Soliter

April 18, 2008

Pindahan Yuk Kawan…

Yuk mari ke..

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

Yuk ah.. 

March 10, 2008

Miskin

Kategori: manusia, indonesia

Karena lapar, anak pintar itu bunuh diri. Teguh, 11 tahun, menggantung lehernya.

Hal di atas sudah semakin sering terdengar di telinga. Tukang gorengan yang bunuh diri karena kedelai naik, anak SD yang memutuskan mati karena tidak bisa membayar SPP, ada juga yang gantung diri setelah diledek anak tukang bubur oleh teman-temannya.

Kemiskinan telah menjadi momok yang menghancurkan sendi moral dan kepribadian kita.Hampir 40 juta orang di republik ini yang mungkin semenderita Teguh. Faktor makanan menyumbang kriteria terbesar, 75 persen. Dengan kata lain, sejumlah 30 juta orang sedang kelaparan saat ini. Di sini, Republik Indonesia, sangat mungkin di depan hidung anda sendiri.

Saya selalu berpikir, alangkah berdosanya para pejabat publik kita. Di saat ada rakyatnya yang mati karena kelaparan, mereka masih sempat meminta kenaikan gaji ratusan persen, mereka masih tega mentilap uang publik untuk dimakan sendiri. Padahal mereka hapal dengan cerita seorang Umar yang pernah dengan sangat ketakutan, memanggul sendiri bahan makanan untuk rakyatnya yang kelaparan di malam hari.

Pun saya selalu merasa berdosa. Seorang yang mengaku setanahair dengan orang-orang tak beruntung di atas, mengaku seagama, mengaku sebagai belahan jantung sesama saudara, telah tega mengacuhkan sekitar. Telah tidak tanggap untuk sekedar memberikan uluran tangan yang sebenarnya juga sama pendek ini. Dimanakah sebenarnya disimpan hati ini?

Kemudian para teoritis ramai membicarakan solusi-solusi mereka. Proteksionisme, subsidi, privatisasi BUMN, pinjam uang lagi, dll, dsb, dkk. Sudah terlalu banyak solusi, tak ada hasil yang bisa mata ini lihat.

Oh maaf, saya salah. Hasilnya ada. Teguh adalah salah satu diantaranya.

[Akhirnya, tak ada jajaran karangan bunga untukmu, tak ada buku ditulis, tak ada pembagaian rupiah dalam rangka selamatan, tak ada ucapan duka dan liputan besar-besaran di tv dan di koran. Akankah kau cemburu (Teguh)?]

 

 

 

 

 

_belajarmenulis
http://belajarmenulis.wordpress.com/2008/03/10/miskin/

February 15, 2008

Selamat Pagi Indonesia

Kategori: syair, indonesia

sedetik yang lalu adalah masa yang sudah lewat,
mari kita hidup dalam detik ini,
detik di mana kita bisa mengolah hidup,
menyambut masa depan yang lebih cerah..
(more…)

January 27, 2008

Selamat Jalan Bung!

Kematian Paman Gober
Oleh: Seno Gumira Ajidarma


Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang
bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk
Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal :
apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat,
terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya
berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang disana,
segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah
berhenti bertambah.

Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal lagi pabrik apa
saja yang dimilikinya. Bila terlihat pabrik di depan matanya, ia hampir
selalu berkata, "oh, aku lupa, ternyata aku punya pabrik sepatu."
Kejadian semacam ini terulang di muka pabrik sandal, pabrik rokok,
pabrik kapal,pabrik arloji, maupun pabrik tahu-tempe. Boleh dibilang,
hampir tidak ada pabrik yang tidak dimiliki Paman Gober. Ibarat kata,
uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman Gober.

Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder no.1, Paman Gober adalah
bebek yang sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal bebek, ia
tidak pernah mewmberi bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras
malah Donal ini, beserta keponakan-keponakan nya Kwak, Kwik, dan Kwek,
hamper selalu diperas tenaganya, dicuri gagasannya, dan hasilnya tidak
pernah dibagi. Cendekiawan jenius Kota Bebek, Lang Ling Lung, yang
dimuka rumahnya tertera papan nama Penemu, Bisa Ditunggu, pun hamper
selalu diakalinya.

