan bisa ditentukan dengan agak pasti, 3 sampai 5 detik. Jadilah petasan ini primadona bagi saya.
Kembali ke misi pembelian petasan tadi, saya sadar sesadar-sadarnya bahwa jarak pasar dengan sekolah lumayan jauh, ada sekitar 3 juta milimeter. Dan karena itu saya sadar sesadar-sadarnya juga kalo saya pasti tidak bisa tepat waktu sampai lagi di sekolah. Tapi bagaimanapun, the show must go on, hehehe..
Untuk mencapai pasar tadi, saya dan sepatu dengan sabar menelusuri rel kereta api. Kenapa rel kerta api? Karena selain kami cukup sayang untuk memberikan uang seharga satu dua buah petasan ke bapak sopir angkot, rel kerta api adalah juga resultan jarak antra pasar dan sekolah kami.
Singkat cerita, sampailah saya di pasar dan membeli petasan. Kami kembali menyusuri rel kereta api untuk pulang ke sekolah. Seperti yang sudah saya perkirakan, kelas sudah masuk dari se-jam-an yang lalu. Seperti biasa, kalo saya kabur atau telat masuk kelas, saya akan melompati pagar yang berada di samping sekolah. Tak dinyana tak diduga, di sana telah menunggu deretan ibu guru (means: lebih dari dua) yang sudah bersiap-siap dengan muntahan omelannya.
Karena sudah biasa, saya mah santai2 saja.. Sisa jam pelajaran harus saya habiskan di wc belakang sekolah pun tidak bermasalah (duh saya kesian sama sepatu, meler-meler dia
).