Soliter

February 25, 2008

Pengamen

Kategori: manusia

Saya selalu tidak suka dengan pengamen. Sering saya bertanya apa bedanya mereka dengan pengemis? genjrang genjreng ga keruan, terus minta duit, terus ngeloyor pergi. Saya paling males ngasih. Ngamen dijadikan kedok untuk menutupi modus mengemis mereka.

Tetapi tentu saja selalu ada perkecualian. Seperti tadi di warung Cap Cay. Waktu dari pesan makanan sampai siap hidang di warung ini memang cukup lama, selama jeda waktu itu saya dan serombongan kawan ngobrol ngalor ngidul plus ejek-ejekan. Ditengah keasyikan kita, muncul pengamen tunggal, bawa gitar, pake kaos.

Saya nilai pengamen ini adalah salah satu pengamen yang tahu cara mengamen dengan elegan. Diselingi candaan-candaan garing, dia membawakan beberapa lagu Iwan Fals sampai selesai dengan sungguh-sungguh, walaupun gelas plastik uangnya sudah ada yang mengisi. Beberapa kali kawan saya merequest lagu darinya.

Tutur katanya yang rendah hati dan dedikasinya saat menyanyi memberikan rasa penghargaan yang sangat tinggi dalam hati saya. Beberapa ribu pun keluar untuknya.

Memang fatsoen itu perlu, dalam mengemen sekalipun.









dimuat juga di http://belajarmenulis.wordpress.com/ 

5 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://kangzamzam.blogsome.com/2008/02/25/pengamen/trackback/

  1. tapi terus terang dari sekian banyak pengamen, yang paling saya benci pengamen di warung makan. mengganggu banget. orang lagi makan dimintain duit, banyak diantara pengamen itu yang suka rada maksa. bete banget kan. tangan dan mulut lagi belepotan, dimintain duit.

    tapi memang betul, pengamen yang mendedikasikan dirinya utk bermusik memang ok. seperti halnya beberapa pengamen yang sering saya temui di ruas tol jakarta – tangerang. yg nyanyiin lagu ikan laut (pengamen jalanan vs gigi), saya sering lihat nongkrong di daerah slipi/tomang/kbn jeruk…. dulu, sebelum bikin album :D

    eh satu lagi yg bikin bete, diluar pengamen sih. nulis captcha di form komentar :P

    Comment by Cecep — February 26, 2008 @ 12:24 am

  2. captcha ya mas cecep..
    ntar saya pertimbangkan untuk dimatiin :D

    Comment by soliter — February 26, 2008 @ 4:04 am

  3. saya lebih suka menyebutnya seniman jalanan…
    Hanya saja mereka tak punya kesempatan seperti seniman-seniman berduit yang dengan mudah mempublikasikan karyanya di media. Untuk seniman jalanan seperti ini, selayaknya kita menghargai meski hanya dengan memberikan beberapa lembar ribuan

    Comment by diah irma — February 26, 2008 @ 12:02 pm

  4. ya,
    dan tentu saja setiap pekerjaan, termasuk seniman jalanan ini perlu fatsoen bukan?!

    bravo seniman-jalanan-yang-baik-dan-tidak-sombong-dan-tidak-maksa-dan-menghargai-pendengarnya!
    :)

    Comment by soliter — February 26, 2008 @ 1:27 pm

  5. terkadang memang pengamen itu menggangu datang satu datang yang lain tapi ya…..... habis mu gimana lagi!

    Comment by shinigami — April 27, 2008 @ 12:37 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main