ITB yang makin gemulai..
Sebuah kalimat yang terucap dari seorang temen..
Benarkah?!
Hmmmm….
Ga bisa menggenaralisir sih, tapi makin lama anak-anaknya emang makin penurut. perempuannya makin banyak, laki-lakinya makin metro (hahahaha).
Saya amati dari beberapa fakta sejarah. mulai dari ospek yang dulu keras bangget, seringnya tawuran, rapat bentak-sana bentak-sini, kursi2 melayang, ngeyel sama soknya minta ampun
Pokoknya maskulin dah!
Kalo sekarang kan ospek isinya seminar-seminar aja, rapat malem yang intimidatif udah jarang, tawuran ga pernah kedengeran lagi, kompromistis, pejantannya dandy n wangi..
Trus?!
Apa ini salah?
Well, i dunno..
Asal anak cowoknya ga pada maen boneka ajalah
Hahahahaha…
(more…)
April 18, 2008
February 17, 2008
ITB Yang Makin Gemulai..
February 2, 2008
Sidang Chapter 1
Jumat, 1 februari 2008, dimulai jam 9.00 berakhir jam 09.45
Berlokasi di 1205, bersebelahan dengan bengkel.
(more…)
December 5, 2007
Kepemimpinan Perempuan
Perempuan. Aku benar-benar ingin tahu bagaimana sebenarnya Engkau..
(more…)
November 20, 2007
Yang Terjadi di Tempat Gelap
And i dont want the world to see me
(GGD – Iris)
Tepatnya jangan kepergok! Seperti maling. Zaman dulu, saat masih angkatan muda, saat masih semangat-semangatnya, masih fresh!
Jangan kepergok karena kalau kepergok bisa berbahaya. Haha.. Malam-malam ngampus sekitaran jam 2, terus beraksi jam 3-an sampe jam setengah 5. Keliling dari tembok satu ke tembok yang lain, dari papan pengumuman satu ke papan pengumuman lain. Semua gedung, bahkan mushola dan kamar mandi biasanya tak luput dari polesan karya-karya eksentrik.
Perekat yang kuat tentu saja jadi bahan yang tak boleh disepelekan. Provokasi kreatif harus mantap. Kelincahan dan pengenalan medan, kapan satpam berkeliling misalnya, harus diperhitungkan. Moment harus pas, isu yang dibawa kudu menggelitik. Kalau ngajak sekutu, harus yang loyal, ga bocor orangnya.
Banyak hal yang harus disiapin, tapi yang paling penting: mental. Mental? ya, mental, karena beresiko. Resiko? Mungkin ditelanjangin atawa diiket di tiang basket bisa jadi yang minimal.
Pernah hampir kepergok. Beraksi kesiangan alias hampir shubuh. Untung pernah belajar beladiri, sehingga masih bisa melakukan perlawanan. Alhamduillah, bisa menang dan identitas tidak terbongkar, padahal saat itu hanya satu jurus yang dikeluarkan, jurus sakti mandraguna – pilih tanding: Melangkah Tanpa Bayangan (lebih terkenal di kalangan awam dengan istilah ‘kabur’ atau ‘lari’)
Seru. Menegangkan. Indah. Memorable.
Hmmmm.. Sekarang adek-adek masih suka ‘begituan’ ga ya?!
May 3, 2007
Menyoal Kompetensi Mahasiswa dalam Konteks Pergerakan yang Kontinu
Sejarah dunia adalah sejarah orang muda.
Jika angkatan muda mati rasa, matilah sejarah sebuah bangsa.
- Pramoedya Ananta Toer -
Masih ingat 1998? Euforia gerakan kemahasiswaan dalam penumbangan rezim penguasa yang otoriter. Terlepas dari penilaian gagal atau tidaknya gerakan tersebut untuk mencapai sistem kenegaraan Indonesia yang ideal, namun harus kita akui bahwa gerakan tersebut mampu memberikan nuansa geliat anak muda kuliahan yang telah mengaktualisasi gerakannya dalam ranah praksis yang kontributif bagi bangsa.
