Soliter

April 18, 2008

Pindahan Yuk Kawan…

Yuk mari ke..

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

Yuk ah.. 

February 26, 2008

Absen

Kategori: manusia, privasi, budaya

Penggunaan istilah absensi seringkali tertukar dengan presensi. Absensi secara harfiah berarti ketidakhadiran berakar dari kata dasar absen yang artinya tidak hadir. Sedangkan presensi berarti kehadiran, berasal dari noun bahasa inggris present yang artinya hadir.

“isi nama tuh di absensi”. Kalimat yang ditujukan untuk menyuruh seseorang yang hadir pada sebuah kegiatan untuk membubuhkan tanda kehadirannya pada daftar ketidakhadiran. Kesalahan penggunaan istilah yang cukup fatal bukan? paling tidak secara logika bahasa.

Istilah yang tepat, presensi, memang agak asing di telinga. Namun, apa salahnya kita coba untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya? Mari kita tidak lagi terus menerus mendzalimi diri kita sendiri.

Oya, siang tadi saya seharusnya mengisi lembar absensi.











dimuat juga di http://belajarmenulis.wordpress.com/

 

Kesetaraan

Kategori: manusia, islam, budaya

Jadi teringat awal masuk kuliah dahulu. Bertemu dengan suasana Masjid Kampus yang asri. Tak hanya asri, Masjid ini memberikan suatu pelajaran baru yang berharga bagi saya.

Biasanya di kampung saya, atau di sebelah kampung saya, atau di sebelah sebelah kampung saya, masjid akan dilengkapi dengan sajadah-sajadah minimal karpet. Tetapi yang jelas, pasti ada sajadah untuk imam. Sajadah paling bagus, paling tebel. Adalah sesuatu yang baru saat di kampus ini, masjid tidak dilengkapi dengan sajadah, bahkan untuk imam.

Saya terus memikirkannya. Kesimpulan sementara, saya melihat adanya prinsip kesetaraan yang diperlihatkan dari samanya alasan untuk sholat. Alas sholat jamaah sama dengan imamnya, tak lebih bagus, tak lebih tebal, tak lebih tinggi.

Di masjid dekat dengan kost saya, setiap maghrib, isya dan shubuh selalu saya temui imam muda yang di kemudian hari begitu saya kagumi. Bacaan AlQur’an saat dia mengimami sholat sungguh sangat bagus, tartil dan indah sekali langgamnya, sering membuat titik air mata turun dari pelupuknya. Penyesalan saya adalah sampai saat ini saya tak tahu namanya, yang saya tahu dia masih berstatus mahasiswa, angkatan 98.

Ada satu hal yang selalu saya perhatikan darinya. Masjid dekat kost saya ini sama dengan masjid-masjid di kampung saya, kehormatan sajadah tebal dan bagus untuk imam. Tetapi sang imam muda selalu menggulung sajadah jika dia akan mengimami. Sholat bersama di lantai keramik, tak lebih tinggi, tak lebih rendah, setara.

Selalu, dan selalu saya mengasosiasikan kepemimpinan dalam agama saya, Islam, dengan kesetaraan yang ditunjukkan oleh fenomena di atas. Tidak hanya dari disiplinnya mengikuti komando, atau shaf-shafnya yang rapi dan rapat, tetapi juga kesetaraan dan penolakan terhadap pengistimewaan.

Kini, apabila kehormatan menjadi Imam datang pada saya, sajadah tebal nan indah itu akan selalu tergulung.











dimuat juga di http://belajarmenulis.wordpress.com/

 

December 24, 2007

Mengklaim Budaya Sendiri

Kategori: indonesia, budaya

Berbicara mengenai budaya. Berbicara mengenai keragaman dengan segala kompleksitasnya.
(more…)

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main