Miskin
Karena lapar, anak pintar itu bunuh diri. Teguh, 11 tahun, menggantung lehernya.
Hal di atas sudah semakin sering terdengar di telinga. Tukang gorengan yang bunuh diri karena kedelai naik, anak SD yang memutuskan mati karena tidak bisa membayar SPP, ada juga yang gantung diri setelah diledek anak tukang bubur oleh teman-temannya.
Kemiskinan telah menjadi momok yang menghancurkan sendi moral dan kepribadian kita.Hampir 40 juta orang di republik ini yang mungkin semenderita Teguh. Faktor makanan menyumbang kriteria terbesar, 75 persen. Dengan kata lain, sejumlah 30 juta orang sedang kelaparan saat ini. Di sini, Republik Indonesia, sangat mungkin di depan hidung anda sendiri.
Saya selalu berpikir, alangkah berdosanya para pejabat publik kita. Di saat ada rakyatnya yang mati karena kelaparan, mereka masih sempat meminta kenaikan gaji ratusan persen, mereka masih tega mentilap uang publik untuk dimakan sendiri. Padahal mereka hapal dengan cerita seorang Umar yang pernah dengan sangat ketakutan, memanggul sendiri bahan makanan untuk rakyatnya yang kelaparan di malam hari.
Pun saya selalu merasa berdosa. Seorang yang mengaku setanahair dengan orang-orang tak beruntung di atas, mengaku seagama, mengaku sebagai belahan jantung sesama saudara, telah tega mengacuhkan sekitar. Telah tidak tanggap untuk sekedar memberikan uluran tangan yang sebenarnya juga sama pendek ini. Dimanakah sebenarnya disimpan hati ini?
Kemudian para teoritis ramai membicarakan solusi-solusi mereka. Proteksionisme, subsidi, privatisasi BUMN, pinjam uang lagi, dll, dsb, dkk. Sudah terlalu banyak solusi, tak ada hasil yang bisa mata ini lihat.
Oh maaf, saya salah. Hasilnya ada. Teguh adalah salah satu diantaranya.
[Akhirnya, tak ada jajaran karangan bunga untukmu, tak ada buku ditulis, tak ada pembagaian rupiah dalam rangka selamatan, tak ada ucapan duka dan liputan besar-besaran di tv dan di koran. Akankah kau cemburu (Teguh)?]
_belajarmenulis
http://belajarmenulis.wordpress.com/2008/03/10/miskin/
