Soliter

April 18, 2008

Pindahan Yuk Kawan…

Yuk mari ke..

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

Yuk ah.. 

March 10, 2008

Miskin

Kategori: manusia, indonesia

Karena lapar, anak pintar itu bunuh diri. Teguh, 11 tahun, menggantung lehernya.

Hal di atas sudah semakin sering terdengar di telinga. Tukang gorengan yang bunuh diri karena kedelai naik, anak SD yang memutuskan mati karena tidak bisa membayar SPP, ada juga yang gantung diri setelah diledek anak tukang bubur oleh teman-temannya.

Kemiskinan telah menjadi momok yang menghancurkan sendi moral dan kepribadian kita.Hampir 40 juta orang di republik ini yang mungkin semenderita Teguh. Faktor makanan menyumbang kriteria terbesar, 75 persen. Dengan kata lain, sejumlah 30 juta orang sedang kelaparan saat ini. Di sini, Republik Indonesia, sangat mungkin di depan hidung anda sendiri.

Saya selalu berpikir, alangkah berdosanya para pejabat publik kita. Di saat ada rakyatnya yang mati karena kelaparan, mereka masih sempat meminta kenaikan gaji ratusan persen, mereka masih tega mentilap uang publik untuk dimakan sendiri. Padahal mereka hapal dengan cerita seorang Umar yang pernah dengan sangat ketakutan, memanggul sendiri bahan makanan untuk rakyatnya yang kelaparan di malam hari.

Pun saya selalu merasa berdosa. Seorang yang mengaku setanahair dengan orang-orang tak beruntung di atas, mengaku seagama, mengaku sebagai belahan jantung sesama saudara, telah tega mengacuhkan sekitar. Telah tidak tanggap untuk sekedar memberikan uluran tangan yang sebenarnya juga sama pendek ini. Dimanakah sebenarnya disimpan hati ini?

Kemudian para teoritis ramai membicarakan solusi-solusi mereka. Proteksionisme, subsidi, privatisasi BUMN, pinjam uang lagi, dll, dsb, dkk. Sudah terlalu banyak solusi, tak ada hasil yang bisa mata ini lihat.

Oh maaf, saya salah. Hasilnya ada. Teguh adalah salah satu diantaranya.

[Akhirnya, tak ada jajaran karangan bunga untukmu, tak ada buku ditulis, tak ada pembagaian rupiah dalam rangka selamatan, tak ada ucapan duka dan liputan besar-besaran di tv dan di koran. Akankah kau cemburu (Teguh)?]

 

 

 

 

 

_belajarmenulis
http://belajarmenulis.wordpress.com/2008/03/10/miskin/

February 26, 2008

Absen

Kategori: manusia, privasi, budaya

Penggunaan istilah absensi seringkali tertukar dengan presensi. Absensi secara harfiah berarti ketidakhadiran berakar dari kata dasar absen yang artinya tidak hadir. Sedangkan presensi berarti kehadiran, berasal dari noun bahasa inggris present yang artinya hadir.

“isi nama tuh di absensi”. Kalimat yang ditujukan untuk menyuruh seseorang yang hadir pada sebuah kegiatan untuk membubuhkan tanda kehadirannya pada daftar ketidakhadiran. Kesalahan penggunaan istilah yang cukup fatal bukan? paling tidak secara logika bahasa.

Istilah yang tepat, presensi, memang agak asing di telinga. Namun, apa salahnya kita coba untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya? Mari kita tidak lagi terus menerus mendzalimi diri kita sendiri.

Oya, siang tadi saya seharusnya mengisi lembar absensi.











dimuat juga di http://belajarmenulis.wordpress.com/

 

Kesetaraan

Kategori: manusia, islam, budaya

Jadi teringat awal masuk kuliah dahulu. Bertemu dengan suasana Masjid Kampus yang asri. Tak hanya asri, Masjid ini memberikan suatu pelajaran baru yang berharga bagi saya.

Biasanya di kampung saya, atau di sebelah kampung saya, atau di sebelah sebelah kampung saya, masjid akan dilengkapi dengan sajadah-sajadah minimal karpet. Tetapi yang jelas, pasti ada sajadah untuk imam. Sajadah paling bagus, paling tebel. Adalah sesuatu yang baru saat di kampus ini, masjid tidak dilengkapi dengan sajadah, bahkan untuk imam.

Saya terus memikirkannya. Kesimpulan sementara, saya melihat adanya prinsip kesetaraan yang diperlihatkan dari samanya alasan untuk sholat. Alas sholat jamaah sama dengan imamnya, tak lebih bagus, tak lebih tebal, tak lebih tinggi.

Di masjid dekat dengan kost saya, setiap maghrib, isya dan shubuh selalu saya temui imam muda yang di kemudian hari begitu saya kagumi. Bacaan AlQur’an saat dia mengimami sholat sungguh sangat bagus, tartil dan indah sekali langgamnya, sering membuat titik air mata turun dari pelupuknya. Penyesalan saya adalah sampai saat ini saya tak tahu namanya, yang saya tahu dia masih berstatus mahasiswa, angkatan 98.

Ada satu hal yang selalu saya perhatikan darinya. Masjid dekat kost saya ini sama dengan masjid-masjid di kampung saya, kehormatan sajadah tebal dan bagus untuk imam. Tetapi sang imam muda selalu menggulung sajadah jika dia akan mengimami. Sholat bersama di lantai keramik, tak lebih tinggi, tak lebih rendah, setara.

Selalu, dan selalu saya mengasosiasikan kepemimpinan dalam agama saya, Islam, dengan kesetaraan yang ditunjukkan oleh fenomena di atas. Tidak hanya dari disiplinnya mengikuti komando, atau shaf-shafnya yang rapi dan rapat, tetapi juga kesetaraan dan penolakan terhadap pengistimewaan.

Kini, apabila kehormatan menjadi Imam datang pada saya, sajadah tebal nan indah itu akan selalu tergulung.











dimuat juga di http://belajarmenulis.wordpress.com/

 

February 25, 2008

Pengamen

Kategori: manusia

Saya selalu tidak suka dengan pengamen. Sering saya bertanya apa bedanya mereka dengan pengemis? genjrang genjreng ga keruan, terus minta duit, terus ngeloyor pergi. Saya paling males ngasih. Ngamen dijadikan kedok untuk menutupi modus mengemis mereka.