Sudah berkali-kali Gerombolan Siberat, tiga serangkai kelas kakap,
menggarap gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada
dipihak Paman Gober. Pman Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi Hitam,
tukang tenung yang suka terbang naik sapu. Sudah beberapa kali Mimi
Hitam berhasil merebut Keping Keberuntungan, jimat Pman Gober, namun
keping uang logam kumuh itu selalu berhasil direbut kembali. Tidak bisa
dipungkiri, Paman Gober memang pekerja keras. Masa mudanya habis
dilorong-lorong gua emas. Sebuah gunung emas yang ditemukannya menjadi
modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak tersaingi
dari Kota Bebek.

Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek, sesepuh Kota Bebek yang
mengasingkan ke sebuah pertanian jauh di luar kota, addalah kenyataan
bahwa Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia. Pman Gober menjadi
legenda yang disukai. Pman Gober begitu rakus. Pman Gober begitu pelit.
Tapi ia tidak dibenci. Setiap kali ada orang mengecam,menyaingi,
pokoknya mengancam reputasi Paman Gober sebagai orang kaya, justru orang
itu tidak mendapat simpati. Paman Gober bisa menangis tersedu-sedu meski
hanya kehilangan uang satu sen. Ia sama sekalli bukan tokoh teladan,
tapi mengapa ia bisa begitu dicintai?
"Dunia sudah jungkir balik," ujar Nenek Bebek kepada Gus Angsa, yang
meski suka makan banyak, sangat malas bekerja. Namun Gus Angsa sudah
tertidur sembari bermimpi makan roti apel.

"Suatu hari dia pasti mati," ujar Kwik.

"Memang pasti, tapi kapan?" Kwak menyahut.

"Kwek!" Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek. Dasar bebek.

Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donal, membawa Koran itu
dari depan pintu ke ruang tengah.

"Belum mati juga!"

Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang tiada
lagi berita yang bisa dibaca di Koran. Banyak kabar, tapi bukan berita.
Bnyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan
pengetahuan. Koran-korantelah menjadi kertas, bukan media.

Semua bebek memang menunggu kematian Pman Gober. Itulah kabar terbaik
yang mereka harapkan terbaca. Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap
untuk mati. Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, umurnya cukup
uzur. Untuk kuburanya sendiri, ia telah membeli sebuah bukit, damn
membangun mausoleum di tempat itu. Jadi, bukanya Paman Gober tidak mau
mati. Ia sudah siap untuk mati.

"Mestinya, bebek seumur saya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap
masuk ke liang kubur. Makanya, ketika saya diminta menjadi Ketua
Perkumpulan Unggas Kaya, saya merasakan kegetiran dalam hati saya,
sampai beberapa lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang
mampu menjadi ketua?"

Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan Batin
Gober Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses.
Hampir setiap bab dalam buku itu mangisahkan bagaimana Paman Gober
memeburu kekayaan. Mulai dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai
sayuran yang membuat bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah
tambahan. Bab terakhir diberi judul Sampai Kapan Saya Berkuasa?. Memang,
Paman Gober adalah ketua terlama Perkumpulan Unggas Kaya. Entah kenapa,
ia selalu terpilih kembali, meski pemilihan selalu berlangsung
seolah-olah demokratis. Begitu seringnya ia terpilih, sampai-sampai
seperti tidak ada calon yang lain lagi.

"Terlalu, masak tidak ada bebek lain?"

Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-bebek
menjadi takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan terl;alu kaya.
Setiap hari yang dilakukannya adalah mandi uang. Ketika Donal Bebek
bertanya dengan kritis, mengapa Paman Gober tidak pernah peduli kepada
tetannga, bantuan keuangannya kepada Donal segera dihentikan.

"Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula."

"Apakah saya tidak punya hak bicara?"

"Bisa, tapi janngan asal meleter, nanti kamu aku sembelih."

"Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan manusia."

"Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari manusia."

"Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan manusia?"

"Yang jelas manusia bisa makan manusia."