Hakikatnya gerakan mahasiswa adalah gerakan yang berlandaskan intelektualisme (intellectual movement). Sebagai insan ilmiah, mahasiswa harus bisa mengonsep gerakannya dalam kaidah-kaidah yang logis dan rasional, jauh dari kesan emosional, dan destruktif. Menurut perspektif penulis, dalam konteks gerakannya, mahasiswa ditopang oleh empat pilar utama yang menjadi kompetensi dasar, yaitu membaca (reading), menulis (writing), berdiskusi (discussion), dan pewarisan nilai (kaderisasi, forming of cadres).
Membaca adalah satu faktor penting yang sangat menentukan dalam transformasi pola pikir. Salah satu negarawan dan pemikir besar kita, Bung Karno, adalah seorang yang cinta membaca dan memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi-koleksi buku yang luar biasa; atau seorang Tan Malaka yang kabur ke Rusia di zaman pergolakan tanpa membawa apa-apa yang berharga kecuali sepeti besar buku untuk dibaca; juga seorang Bill Clinton yang kabarnya mampu menghabiskan dua buku tebal dalam hitungan beberapa hari.
Pergolakan isu saat ini berubah dengan sangat cepat, hal ini harus diimbangi oleh kualitas interpersonal mahasiswa yang mumpuni dalam hal wawasan dan kemampuan berwacana. Kedua hal ini bisa didapatkan dengan cara membaca; koran, majalah, tabloid dan lain sebagainya. Kiranya kesibukan bukanlah alasan yang menyebabkan kita tidak membaca, luangkanlah waktu barang sejam atau dua jam sehari untuk membaca.
Pilar kedua, mahasiswa harus mampu dan terbiasa untuk melontarkan opini, ide atau gagasannya dalam bentuk tulisan. Hal ini menjadi penting manakala gerakan mahasiswa ditujukan untuk sasaran yang massif dan global, tulisan-tulisan yang dicetak dalam bentuk media publik akan bisa dibaca oleh banyak orang dari berbagai kalangan, sehingga eskalasi gerakan bisa lebih cepat dan meluas, tak hanya lokal, tapi juga menasional, bahkan bisa menembus batas mancanegara.
Suatu ideologi ataupun pemikiran akan bisa terabadikan dalam bentuk tulisan, banyak contoh bisa disebut, diantaranya das Kapitalnya Marx yang dijadikan pegangan paham kaum komunis; teori kontroversial evolusi Darwin yang dituliskan dalam The Origin of The Species; atau jangan jauhjauh, hampir semua agama-agama besar di dunia mengabadikan ajarannya dalam bentuk tulisan pada kitab sucinya masing-masing.
Suatu kegembiraan besar ketika para mahasiswa sudah terbiasa melontarkan ide-ide dalam tulisan, menyuarakan opini dalam ruang gerak yang lebih luas dan bisa diakses dengan mudah. Bukankah orang bilang sebatang pena lebih tajam daripada sebilah pedang?
Pilar ketiga, berdiskusi. Instrumen diskusi mempunyai kemampuan yang powerfull dalam menganalisa masalah dan mengejawantahkan solusi konkritnya.
Dalam berdiskusi kita akan mendapat input-input yang berharga bagi pola pemikiran dan pola pergerakan yang matang dan intelek, akan ada share ide, juga akan ada proses pengujian terhadap suatu kualifikasi paham atau opini tertentu. Lebih dari itu fungsi psikologis akan sangat nampak disini, dengan proses seperti ini akan terjalin kedekatan emosional antar elemen yang akan mempermudah setiap mobilitas pergerakan.
Pilar keempat, kaderisasi. Aktivisme mahasiswa adalah sesuatu yang terbatas, terutama oleh waktu kuliah. Seorang mahasiswa yang telah lulus dan terjun langsung di masyarakat tak bisa lagi disebut aktivis mahasiswa, lahan dan potensi gerakannya menjadi jauh berbeda. Oleh karena itu, perlu ada pewarisan nilai-nilai idealisme terhadap para junior (adik kelas) sehingga kontinuitas gerakan bisa terjaga.