Tetapi tentu saja selalu ada perkecualian. Seperti tadi di warung Cap Cay. Waktu dari pesan makanan sampai siap hidang di warung ini memang cukup lama, selama jeda waktu itu saya dan serombongan kawan ngobrol ngalor ngidul plus ejek-ejekan. Ditengah keasyikan kita, muncul pengamen tunggal, bawa gitar, pake kaos.

Saya nilai pengamen ini adalah salah satu pengamen yang tahu cara mengamen dengan elegan. Diselingi candaan-candaan garing, dia membawakan beberapa lagu Iwan Fals sampai selesai dengan sungguh-sungguh, walaupun gelas plastik uangnya sudah ada yang mengisi. Beberapa kali kawan saya merequest lagu darinya.

Tutur katanya yang rendah hati dan dedikasinya saat menyanyi memberikan rasa penghargaan yang sangat tinggi dalam hati saya. Beberapa ribu pun keluar untuknya.

Memang fatsoen itu perlu, dalam mengemen sekalipun.









dimuat juga di http://belajarmenulis.wordpress.com/ 

January 27, 2008

Selamat Jalan Bung!

Kematian Paman Gober
Oleh: Seno Gumira Ajidarma


Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang
bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk
Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal :
apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat,
terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya
berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang disana,
segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah
berhenti bertambah.

Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal lagi pabrik apa
saja yang dimilikinya. Bila terlihat pabrik di depan matanya, ia hampir
selalu berkata, "oh, aku lupa, ternyata aku punya pabrik sepatu."
Kejadian semacam ini terulang di muka pabrik sandal, pabrik rokok,
pabrik kapal,pabrik arloji, maupun pabrik tahu-tempe. Boleh dibilang,
hampir tidak ada pabrik yang tidak dimiliki Paman Gober. Ibarat kata,
uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman Gober.

Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder no.1, Paman Gober adalah
bebek yang sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal bebek, ia
tidak pernah mewmberi bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras
malah Donal ini, beserta keponakan-keponakan nya Kwak, Kwik, dan Kwek,
hamper selalu diperas tenaganya, dicuri gagasannya, dan hasilnya tidak
pernah dibagi. Cendekiawan jenius Kota Bebek, Lang Ling Lung, yang
dimuka rumahnya tertera papan nama Penemu, Bisa Ditunggu, pun hamper
selalu diakalinya.

Sudah berkali-kali Gerombolan Siberat, tiga serangkai kelas kakap,
menggarap gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada
dipihak Paman Gober. Pman Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi Hitam,
tukang tenung yang suka terbang naik sapu. Sudah beberapa kali Mimi
Hitam berhasil merebut Keping Keberuntungan, jimat Pman Gober, namun
keping uang logam kumuh itu selalu berhasil direbut kembali. Tidak bisa
dipungkiri, Paman Gober memang pekerja keras. Masa mudanya habis
dilorong-lorong gua emas. Sebuah gunung emas yang ditemukannya menjadi
modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak tersaingi
dari Kota Bebek.

Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek, sesepuh Kota Bebek yang
mengasingkan ke sebuah pertanian jauh di luar kota, addalah kenyataan
bahwa Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia. Pman Gober menjadi
legenda yang disukai. Pman Gober begitu rakus. Pman Gober begitu pelit.
Tapi ia tidak dibenci. Setiap kali ada orang mengecam,menyaingi,
pokoknya mengancam reputasi Paman Gober sebagai orang kaya, justru orang
itu tidak mendapat simpati. Paman Gober bisa menangis tersedu-sedu meski
hanya kehilangan uang satu sen. Ia sama sekalli bukan tokoh teladan,
tapi mengapa ia bisa begitu dicintai?
"Dunia sudah jungkir balik," ujar Nenek Bebek kepada Gus Angsa, yang
meski suka makan banyak, sangat malas bekerja. Namun Gus Angsa sudah
tertidur sembari bermimpi makan roti apel.

"Suatu hari dia pasti mati," ujar Kwik.

"Memang pasti, tapi kapan?" Kwak menyahut.

"Kwek!" Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek. Dasar bebek.

Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donal, membawa Koran itu
dari depan pintu ke ruang tengah.

"Belum mati juga!"

Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang tiada
lagi berita yang bisa dibaca di Koran. Banyak kabar, tapi bukan berita.
Bnyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan
pengetahuan. Koran-korantelah menjadi kertas, bukan media.

Semua bebek memang menunggu kematian Pman Gober. Itulah kabar terbaik
yang mereka harapkan terbaca. Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap
untuk mati. Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, umurnya cukup
uzur. Untuk kuburanya sendiri, ia telah membeli sebuah bukit, damn
membangun mausoleum di tempat itu. Jadi, bukanya Paman Gober tidak mau
mati. Ia sudah siap untuk mati.

"Mestinya, bebek seumur saya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap
masuk ke liang kubur. Makanya, ketika saya diminta menjadi Ketua
Perkumpulan Unggas Kaya, saya merasakan kegetiran dalam hati saya,
sampai beberapa lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang
mampu menjadi ketua?"

Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan Batin
Gober Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses.
Hampir setiap bab dalam buku itu mangisahkan bagaimana Paman Gober
memeburu kekayaan. Mulai dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai
sayuran yang membuat bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah
tambahan. Bab terakhir diberi judul Sampai Kapan Saya Berkuasa?. Memang,
Paman Gober adalah ketua terlama Perkumpulan Unggas Kaya. Entah kenapa,
ia selalu terpilih kembali, meski pemilihan selalu berlangsung
seolah-olah demokratis. Begitu seringnya ia terpilih, sampai-sampai
seperti tidak ada calon yang lain lagi.

"Terlalu, masak tidak ada bebek lain?"

Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-bebek
menjadi takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan terl;alu kaya.
Setiap hari yang dilakukannya adalah mandi uang. Ketika Donal Bebek
bertanya dengan kritis, mengapa Paman Gober tidak pernah peduli kepada
tetannga, bantuan keuangannya kepada Donal segera dihentikan.

"Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula."

"Apakah saya tidak punya hak bicara?"

"Bisa, tapi janngan asal meleter, nanti kamu aku sembelih."

"Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan manusia."

"Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari manusia."

"Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan manusia?"

"Yang jelas manusia bisa makan manusia."

"Tapi Pman mau menyembelih sesame bebek, apakah sudah mau meniru sifat
manusia?"

Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober suka memelihara
musuh-musuh yang tidak pernah bisa mengalahkannya itu, justru untuk
menunjukkan kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televise. Kalau
Paman Gober sudah bicara, kamera tidak berani putus, meskipun
kalimat-kalimatnya membuat bebek tertidur. Paman Gober selalu
menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya, dan Paman Gober juga
semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga Kota Bebek.

"Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur, dan monument, apa
jadinya Kota Bebek?"

Tidak ada yang berani melawan. Tidak ada yang berani bicara.

"Paman Gober," kata Donal suatu hari, kenapa Paman tidak mengundurkan
diri saja, pergi ke pertanian seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan
arti hidup? Sudah waktunya Pman tidak terlibat lagi dengan urusan
duniawi."

"Lho, aku mau saja Donal. Aku mau hidup jauh dari Kota Bebek ini.
Memancing, main golf, makan sayur asem, dan membaca butir-butir falsafah
hidup bangsa bebek. Tapi, apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan? Apa
mungkin aku menolak kehormatan yang segenap unggas? Terus terang,
sebenarnya sih aku lebih suka mengurus peternakan."

Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan. Demokrasi
berjalan, tapi tidak memikirkan pimpinan, karena memang hanya ada atu
pemimpin. Segenap pengurus bisa dipilih berganti-ganti, namun kedudukan
Paman Gober tidak pernah dipertanyakan. Para pelajar seperti Kwik, Kwek,
dan Kwak menjadi bingung bila membandingkannya dengan sejarah
kepemimpinan kota lain. Kota Bebek seolah-olah memiliki pemimpin abadi.
Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa bahkan sudah tidak
mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang bisa diganti. Mereka pikir
keabadian Paman Gober sudah semestinya.

Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman Gober. Riwayat hidup
Paman Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek
terkaya yang sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru. Nenek
Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan, yang mestinya semakin
canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda ingin
meniru Paman Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau bisa paling
kaya di dunia.

"Paling kaya di dunia?" Kwak bertanya.

" Iya, paling kaya di dunia," jawab Nenek Bebek.

"Apakah itu hakikat hidup bebek?"

"Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober."

Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih terus
menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. Matanya
telah rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia
bagai tak tergantikan.

Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa
dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota
Bebek membuka koran, yang ingin meraka ketahui hanya satu : apakah hari
nin Paman Gober sudah mati. Seriap pagi mereka berharap akan membaca
berita Kematian Paman Gober, dihalaman pertama.



Jakarta, 16 Agustus 1994

 

  

 

     

 

 

 

      

 

    



Jend (Purn) H.M. Soeharto
In memoriam, 8 Juni 1921 – 27 Januari 2008

December 5, 2007

Kepemimpinan Perempuan

Kategori: manusia, serius, kampus

Perempuan. Aku benar-benar ingin tahu bagaimana sebenarnya Engkau..
(more…)

June 24, 2007

Dialog Dua Hati

Kategori: manusia, syair, islam

Syair ini ditulis alm. ust. Rahmat Abdullah rahimahullah,
disenandungkan dalam bait-bait nasyid Suara Persaudaraan.

Menceritakan kepada kita tentang do’a dan cita-cita.
Sebuah harapan dan ‘azzam terbentuknya unit terkecil organisasi manusia,
keluarga.

Semuanya terangkai dalam satu gubahan yang sederhana,
kental dengan balutan suasana ruhiyah.

Syair nasyid yang selalu membuat saya bergetar
dan sering, entah kenapa, menitikkan air mata..

 

 

Duhai kekasih hati
kugubahkan nasyid ini
s’bagai tanda cinta suci
dalam naungan ilahi

Hari demi hari
bersamamu kulewati
dalam suka dalam duka
dalam meniti ridloNya

Ikrarkan bersama
untuk tetap di jalanNya
bahtera rumah tangga
t’ladankan rosul mulia 

Didik putra-putri
s’bagai amanah ilahi
bekali akhlaq imani
jadikan mukmin sejati

Insya Allah, insya Allah, insya Allah

 

—-
Ust Rahmat Abdullah 

 

June 17, 2007

Bidadari Penyelamat

Kategori: manusia, syair, indonesia

 

Ratu adil?

 

6.30 pagi…
aku sudah terbangun
Matahari bersinar…
tapi tak terasa panas
Setan dalam hati tertawa
Teringat kejadian semalam
Semua bilang aku salah jalan
Tapi nggak ada satupun yang punya peta

Haripun berlalu…
Tak sadar sudah tahunan
Kemana bidadariku pergi…
Yang bisa menyelamatkanku
Seharusnya dia dari tadi…
sudah berada disini
Malaikat hatiku terbelenggu
Akal sehatku pun mati

Semua orang coba-coba untuk menolong
Tapi terdengar seperti menggonggong

Haripun berlalu…
aku tercebur semakin dalam….

 

—-
Slank 

 

 

 

Seperti digambarkan oleh musik tradisional,
kalian selalu menunggu pemimpin yang akan membawa ke kejayaan,
bukannya tiap orang mengatakan bahwa ia-lah pemimpin yang membawa kepada kejayaan itu.

Pram, cuplikan dialog roman "Bumi Manusia"

June 11, 2007

Kalimat yang Menyentuhku dengan Lembut

Kategori: umum, manusia

Apa kabar sahabat?

Begitulah bunyi dari larik terakhir sebuah sms yang masuk kira-kira 11 jam yang lalu. Kalimat yang sederhana, mungkin diucapkan karena ketulusan, bisa juga sebagai sebuah basa-basi.