"Tapi Pman mau menyembelih sesame bebek, apakah sudah mau meniru sifat
manusia?"

Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober suka memelihara
musuh-musuh yang tidak pernah bisa mengalahkannya itu, justru untuk
menunjukkan kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televise. Kalau
Paman Gober sudah bicara, kamera tidak berani putus, meskipun
kalimat-kalimatnya membuat bebek tertidur. Paman Gober selalu
menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya, dan Paman Gober juga
semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga Kota Bebek.

"Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur, dan monument, apa
jadinya Kota Bebek?"

Tidak ada yang berani melawan. Tidak ada yang berani bicara.

"Paman Gober," kata Donal suatu hari, kenapa Paman tidak mengundurkan
diri saja, pergi ke pertanian seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan
arti hidup? Sudah waktunya Pman tidak terlibat lagi dengan urusan
duniawi."

"Lho, aku mau saja Donal. Aku mau hidup jauh dari Kota Bebek ini.
Memancing, main golf, makan sayur asem, dan membaca butir-butir falsafah
hidup bangsa bebek. Tapi, apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan? Apa
mungkin aku menolak kehormatan yang segenap unggas? Terus terang,
sebenarnya sih aku lebih suka mengurus peternakan."

Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan. Demokrasi
berjalan, tapi tidak memikirkan pimpinan, karena memang hanya ada atu
pemimpin. Segenap pengurus bisa dipilih berganti-ganti, namun kedudukan
Paman Gober tidak pernah dipertanyakan. Para pelajar seperti Kwik, Kwek,
dan Kwak menjadi bingung bila membandingkannya dengan sejarah
kepemimpinan kota lain. Kota Bebek seolah-olah memiliki pemimpin abadi.
Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa bahkan sudah tidak
mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang bisa diganti. Mereka pikir
keabadian Paman Gober sudah semestinya.

Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman Gober. Riwayat hidup
Paman Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek
terkaya yang sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru. Nenek
Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan, yang mestinya semakin
canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda ingin
meniru Paman Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau bisa paling
kaya di dunia.

"Paling kaya di dunia?" Kwak bertanya.

" Iya, paling kaya di dunia," jawab Nenek Bebek.

"Apakah itu hakikat hidup bebek?"

"Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober."

Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih terus
menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. Matanya
telah rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia
bagai tak tergantikan.

Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa
dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota
Bebek membuka koran, yang ingin meraka ketahui hanya satu : apakah hari
nin Paman Gober sudah mati. Seriap pagi mereka berharap akan membaca
berita Kematian Paman Gober, dihalaman pertama.



Jakarta, 16 Agustus 1994

 

  

 

     

 

 

 

      

 

    



Jend (Purn) H.M. Soeharto
In memoriam, 8 Juni 1921 – 27 Januari 2008

December 24, 2007

Mengklaim Budaya Sendiri

Kategori: indonesia, budaya

Berbicara mengenai budaya. Berbicara mengenai keragaman dengan segala kompleksitasnya.
(more…)

August 5, 2007

Indonesia Raja

Kategori: syair, indonesia



(more…)

June 17, 2007

Bidadari Penyelamat

Kategori: manusia, syair, indonesia

 

Ratu adil?

 

6.30 pagi…
aku sudah terbangun
Matahari bersinar…
tapi tak terasa panas
Setan dalam hati tertawa
Teringat kejadian semalam
Semua bilang aku salah jalan
Tapi nggak ada satupun yang punya peta

Haripun berlalu…
Tak sadar sudah tahunan
Kemana bidadariku pergi…
Yang bisa menyelamatkanku
Seharusnya dia dari tadi…
sudah berada disini
Malaikat hatiku terbelenggu
Akal sehatku pun mati

Semua orang coba-coba untuk menolong
Tapi terdengar seperti menggonggong

Haripun berlalu…
aku tercebur semakin dalam….

 

—-
Slank 

 

 

 

Seperti digambarkan oleh musik tradisional,
kalian selalu menunggu pemimpin yang akan membawa ke kejayaan,
bukannya tiap orang mengatakan bahwa ia-lah pemimpin yang membawa kepada kejayaan itu.

