Yang Terjadi di Tempat Gelap
And i dont want the world to see me
(GGD – Iris)
Tepatnya jangan kepergok! Seperti maling. Zaman dulu, saat masih angkatan muda, saat masih semangat-semangatnya, masih fresh!
Jangan kepergok karena kalau kepergok bisa berbahaya. Haha.. Malam-malam ngampus sekitaran jam 2, terus beraksi jam 3-an sampe jam setengah 5. Keliling dari tembok satu ke tembok yang lain, dari papan pengumuman satu ke papan pengumuman lain. Semua gedung, bahkan mushola dan kamar mandi biasanya tak luput dari polesan karya-karya eksentrik.
Perekat yang kuat tentu saja jadi bahan yang tak boleh disepelekan. Provokasi kreatif harus mantap. Kelincahan dan pengenalan medan, kapan satpam berkeliling misalnya, harus diperhitungkan. Moment harus pas, isu yang dibawa kudu menggelitik. Kalau ngajak sekutu, harus yang loyal, ga bocor orangnya.
Banyak hal yang harus disiapin, tapi yang paling penting: mental. Mental? ya, mental, karena beresiko. Resiko? Mungkin ditelanjangin atawa diiket di tiang basket bisa jadi yang minimal.
Pernah hampir kepergok. Beraksi kesiangan alias hampir shubuh. Untung pernah belajar beladiri, sehingga masih bisa melakukan perlawanan. Alhamduillah, bisa menang dan identitas tidak terbongkar, padahal saat itu hanya satu jurus yang dikeluarkan, jurus sakti mandraguna – pilih tanding: Melangkah Tanpa Bayangan (lebih terkenal di kalangan awam dengan istilah ‘kabur’ atau ‘lari’)
Seru. Menegangkan. Indah. Memorable.
Hmmmm.. Sekarang adek-adek masih suka ‘begituan’ ga ya?!

di sr sih masih….
Comment by aul — November 23, 2007 @ 8:04 am
bagos bagos.. perlu dilestariikan itu..
Comment by jajaka tunggara — November 23, 2007 @ 9:48 am
jadi inget masa muda jam..
Comment by kamil — November 27, 2007 @ 5:52 pm
zam. mau tempel2 lagi gak?
tp yang ini gak gelap2 amat. buat masri . hehehe
Comment by arif — December 3, 2007 @ 5:47 pm