Di balik kesederhanaannya, Saya merasakan ada suatu hal yang istimewa darinya. Sebuah perasaan sayang seakan terpancar dari pertanyaan itu. Pertanyaan yang seperti sentuhan lembut, mengalir ke syaraf-syaraf sensorik dalam belahan otak. Peduli dengan keadaan entitas lain adalah suatu keluarbiasaan manakala kita menerima hipotesis bahwa kemanusiaan itu cenderung memiliki karakter yang egois, selfish.

Manusia selalu membutuhkan pengakuan. Eksistensi dan harga diri adalah sesuatu yang mahal dan selalu diperjuangkan oleh manusia dengan beragam bentuk dan caranya. Saya dulu cukup bandel, sering tidak mau nurut sama orang tua atau ustadz di sekolah. Motivasi yang mendasari selalu berasal dari kehausan akan perhatian dan keinginmenangsendirian. Pun, hal itu terjadi saat ini. Saat nilai-nilai kepahaman sudah mencoba untuk mengekspansi wilayah pikir di otak. Tetap, eksistensi dan harga diri selalu ingin menampilkan bentuknya dalam varian-varian tindak-tanduk.

Menekan egoisitas pribadi adalah hal yang bisa jadi sangat sulit. Alangkah bahagianya orang yang bisa terlepas dari kungkungan karakter dasar tersebut. Menyalurkan seluruh energinya untuk kebahagiaan yang menular, menginfeksi orang-orang di sekelilingnya. Friendly and hospitable. Seperti ungkapan seorang penyair Byron, "Untuk berbahagia, seseorang harus berbagi. Kebahagiaan hanya lahir dari kebersamaan".

.....................

REPLY > Saya baik-baik saja. Engkau sendiri?! > OK > SEND

May 31, 2007

Empati

Kategori: manusia

Empati adalah kemampuan menyelami perasaan orang lain tanpa harus tenggelam.
Empati adalah kemampuan dalam mendengarkan perasaan orang lain tanpa harus larut.
Empati adalah kemampuan dalam melakukan respon atas keinginan orang lain yang tak terucap. 

Di zaman ini apakah kita masih bisa merasakan hal tersebut?

Mungkin pernah suatu ketika saya atau anda berpapasan, kita saling kenal, ups maksud saya saling tahu. Tetapi kadangkala melempar senyum atau sebatas say hi saja tidak kita lakukan. Apa yang dipikirkan oleh teman sebelah saya atau anda sekarang pun mungkin kita tidak tahu.

Berapa orang yang sampai detik ini saya dan anda kenal, sampai pikiran dan keinginannya kita sudah tahu tanpa harus berbasa-basi-busa-busa?

Semakin lama semakin sulit mendapatkan ketulusan, semakin lama semakin mahal untuk mendapatkan kepercayaan dan rasa saling mengerti. Zaman kiwari orang koq seperti terhanyut dalam budaya tampak luar. Tak menghargai apa yang berada di dalam sanubari tiap manusia.


Sebenarnya,,, masih adakah rasa empati itu dalam diri kita?!
atau..
Sebenarnya,,, masih perlukah rasa empati itu dalam diri kita?!


May 30, 2007

Donna Donna Donna

Kategori: manusia, syair


On a wagon bound for market
there`s a calf with a mournful eye.
High above him there`s a swallow,
winging swiftly through the sky.

How the winds are laughing,
they laugh with all their might.
Laugh and laugh the whole day through,
and half the summer’s night.

Donna, Donna, Donna, Donna;
Donna, Donna, Donna, Don.
Donna, Donna, Donna, Donna;
Donna, Donna, Donna, Don.

"Stop complaining!“ said the farmer,
Who told you a calf to be?
Why don`t you have wings to fly with,
like the swallow so proud and free?“

Calves are easily bound and slaughtered,
never knowing the reason why.
But whoever treasures freedom,
like the swallow has learned to fly.

 

—-
Joan Baez

May 25, 2007

Tentang Sebuah Gerakan

Kategori: manusia, syair, indonesia

 

Apresiasi yang sangat tinggi untuk mas Wiji Thukul,,
terasa sekali emosi yang meluap dalam setiap bait syairnya

 

 

tadinya pengin bilang
aku butuh rumah
tapi lantas kuganti
dengan kalimat:
setiap orang butuh tanah
ingat: setiap orang! 

aku berpikir tentang
sebuah gerakan
tapi mana mungkin
aku nuntut sendirian?

aku bukan orang suci
yang bisa hidup dari sekepal nasi
dan air sekendi
aku butuh celana dan baju
untuk menutup kemaluanku

aku berpikir tentang gerakan
tapi mana mungkin
kalau diam?

 

—-
Wiji Thukul
1989

 


 

May 20, 2007

Pemuda Loyo dalam Sebuah Drama Kebangkitan*

Orang yang hidup bagi dirinya sendiri
akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil.
Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain
akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.

- Sayyid Quthb -

 

Hari kebangkitan nasional tidak pernah membuat kita bangkit sebenarnya. Sama halnya seperti 99 tahun yang lalu saat para ambtenaar mendirikan Boedi Oetomo (BO). BO didirikan bukan dengan semangat pembangkitan, yang ada, BO malah bersifat sangat a-nasionalis, mendukung dan didukung penjajah, tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka. Maka tidak heran ketika ruh kebangkitan tidak muncul-muncul di kalangan manusia Indonesia. Lha wong yang digunakan adalah simbol penghambaan terhadap kolonialis, bukan simbol kebangkitan.

Semangat kebangkitan biasanya dimulai dengan semangat anti-kemapanan. Mempunyai semangat tinggi, pikiran yang meledak-ledak dan tak kenal batas adalah prasyaratnya. Jika kita telaah sekilas saja, secara logis kita sudah bisa mengatakan bahwa prasyarat tersebut ada pada elemen kaum muda.

Tidaklah berlebihan kiranya ketika sastrawan Pram berujar ”Sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Jika angkatan muda mati rasa, matilah sejarah sebuah bangsa”. Tentu saja kita bisa melakukan studi atas pernyataan tersebut. Kebangkitan suatu kaum, faktanya, adalah kebangkitan kaum mudanya.