Pram, cuplikan dialog roman "Bumi Manusia"

May 28, 2007

Mengapa-nya Sekolah

Kategori: umum, indonesia

Mengapa masih harus ada bimbel non-sekolah?

Mengapa banyak dosen yang kerjanya hanya proyekan?

Mengapa ada guru merangkap tukang ojek? 

Mengapa guru gajinya kecil? 

Mengapa kuliah harus pake sepatu?

Mengapa sekolah dasar dan menengah harus pake seragam? 

Mengapa sekolah harus bayar mahal?

. . . 

Mengapa pendidikan tidak lagi mencerahkan?

 

May 25, 2007

Tentang Sebuah Gerakan

Kategori: manusia, syair, indonesia

 

Apresiasi yang sangat tinggi untuk mas Wiji Thukul,,
terasa sekali emosi yang meluap dalam setiap bait syairnya

 

 

tadinya pengin bilang
aku butuh rumah
tapi lantas kuganti
dengan kalimat:
setiap orang butuh tanah
ingat: setiap orang! 

aku berpikir tentang
sebuah gerakan
tapi mana mungkin
aku nuntut sendirian?

aku bukan orang suci
yang bisa hidup dari sekepal nasi
dan air sekendi
aku butuh celana dan baju
untuk menutup kemaluanku

aku berpikir tentang gerakan
tapi mana mungkin
kalau diam?

 

—-
Wiji Thukul
1989

 


 

May 20, 2007

Pemuda Loyo dalam Sebuah Drama Kebangkitan*

Orang yang hidup bagi dirinya sendiri
akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil.
Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain
akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.

- Sayyid Quthb -

 

Hari kebangkitan nasional tidak pernah membuat kita bangkit sebenarnya. Sama halnya seperti 99 tahun yang lalu saat para ambtenaar mendirikan Boedi Oetomo (BO). BO didirikan bukan dengan semangat pembangkitan, yang ada, BO malah bersifat sangat a-nasionalis, mendukung dan didukung penjajah, tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka. Maka tidak heran ketika ruh kebangkitan tidak muncul-muncul di kalangan manusia Indonesia. Lha wong yang digunakan adalah simbol penghambaan terhadap kolonialis, bukan simbol kebangkitan.

Semangat kebangkitan biasanya dimulai dengan semangat anti-kemapanan. Mempunyai semangat tinggi, pikiran yang meledak-ledak dan tak kenal batas adalah prasyaratnya. Jika kita telaah sekilas saja, secara logis kita sudah bisa mengatakan bahwa prasyarat tersebut ada pada elemen kaum muda.

Tidaklah berlebihan kiranya ketika sastrawan Pram berujar ”Sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Jika angkatan muda mati rasa, matilah sejarah sebuah bangsa”. Tentu saja kita bisa melakukan studi atas pernyataan tersebut. Kebangkitan suatu kaum, faktanya, adalah kebangkitan kaum mudanya.

Indonesia kini mempunyai stempel besar di dahinya sebagai negara pecundang. Coba kita trace berbagai rekor dunia saat ini. Indonesia kita tercinta pasti akan selalu menempati urutan teratas dalam kategori-kategori yang jelek bin buruk bin mengkhawatirkan. Politik penuh kecurangan-yang-dimaklumi, budaya bangsa yang kian meluntur diterpa arus MTV, Holywood, dan—sialnya—Bollywood. Kebijakan Hankam yang membuat kita tidak aman, ekonomi yang bisa dikendalikan pihak-pihak kapitalis non-Indonesia. Kiranya kita tidak usah panjang-panjang membicarakan keburukan-keburukan tersebut, toh sudah hampir sebagian besar orang Indonesia saat ini dengan bangga melakukannya—penulis berharap untuk tidak dimasukkan dalam golongan tersebut.

