Jadi teringat awal masuk kuliah dahulu. Bertemu dengan suasana Masjid Kampus yang asri. Tak hanya asri, Masjid ini memberikan suatu pelajaran baru yang berharga bagi saya.
Biasanya di kampung saya, atau di sebelah kampung saya, atau di sebelah sebelah kampung saya, masjid akan dilengkapi dengan sajadah-sajadah minimal karpet. Tetapi yang jelas, pasti ada sajadah untuk imam. Sajadah paling bagus, paling tebel. Adalah sesuatu yang baru saat di kampus ini, masjid tidak dilengkapi dengan sajadah, bahkan untuk imam.
Saya terus memikirkannya. Kesimpulan sementara, saya melihat adanya prinsip kesetaraan yang diperlihatkan dari samanya alasan untuk sholat. Alas sholat jamaah sama dengan imamnya, tak lebih bagus, tak lebih tebal, tak lebih tinggi.
Di masjid dekat dengan kost saya, setiap maghrib, isya dan shubuh selalu saya temui imam muda yang di kemudian hari begitu saya kagumi. Bacaan AlQur’an saat dia mengimami sholat sungguh sangat bagus, tartil dan indah sekali langgamnya, sering membuat titik air mata turun dari pelupuknya. Penyesalan saya adalah sampai saat ini saya tak tahu namanya, yang saya tahu dia masih berstatus mahasiswa, angkatan 98.
Ada satu hal yang selalu saya perhatikan darinya. Masjid dekat kost saya ini sama dengan masjid-masjid di kampung saya, kehormatan sajadah tebal dan bagus untuk imam. Tetapi sang imam muda selalu menggulung sajadah jika dia akan mengimami. Sholat bersama di lantai keramik, tak lebih tinggi, tak lebih rendah, setara.
Selalu, dan selalu saya mengasosiasikan kepemimpinan dalam agama saya, Islam, dengan kesetaraan yang ditunjukkan oleh fenomena di atas. Tidak hanya dari disiplinnya mengikuti komando, atau shaf-shafnya yang rapi dan rapat, tetapi juga kesetaraan dan penolakan terhadap pengistimewaan.
Kini, apabila kehormatan menjadi Imam datang pada saya, sajadah tebal nan indah itu akan selalu tergulung.
dimuat juga di http://belajarmenulis.wordpress.com/