Harapan penulis, semoga gerakan kemahasiswaan akan selalu berada pada koridor idealisme intelektul dan memihak kepada kepentingan rakyat. Menjadi suatu kekecewaan manakala gerakan ini disusupi oleh motif dan cara yang tidak bisa dipertanggungjawabkan di depan mimbar intelektualisme.
April 30, 2007
Sahabat Dalam Bungker Yang Sama
Baiklah, saatnya memperkenalkan sahabat-sahabat seatap yang dengan senang hati mau berkubang bersama dalam kesemrawutan bungker laboratorium DSP untuk merangkai Tugas Akhir (TA) masing-masing.
Secara umum, kehidupan dalam bungker ini sangat liar sekali
becandanya galak-galak, tampol sana tampol sini. Tapi anehnya terus aja rukun.
Yang pertama, berinisial AA. Hobinya nantangin catur, sayangnya skill tidak sebanding dengan kemampuan. Pandai berbual-bual (diartikan dalam bahasa Indonesia) dan narsis. Kata temen-temen, beliau nih kalo serius, mulutnya agak menjorok ke depan
piss ah. Saat ini AA sedang tekun mengerjakan Tugas Akhirnya di komputer sebelah, yaaaah semoga bisa lulus juli ya bro..
Yang kedua berinisial ZA. anak-anak se-lab mempunyai panggilan sayang: ”Si Bolang”. Orang Indonesia bagian Timur. Punya ketahanan mental dan fisik yang prima, cuma yaa itu, suka ngerokok
. Teman yang bisa diandalkan. Si dia juga punya talenta menjadi pendengar yang baik, sehingga ternobatkan menjadi rekan curhat para adik-adik kita di kampus.
Yang ketiga, SW. Kalo ngomong suka nggak kedengeran, kacamatanya tebel, hobi maen bola, pendukung beratnya MU, pinter. Pernah teranugerahi gelar kakak tergalak di ospek jurusan. Yang saya salut dari beliau adalah komitmen dan solidaritasnya. Waktu kita di-os dahulu kala, beliau satu-satunya yang ga pernah absen
. Ok bro, pesen saya mah, jangan gampang marah ya?! Tambah jelek lu
.
Selanjutnya AK. Seorang pemalu yang saat ini menjadi kaisar di lab kami
, programmer ulung. Waktu TPB di tahun pertama kuliah, kita sering maen Winning bareng, dulu sih bertiga, three musketeer kata orang, bersama salah seorang rekan lain. Hwehehe, pokoknya soulmate pisan baheula mah.
MY adalah yang berikutnya. Kalo pernah nonton dorama jepang yang judulnya Kekkon Dekinai Otoko, si MY ini sangat cocok dengan pemeran utama pria di dorama tsb. Perfeksionis, suka musik klasik, hobby masak (katanya kita mau dibikinin spaghetti spesial lho), aktivis tarung derajat
, ketua os Himpunan generasi 2003.
Yang keenam, TN. Jawara Banten, tapi bobotoh setia Persib. Saat ini sedang belajar expert system untuk kelangsungan hidup TA yang bersangkutan. Danlap sangar dari angkatan 2003 Himafi. Satiris yang lembut, cuma sayangnya super usil
. Suka sradak sruduk juga n keliatan kasar, tapi dijamin hatinya baik (huekhuek). Sama seperti SW, TN adalah pecinta MU.
Lalu akhirnya, FC, sang tetua! Sebetulnya doi sudah lulus S1, tapi sudah siap-siap mau melanjutkan S2. Paling tua di antara kita berdelapan, tetapi herannya wajah yang bersangkutan tidak lebih tua dari kami
Apa resepnya sih om?! Suka Momusu, dorama, film2 bermutu tinggi. Agak tertutup tapi orangnya ramah dan hangat, nah lho?!%$#$ Saat ini kita sedang berharap-harap cemas menunggu undangan traktiran dari beliau
.
Begitulah..