Banyaknya permasalahan di negeri ini tidak lepas dari peran kaum mudanya. Predikat pendobrak (agent of change) yang dimiliki kaum muda seakan tidak ada lagi bentuknya, dimakan kultur konsumtif dan hedonis kontemporer. Hitung sajalah berapa orang mahasiswa di kampus anda yang peduli pada nasib dan masa depan bangsa. Masalah dobrak-mendobrak menjadi penting tatkala kita dihadapkan pada wilayah-wilayah stagnan yang menggelayuti seluruh sektor kehidupan bangsa.

Saat ini pragmatisme sudah merasuk dan mengakar dalam hati dan otak. Mahasiswa yang merupakan representasi strata atas kaum muda tidak luput dari trend ini. The last stronghold rupanya juga ikut kepincut janji-janji instan menggiurkan yang dibawa oleh zaman.

Bagaimanapun, kita harus menyadari keadaan yang ada, rekonstruksi lagi pola pikir kita. Pemahaman yang benar akan masalah-masalah riil bangsa menjadi pondasi utama kebangkitan. Turun dan melihat langsung keadaan masyarakat adalah pilihan utama, karena dengan begitu sense of crisis bisa kita bangun dengan baik. Metode seperti ini digunakan oleh pemimpin-pemimpin revolusioner dunia seperti Muhammad SAW, Lenin, Soekarno, bahkan Che.

Pengasahan kapasitas pikir menjadi langkah selanjutnya. Membaca, menulis, berdiskusi. Mahasiswa-pemuda (mari untuk selanjutany kita batasi pada kelompok mahasiswa saja dulu) harus menyadari bahwa gerakan perbaikan dan perubahan harus dimulai dari kerangka logika intelektualitas. Dengan begitu, pertanggungjawaban ilmiah dan kebolehjadian suksesnya kebangkitan menjadi lebih kuat.

Membaca akan memberikan wawasan yang luas. Buku adalah instrumen yang melintas ruang dan waktu. Diskusi jika dilakukan paralel dengan proses membaca akan saling melengkapi dalam ideologisasi pemikiran personal. Kemudian, penerjemahan dari kegelisahan-kegelisahan akan sangat efektif tersampaikan dalam budaya tulis menulis. Berkomunikasi dan melakukan persuasi terhadap orang lain dalam kacamata globalisasi dunia.

Lalu beranjak pada pengambilan konklusi dan pematangan konsep. Melakukan pengasahan intelektualitas dan pendalaman sense of crisis secara paralel akan memberikan nuansa baru bagi paradigma berpikir. Arahkanlah pada ujung yang solutif dalam kerangka konsep yang matang.

Sebagai finishing touch, mahasiswa akan dihadapkan pada pilihan yang menjadi pamungkas: bergerak. Pola pikir dan semangat adalah sumbu dari kebangkitan, pergerakan adalah hulu ledaknya. Solusi yang kita tawarkan haruslah kita sendiri yang mengeksekusi. Mempercayakannya kepada orang lain, atau bergantung pada inisiatif orang lain adalah kebodohan terbesar yang mungkin dilakukan oleh mahasiswa, para muda penggagas kebangkitan.

Ayo kembali bangun rasa kepekaan kita terhadap nasib dan masa depan bangsa ini, tolak untuk menjadi bagian dari sekrup-sekrup kapitalisme global, emoh untuk hanya menjadi calon buruh-bergaji-besar-di-perusahaan-multinasional yang mandul sense of belonging pada bangsa sendiri. Mari coba memahami masalah yang ada, dan memberi solusi atasnya. Membangun mimpi dan menggenapkan ikhtiar. Semoga kita bukanlah angkatan muda yang mati rasa.

 

Mei 2007,
Bukan dalam rangka memperingati harkitnas versi soeharto

 

 

 

* Tulisan ini pernah dimuat dalam buletin Garda Ganesha

April 30, 2007

Doa Serdadu Sebelum Berperang

Tuhanku,
WajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal

Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia

Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku

Malam dan wajahku
adalah satu warna
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.
Tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari
– biarpun bersama penyesalan -

Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah ?
Sementara kulihat kedua lenganMu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianatiMu

Tuhanku
Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku

 

—-
W.S. Rendra
Mimbar Indonesia
Th XIV, No. 25
18 Juni 1960

 

 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main