Soliter

November 20, 2007

Yang Terjadi di Tempat Gelap

Kategori: privasi, kampus

And i dont want the world to see me
(GGD – Iris)

Tepatnya jangan kepergok! Seperti maling. Zaman dulu, saat masih angkatan muda, saat masih semangat-semangatnya, masih fresh!

Jangan kepergok karena kalau kepergok bisa berbahaya. Haha..  Malam-malam ngampus sekitaran jam 2, terus beraksi jam 3-an sampe jam setengah 5. Keliling dari tembok satu ke tembok yang lain, dari papan pengumuman satu ke papan pengumuman lain. Semua gedung, bahkan mushola dan kamar mandi biasanya tak luput dari polesan karya-karya eksentrik.

Perekat yang kuat tentu saja jadi bahan yang tak boleh disepelekan. Provokasi kreatif harus mantap. Kelincahan dan pengenalan medan, kapan satpam berkeliling misalnya, harus diperhitungkan. Moment harus pas, isu yang dibawa kudu menggelitik. Kalau ngajak sekutu, harus yang loyal, ga bocor orangnya.

Banyak hal yang harus disiapin, tapi yang paling penting: mental. Mental? ya, mental, karena beresiko. Resiko? Mungkin ditelanjangin atawa diiket di tiang basket bisa jadi yang minimal.

Pernah hampir kepergok. Beraksi kesiangan alias hampir shubuh. Untung pernah belajar beladiri, sehingga masih bisa melakukan perlawanan. Alhamduillah, bisa menang dan identitas tidak terbongkar, padahal saat itu hanya satu jurus yang dikeluarkan, jurus sakti mandraguna – pilih tanding: Melangkah Tanpa Bayangan (lebih terkenal di kalangan awam dengan istilah ‘kabur’ atau ‘lari’)

Seru. Menegangkan. Indah. Memorable.

Hmmmm.. Sekarang adek-adek masih suka ‘begituan’ ga ya?!

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main