Indonesia kini mempunyai stempel besar di dahinya sebagai negara pecundang. Coba kita trace berbagai rekor dunia saat ini. Indonesia kita tercinta pasti akan selalu menempati urutan teratas dalam kategori-kategori yang jelek bin buruk bin mengkhawatirkan. Politik penuh kecurangan-yang-dimaklumi, budaya bangsa yang kian meluntur diterpa arus MTV, Holywood, dan—sialnya—Bollywood. Kebijakan Hankam yang membuat kita tidak aman, ekonomi yang bisa dikendalikan pihak-pihak kapitalis non-Indonesia. Kiranya kita tidak usah panjang-panjang membicarakan keburukan-keburukan tersebut, toh sudah hampir sebagian besar orang Indonesia saat ini dengan bangga melakukannya—penulis berharap untuk tidak dimasukkan dalam golongan tersebut.

Banyaknya permasalahan di negeri ini tidak lepas dari peran kaum mudanya. Predikat pendobrak (agent of change) yang dimiliki kaum muda seakan tidak ada lagi bentuknya, dimakan kultur konsumtif dan hedonis kontemporer. Hitung sajalah berapa orang mahasiswa di kampus anda yang peduli pada nasib dan masa depan bangsa. Masalah dobrak-mendobrak menjadi penting tatkala kita dihadapkan pada wilayah-wilayah stagnan yang menggelayuti seluruh sektor kehidupan bangsa.

Saat ini pragmatisme sudah merasuk dan mengakar dalam hati dan otak. Mahasiswa yang merupakan representasi strata atas kaum muda tidak luput dari trend ini. The last stronghold rupanya juga ikut kepincut janji-janji instan menggiurkan yang dibawa oleh zaman.

Bagaimanapun, kita harus menyadari keadaan yang ada, rekonstruksi lagi pola pikir kita. Pemahaman yang benar akan masalah-masalah riil bangsa menjadi pondasi utama kebangkitan. Turun dan melihat langsung keadaan masyarakat adalah pilihan utama, karena dengan begitu sense of crisis bisa kita bangun dengan baik. Metode seperti ini digunakan oleh pemimpin-pemimpin revolusioner dunia seperti Muhammad SAW, Lenin, Soekarno, bahkan Che.

Pengasahan kapasitas pikir menjadi langkah selanjutnya. Membaca, menulis, berdiskusi. Mahasiswa-pemuda (mari untuk selanjutany kita batasi pada kelompok mahasiswa saja dulu) harus menyadari bahwa gerakan perbaikan dan perubahan harus dimulai dari kerangka logika intelektualitas. Dengan begitu, pertanggungjawaban ilmiah dan kebolehjadian suksesnya kebangkitan menjadi lebih kuat.

Membaca akan memberikan wawasan yang luas. Buku adalah instrumen yang melintas ruang dan waktu. Diskusi jika dilakukan paralel dengan proses membaca akan saling melengkapi dalam ideologisasi pemikiran personal. Kemudian, penerjemahan dari kegelisahan-kegelisahan akan sangat efektif tersampaikan dalam budaya tulis menulis. Berkomunikasi dan melakukan persuasi terhadap orang lain dalam kacamata globalisasi dunia.

Lalu beranjak pada pengambilan konklusi dan pematangan konsep. Melakukan pengasahan intelektualitas dan pendalaman sense of crisis secara paralel akan memberikan nuansa baru bagi paradigma berpikir. Arahkanlah pada ujung yang solutif dalam kerangka konsep yang matang.

Sebagai finishing touch, mahasiswa akan dihadapkan pada pilihan yang menjadi pamungkas: bergerak. Pola pikir dan semangat adalah sumbu dari kebangkitan, pergerakan adalah hulu ledaknya. Solusi yang kita tawarkan haruslah kita sendiri yang mengeksekusi. Mempercayakannya kepada orang lain, atau bergantung pada inisiatif orang lain adalah kebodohan terbesar yang mungkin dilakukan oleh mahasiswa, para muda penggagas kebangkitan.

Ayo kembali bangun rasa kepekaan kita terhadap nasib dan masa depan bangsa ini, tolak untuk menjadi bagian dari sekrup-sekrup kapitalisme global, emoh untuk hanya menjadi calon buruh-bergaji-besar-di-perusahaan-multinasional yang mandul sense of belonging pada bangsa sendiri. Mari coba memahami masalah yang ada, dan memberi solusi atasnya. Membangun mimpi dan menggenapkan ikhtiar. Semoga kita bukanlah angkatan muda yang mati rasa.

 

Mei 2007,
Bukan dalam rangka memperingati harkitnas versi soeharto

 

 

 

* Tulisan ini pernah dimuat dalam buletin Garda Ganesha

April 30, 2007

Pacaran Halal

Kategori: manusia, islam

emoticon emoticon emoticon emoticon emoticon emoticon emoticon emoticon emoticon

Artikel lucu dan menggugah. Saya postkan di sini saja, sekalian nyimpen, daripada di hd pribadi, suka ga dibaca lagi => ga manfaat.

Kalo ada yang mau baca dan menyebarkan silakan-silakan saja, sudah diridloi oleh penulis aslinya emoticon. Mudah-mudahan bisa memberikan manfaat (terutama buat yang berjenis kelamin perempuan emoticon)

 

- – - – - – - 

PACARAN HALAL
Sebagai Proses Penjajakan, Percayalah Kepada Cowok
(tidak mengandung ayat dari kitab agama manapun)

 


Jangan salah persepsi. Tulisan ini sama sekali tidak membenarkan judul di atas. Hanya sebagai umpan untuk menarik perhatian pembaca.

Berdasarkan dari betapa mudahnya wanita diperdaya oleh lelaki/cowok. Bahkan dengan sangat angkuhnya wanita sering berpendapat bahwa dirinya tidak akan mudah termakan rayuan gombal lelaki. Itu benar, karena dimasa sekarang ini tidak ada lelaki yang bibirnya bisa mengucapkan rayuan gombal seperti film-film Indonesia tempoh doeloe. Tetapi dengan pendidikan dan teknologi yang berkembang, metode kami berubah (red:cowok).

