Kepemimpinan Perempuan
Perempuan. Aku benar-benar ingin tahu bagaimana sebenarnya Engkau..
Kurang dari dua tahun yang lalu, saat pemilu raya presiden KM-ITB (FYI, Keluarga Mahasiswa ITB). Saya tertarik dengan kemunculan seorang calon perempuan di ajang yang basah-basah kering ini
.
Namanya Syahfitri Anita. Dicalonkan sebagai presiden oleh konstituennya di unit dimana dia beraktivitas. Walaupun kemudian yang terpilih adalah kompetitornya dari elemen lain (FYI lagi, Dwi Arianto Nugroho), tapi kemunculan Syafit—begitu ia biasa dipanggil—telah mewarnai blantika ‘glamour’ kemahasiswaan di kampus Ganesha.
Sejujurnya otak saya terlalu malas untuk mengingat hal di atas, tetapi terpaksa doi membongkar kembali ingatan setelah seorang rekan di diskusi maya so suddenly mengabarkan bahwa dia mencalonkan diri sebagai presiden di strata yang persis di atas, di kampus berbeda, Presiden KM-UGM.
Asih Minanti Rahayu. Yup, perempuan. Asih pernah jadi ketua OSIS, dirigent sekaligus pelantun nada tinggi di paduan suara, pengurus Rohis di SMA, seabrek aktivitas di kampusnya, bla bla bla…
Standar pertanyaan dan pernyataan pada keduanya, “koq nih perempuan berani amat sih ngikut2 kayak ginian?”, “ini mah lahannya cowok”, “salut saya sama dia”, “mana sih orangnya?”, "macem-macem ajah", “inget kodrat atuh non..”.
STOP, saya tidak ingin bicara pantas atau nggak pantas, bijak nggak bijak, boleh nggak boleh, salah nggak salah, makan nggak makan asal ngumpul (lho?). Saya ingin coba memandang dari sisi lain.
Mbak Syafit dahulu, telah memberikan suatu warna yang berbeda dari seorang penggiat kemahasiswaan kampus. Slogan yang dia bawa adalah paradigma out of the box. Hal itu terpancar dari soundtrack kampanyenya, “I Want to Break Free”. Tentu anda tahu kan? Itu tuh lagunya Queen
. Masuk kampus dari gerbang belakang, lagu jadul ini diputar keras2 pake speaker (saya menduga milik Apres-ITB) di atas sekre tiben, di antara perpustakaan dan gedung PAU (di tengah-tengahlah pokoknya). Slogan-slogan yang dibawa sedikit-banyak memberikan pencerahan sekaligus unik.
Tak lupa, memori saya masih bisa sedikit-sedikit mengingat metode dan caranya berkampanye yang sederhana, kreatif, rame, mahasiswa banget. Dari media kampanyenya saya juga melihat suatu sisi maskulin yang berusaha ditonjolkan oleh Mbak Syafit.
Asih sekarang, lain lagi. Interpretasi saya terhadap apa yang menjadi slogannya adalah karakter universal seorang wanita, “marilah kemari, bunda akan memberi cinta dan kasih setulus-tulusnya pada kalian..” => anda bisa membaca teks pidato ybs dengan meng-klik LINK INI.
Ada gurat-gurat yang feminin di sana, Perempuan banget! Saya merasa ada suatu hasrat aktualisasi yang menggebu. Memberikan sesuatu sesuai kapasitas, karakter, dan gaya kepemimpinan yang khas dari seorang perempuan. Analog mungkin dengan apa yang dilakukan oleh bunda kita di rumah. Mengatur keuangan, belanja, sosok vital dalam kaderisasi keluarga, memberikan cinta kasih pada seantero rumahnya.
Berbeda dengan mbak syafit yang secara implisit menitikberatkan pada tuntutan terhadap hak kepemimpinan setara kompetitornya yang kaum Adam, Asih memberikan nuansa karakter pengayoman seorang ibu. Pendekatan yang berbeda, namun sama-sama kentara sekali gelombang kekuatannya. Menarik.
Yaaaaah.. Anyway, keduanya telah mengukir sejarah di tempatnya masing-masing, memperjuangkan idealisme personalnya, menjadi populer dengan caranya sendiri.

trus menang ga zam??
Comment by dimas — December 5, 2007 @ 8:21 pm
blom mas, katanya sekarang lagi jalan pemiranya
Comment by jajaka tunggara — December 6, 2007 @ 1:02 am
Himastron 2 periode terakhir ketuanye cewek. Menurut saya sih hasilnya nggak mengesankan. Tapi yah… emang lagi krisis cowok sih itu himpunan… Kalo cowok yang jadi pimpinan saat 2 periode itu, hasilnya bakalan lebih jelek…
Comment by edwards — December 6, 2007 @ 11:18 am
bang ed, baa kaba?
)
udah jarang ketemu nih sama temen2 himastron (dah ga ada yg kuliah bareng
dulu pas masih sering ngubek kampus, di kalangan kahim2 ayu tuh salahsatu yang keren…
kahim himafi 2004 cewek juga tuh bang..
Comment by jajaka tunggara — December 8, 2007 @ 8:16 am
dari partai mana tuh mba asih, bang zamzam? dari partai bunderan kah? kemajuan euy…*ga keliatan dari partai mana diliat dari tampilannya, soale frenster diblok,hehehe*
Comment by lucky — December 8, 2007 @ 11:44 am
kyaa.. ada bang lucky :”>
heuheu tau tuh bang, partai nyonya meneer kali
ni ada link blognya http://asihminantirahayu.wordpress.com/about-me/
Comment by jajaka tunggara — December 8, 2007 @ 2:50 pm
PRIKITIW…PRIKITIW….(naon seh)
emang bisa gitu di UGM maju tanpa bekingan parpolnya?
bukannya harusnya gitu dulu yak..??
maklum gw kan ga melanglang ke jogja
palingan ISI Jogja, itu juga ke pameran ehehehe
Comment by aul — December 11, 2007 @ 7:42 pm
aaah si aul ini, sekali-kali maen atuh ke ugm,, rekan2mu seperjuangan itu
n kalo pengen jelas, tanya aja langsung sama orangnya..
Comment by jajaka tunggara — December 12, 2007 @ 8:48 pm