Kami bisa memanfaatkan semua SDM dan SDA yang ada di sekitar kami untuk menunjang tegaknya diagnosa “SERIUS” dihadapan target (wanita). Apakah property “nebeng”? Oh tidak! Bahkan hanya dengan kesederhanaan, malah jadi pamungkas yang cukup jitu untuk meluluhkan hati wanita incaran kami. Karena dengan kesederhanaan dan property seadanya, akan mendatangkan kesan ketulusan dan bersahaja. Yang kemudian menimbulkan cinta sepenuh hati, berakibat kepasrahan. Ini fokusnya, kepasrahan yang artinya diriku sepenuhnya kuserahkan padamu, termasuk my virgin (klo masih).

Wahai wanita, tidak semua diantara kami kaum lelaki mengincar hartamu, yang merupakan incaran kami sebenarnya adalah SEX, sejauh mana dirimu memberikan rasa penasaran kepada kami, selama itu pula kami sanggup bersandiwara dengan sekuat tenaga kami. Mengapa kami sebut sandiwara? Karena kami menyimpulkan bahwa yang telah beristeri saja masih banyak yang selingkuh (meski tidak semuanya).

Pernikahan yang kejelasan statusnya dilindungi oleh hukum agama dan UU Negara, masih sering kami injak-injak. Apalagi status pacaran? Yang sama sekali tidak dikuatkan oleh peraturan manapun. Artinya seorang cowok bisa saja berpacaran dengan seribu cewek dalam waktu bersamaan atau sebaliknya. Maka jadilah pemuda-pemudi bangsa ini sebagai pakar zina, dari yang kecil sampai yang besar.

Tapi masalah jadi bangsa apa bukan urusan kami, selagi kami masih bisa menikmati kenikmatan dunia lewat tubuh wanita secara free, maka paradigma “Pacaran sebagai proses penjajakan” akan selalu kami sebarkan dengan cara apapun.

Sex dengan pacar sendiri sangat berbeda rasanya dengan sex dengan pelacur manapun dengan harga pakai berapapun. Sebab wanita yang selalu jadi target kami tentunya bersih, sehat, bebas penyakit menular seks (PMS), terawat dan terdidik.

Soal kaya atau miskin si target itu bisa disesuaikan. Maksudnya apabila kami telah sukses memperdaya hati target, maka keadaan keuangan akan sangat mudah dikendalikan berdasarkan scenario “rasa pengertian” yang kami ciptakan di hati target. Pulsa yang kami keluarkan untuk menjalin kedekatan tidak sebanding dengan kenikmatan yang menanti kami.

Target berjilbab? Bisa sukses bisa juga tidak.
Usaha kami dalam berburu “kenikmatan” terhadap target berjilbab memerlukan beberapa trik tambahan. Tetap bersikap sederhana, apa adanya, bersahaja, pengakuan terhadap kekurangan diri, bersikap humoris dan sedikit bumbu religi yang didapat dari ceramah ustadz-ustadz di televisi bisa jadi referensi tambahan.

Usaha kami sukses terhadap target yang berjilbab yang juga masih berpakaian ketat, sehingga jilbab kadang-kadang hanya menutupi rambutnya dan tidak menutupi ukuran “hardware” indahnya. Kulit target yang halus mulus karena sering tertutup dari polusi udara dan matahari memberikan sensasi yang tidak sama dengan target tidak berjilbab pada umumnya.
Luar biasa

Usaha kami gagal apabila target berjilbab tapi juga berpakaian yang lebar, sehingga tidak tampak keindahannya lewat mata secara fisik, tapi kami sangat yakin dibalik pakaian yang lebar itu tersimpan lebih banyak keindahan. Kami kurang pasti penyebab kegagalan usaha kami terhadap target tersebut, bisa jadi keteguhan target dalam memegang keyakinan bahwa keindahan yang mereka miliki merupakan “harta berharga” yang hanya akan disuguhkan kepada suami mereka nantinya.

Kenyataan yang menggembirakan adalah target “kokoh” semacam ini berjumlah sangat sedikit jika dibandingkan dengan total target “empuk” yang banyak tersedia di sekitar kami.

Pada umumnya target menginginkan “keseriusan”. Ketidaktahuan mereka terhadap makna kata serius ini yang sering kami manfaatkan sebagai peluluh hati mereka. Trik yang kami gunakan bermacam-macam, mulai dari kirim sms yang bertuliskan “Aku serius lho sama kamu”, telepon diatas jam 23.00 (tarif murah) untuk bicara panjang lebar dengan topik yang dipilih secara random. Ini trik yang paling sederhana dan cukup jitu untuk target yang masih lugu atau pura-pura lugu soal keseriusan hubungan. Maksudnya walau target sudah mengerti tentang trik yang kami jalankan dalam meraih target, tapi seiring waktu dan semangat kami yang tidak berputus asa dalam menjalankan skenario, cepat lambat target yang dulunya pura-pura lugu akan luluh akhirnya melihat semangat tulus palsu kami.

Jika tujuan utama kami yaitu tubuh indah target belum didapatkan, maka bukti keseriusan palsu kami dapat dikuatkan dengan memboyong mereka ke orang tua kami atau sebaliknya, kami bersedia diboyong ke orang tua target. Sampai disini saja keberanian kami untuk bermain dengan kata serius, untungnya karena 99% target telah takluk pada level trik ini.

Kenyataan yang juga menggembirakan kami adalah apabila ternyata orang tua kami atau oramg tua target juga memiliki paradigma “Pacaran adalah proses penjajakan” atau “Pacaran adalah proses yang harus dilalui oleh remaja normal”.
Luar biasa
Target yang telah beranggapan bahwa “inilah jodohku”, dengan paradigma ini kami telah mendapatkan kepercayaan penuh dari segala pihak untuk memperlakukan target semau kami. Termasuk menikmati kenyamanan sensasi seks penuh gratisan yang kami tunggu-tunggu selama perjuangan. Tidak perlu buru-buru, karena kami sangat dan sangat memperhatikan situasi, kondisi dan domisili.

Soal dikemudian hari kami bosan dengan target yang sudah habis manisnya karena kami hisap atau muncul target baru yang lebih segar, maka skenario pelepasan diri dapat dijalankan dengan berbagai alasan. Sangat mudah melakukannya mengingat semua manusia memiliki kekurangan, kekurangan inilah yang harus diangkat ke permukaan dan menjadi pokok bahasan yang berlanjut dengan putusnya hubungan. Alasan ketidakcocokan bisa menjadi penangkal pertanyaan orang tua masing-masing pihak.

Putus. Juga merupakan jalan baru bagi kami untuk memulai skenario pengejaran target baru. Tampang berduka, bahkan tampang tegar paska putus pun bisa menjadi pesona di hadapan target baru ini. Tentunya kami tidak meninggalkan trik-trik peluluhan hati yang kami terapkan terhadap target-terget sebelumnya seperti sederhana, tampil apa adanya, bersahaja, sedikit ditambah bumbu humoris karena target pada umumnya ingin dekat dengan orang yang selalu bisa membuatnya tersenyum dalam setiap keadaan. Target selalu ingin merasakan aman, nyaman, disayang, diperhatikan (beberapa). Maka sedaya upaya kami akan ciptakan suasana tersebut hanya didekat kami. Persepsi bahwa di dekat kami maka target merasa aman, nyaman, tenang, tersenyum, dan damai merupakan paradigma yang harus kami ciptakan di dalam kepala target.
Untuk kesekian kalinya kami selalu sukses dalam pencapaian tujuan kami, menjadikan kami sangat berpengalaman dan cerdas dalam program ini, dengan atau tanpa hambatan sama sekali. Sungguh indah dunia ini, dipenuhi dengan target-target berpendidikan tapi bodoh yang menunggu giliran untuk kami habisi.

“Ahh, saya kan gak pernah serius klo pacaran, ngapain takut!”
Jika terget berfikiran seperti kata-kata di atas, maka pemikiran seperti ini juga merupakan peluang besar bagi kami untuk memulai skenario peluluhan hati. Yang kami utamakan lebih dahulu adalah mengadakan ikatan super tidak jelas bernama Pacaran, soal cinta atau tidak, itu cuma masalah waktu. Trik-trik yang kami lancarkan akan mengubah keadaan hati target seiring waktu yang dilalui bersama-sama dan komitmen semu tentang pacaran yang kami atau orang lain ciptakan.

“Ahh, tidak semua cowok seperti itu, cowokku ga gitu and ga mungkin begitu!”.
Kata-kata sejenis ini merupakan tolak ukur keberhasilan skenario BHSP (Bina Hubungan Saling Percaya) yang nantinya menjadi peluang besar untuk mendapatkan tubuh target di kemudian hari. Karena salah satu yang kami ingin bentuk adalah pendapat target bahwa kami adalah cowok yang berbeda dengan cowok pada umumnya.

Jika Anda wanita berpenampilan menarik atau tidak, bertubuh indah baik tertutup atau tidak, mencari keseriusan hubungan, mencari cinta dari sesama manusia tanpa pemahaman yang jelas…
Maka Anda target kami berikutnya

Wahai wanita, ketahuilah bahwa seorang laki-laki yang benar-benar serius terhadapmu akan datang kepada orang tuamu dengan berkata “Pak, saya ingin menikahi putri Bapak, sekarang saya punya penghasilan Rp…../bulan, dst”, sedangkan laki-laki yang benar-benar serius ingin menghabisimu akan datang langsung kepadamu dengan berkata “Maukah kamu jadi pacarku?”.

Puncak kehinaan wanita ketika ia menerima tembakan seorang lelaki untuk jadi kekasihnya.
Puncak kemuliaan wanita ketika orang tua/walinya mempertimbangkan lamaran seorang lelaki untuk jadi isterinya.
Hancurkan harga diri dengan pacaran, muliakan diri dengan …

Tidak ada solusi termuat dalam tulisan ini, meskipun solusinya tertulis tetapi tidak akan menghentikan kegiatan kami, kami hanya bisa berhenti jika semua target mengaplikasikan solusi yang sebenarnya sudah mereka tahu.
Pacaran sebagai proses penjajakan, penjajakan = peng”injak-injakan” atau pen”jaja”an.
Jika Anda belum pacaran, Nantikan kehadiran kami di sisi Anda!
Jika Anda telah putusan, Nantikan juga kehadiran kami di sisi Anda!
Jika Anda masih pacaran, maka tunggu tanggal “main” kami bersama Anda!


Wallahua’lam bisshawab
Cyber City Net 30.10.2006 at 02.22 am

Jika saudara-saudari setuju dengan tulisan penulis yang penuh kekurangan ini, penulis izinkan kopy paste aja n kirim ke teman2 di luaran sana, bebas diedit.
Artikel ekstrem ini asli karangan Admin Cyber City Net,
Merupakan 99% pengakuan diri dari pengalaman hidup dan argumen murni yang keluar dari kepala botaknya,
tanpa saduran dari buku atau website manapun.
Penulis tidak mendapat kerugian atau keuntungan sepeser pun dari tersebarnya artikel ini
Kritik, saran, protes, hinaan dan cacian ditunggu di irgunawan_spk@yahoo.co.id atau irgunawan.spk@gmail.com

- – - – - – -

 

Sahabat Dalam Bungker Yang Sama

Kategori: manusia, kampus

Baiklah, saatnya memperkenalkan sahabat-sahabat seatap yang dengan senang hati mau berkubang bersama dalam kesemrawutan bungker laboratorium DSP untuk merangkai Tugas Akhir (TA) masing-masing.

Secara umum, kehidupan dalam bungker ini sangat liar sekali emoticon becandanya galak-galak, tampol sana tampol sini. Tapi anehnya terus aja rukun.

Yang pertama, berinisial AA. Hobinya nantangin catur, sayangnya skill tidak sebanding dengan kemampuan. Pandai berbual-bual (diartikan dalam bahasa Indonesia) dan narsis. Kata temen-temen, beliau nih kalo serius, mulutnya agak menjorok ke depan emoticon piss ah. Saat ini AA sedang tekun mengerjakan Tugas Akhirnya di komputer sebelah, yaaaah semoga bisa lulus juli ya bro..

Yang kedua berinisial ZA. anak-anak se-lab mempunyai panggilan sayang: ”Si Bolang”. Orang Indonesia bagian Timur. Punya ketahanan mental dan fisik yang prima, cuma yaa itu, suka ngerokok emoticon. Teman yang bisa diandalkan. Si dia juga punya talenta menjadi pendengar yang baik, sehingga ternobatkan menjadi rekan curhat para adik-adik kita di kampus.

Yang ketiga, SW. Kalo ngomong suka nggak kedengeran, kacamatanya tebel, hobi maen bola, pendukung beratnya MU, pinter. Pernah teranugerahi gelar kakak tergalak di ospek jurusan. Yang saya salut dari beliau adalah komitmen dan solidaritasnya. Waktu kita di-os dahulu kala, beliau satu-satunya yang ga pernah absen emoticon. Ok bro, pesen saya mah, jangan gampang marah ya?! Tambah jelek lu emoticon.

Selanjutnya AK. Seorang pemalu yang saat ini menjadi kaisar di lab kami emoticon, programmer ulung. Waktu TPB di tahun pertama kuliah, kita sering maen Winning bareng, dulu sih bertiga, three musketeer kata orang, bersama salah seorang rekan lain. Hwehehe, pokoknya soulmate pisan baheula mah.

MY adalah yang berikutnya. Kalo pernah nonton dorama jepang yang judulnya Kekkon Dekinai Otoko, si MY ini sangat cocok dengan pemeran utama pria di dorama tsb. Perfeksionis, suka musik klasik, hobby masak (katanya kita mau dibikinin spaghetti spesial lho), aktivis tarung derajat emoticon, ketua os Himpunan generasi 2003.

Yang keenam, TN. Jawara Banten, tapi bobotoh setia Persib. Saat ini sedang belajar expert system untuk kelangsungan hidup TA yang bersangkutan. Danlap sangar dari angkatan 2003 Himafi. Satiris yang lembut, cuma sayangnya super usil emoticon. Suka sradak sruduk juga n keliatan kasar, tapi dijamin hatinya baik (huekhuek). Sama seperti SW, TN adalah pecinta MU.

Lalu akhirnya, FC, sang tetua! Sebetulnya doi sudah lulus S1, tapi sudah siap-siap mau melanjutkan S2. Paling tua di antara kita berdelapan, tetapi herannya wajah yang bersangkutan tidak lebih tua dari kami emoticon Apa resepnya sih om?! Suka Momusu, dorama, film2 bermutu tinggi. Agak tertutup tapi orangnya ramah dan hangat, nah lho?!%$#$ Saat ini kita sedang berharap-harap cemas menunggu undangan traktiran dari beliau emoticon.

Begitulah..

Doa Serdadu Sebelum Berperang

Tuhanku,
WajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal

Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia

Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku

Malam dan wajahku
adalah satu warna
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.
Tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari
– biarpun bersama penyesalan -

Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah ?
Sementara kulihat kedua lenganMu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianatiMu

Tuhanku
Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku

 

—-
W.S. Rendra
Mimbar Indonesia
Th XIV, No. 25
18 Juni 1960

 

 

April 18, 2007

Tentang Saya (1) : Introduction

Kategori: manusia, privasi

Sederhana dan tahan lama… :)

Zamzam Badru Zaman

Nama saya Zamzam Badru Zaman, lahir tengah malam jam 12 lewat 12 menit (00:12), terhitung tanggal 3 Juli 1985. Sudah taqdir Allah saya dilahirkan waktu purnama sedang indah-indahnya emoticon, itulah mengapa ada kata ‘Badru’ sebagai nama tengah saya.

Masuk pendidikan sekolah dasar umur 6 tahun. Sekolah full dari pagi sampai sore hari selama kurang lebih 7 tahun (pagi -> siang : MI Tarbiyatul Falah, siang -> sore: TKA Tarbiyatul Falah lalu MD Tarbiyatul Falah), ditambah acara rutin mengaji di masjid sebelah rumah dari ba’da maghrib sampai waktu yang tidak menentu ~> bisa sampai tengah malam emoticon.

Kenangan indah di waktu kecil? Kebanyakan adalah cerita jahil dan kejahatan-kejahatan amatiran sesosok anak-anak yang tidak perlu kiranya diceritakan di sini emoticon.

Masa SLTP dilalui di sebuah lembaga pendidikan milik negera: SLTPN 1 Cicurug. Di sinilah saya mulai mengecap arti ego dan kompetisi. Ehm, cinta monyet pun ikut-ikutan berkembang juga. Saya adalah satu diantara sedikit anak madrasah yang mau masuk ke sekolah ini. Kelas 1 dan 2 di SLTP masih terbilang sangat baik, saya mampu berada di jajaran siswa kelas unggulan. Barulah di perpindahan ke kelas tiga kejatuhan itu terjadi: didepak dari kelas unggulan, peringkat 4 kelas dari belakang, dan pastinya terkucil. Marah, sedih, benci, iri, malu bergabung jadi satu. Jelek memang, tapi itulah yang membuat saya meledak dalam akhir akademik yang manis di jenjang SLTP

Berlanjut kemudian ke SMUN 1 Sukabumi. Seorang badung yang tukang kesiangan akhirnya terperosok ke jurang rohis sekolah. Di Rohis ini perubahan pola pikir ke arah (yang semoga memang benar2) lebih baik terjadi dalam diri saya, proses pencarian jati diri dimulai di sini. Jadi, ceritanya akan cukup panjang untuk nanti diceritakan kembali di postingan berikutnya emoticon.

Akhirnya kampus ITB jadi tempat singgah berikutnya. Program studi Fisika, alhamdulillah  (sayang sekali banyak yang mengira saya salah masuk jurusan emoticon). Kehidupan kampus saat ini saya jalani dengan keberagaman perilaku yang indah dan mencerahkan.

Yup, inilah sekelumit cerita tentang makhluq faqir yang sedang belajar..

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main