Soliter

November 22, 2007

Konstantinopel 1453

Kategori: serius, islam

Muslim (Turki Utsmani)
Leader : Muhammad II
Pasukan: 150ribu orang
Source: senjata klasik jarak pendek + meriam (teknologi baru saat itu)
Tokoh pembantu: Syaikh Aaq Syamsudin (guru Muhammad II), Halil Pasha dan Zaghanos Pasha (keduanya tangan kanan Muhammad II)

  VS

Byzantium (Konstantinopel)
Leader: Constantine Paleologus
Source: Benteng 10 m dengan parit 7 m 

Tokoh pembantu: Kardinal Isidor, Pangeran Orkhan dan Giovanni Giustiniani (dari Genoa)

 
 

 

Kondisi umum konstantinopel

  • Barat => benteng dua lapis, artileri muslim harus membobolnya
  • Selatan => laut Marmara, pasukan laut muslim berhadapan dengan pelaut Genoa pimpinan Giustiniani
  • Timur => selat sempit Golden Horn, armada laut harus masuk ke  yang sudah dilindungi dengan rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak bisa lewat.

Skenario perang

  • penyerangan dimulai hari jumat 6 april 1453M (sebelumnya Muhammad II mengirim surat kepada Paleologus untuk masuk Islam atau menyerahkan penguasaan kota secara damai atau perang)
  • dari barat benteng berusaha dibobol, tetapi setiap kali runtuh sedikit, si pasukan konstantinopel numpukin lagi
  • Usaha lain dicoba; menggali terowongan di bawah benteng, cukup menimbulkan kepanikan kota, namun juga gagal
  • berminggu2 benteng tidak bisa dijebol
  • akhirnya, ada ide untuk menyerang dari arah timur (golden horn) yg pertahanannya agak longgar (konsentrasi pertahanan konstantinopel ada di barat).
  • dalam semalam 70 kapal dipindahkan melalui DARAT untuk menghindari rantai penghalang (ini awalnya dianggap ide bodoh)
  • 29 mei 1453 (setelah sehari istirahat) dilakukan penyerangan total
  • pasukan muslim terdiri dari 3 lapis: irregular di lapis pertama, Anatolian Army di lapis kedua dan terakhir pasukan Yanisari
  • Giustinianimenyarankan Constantine untuk mundur atau menyerah tapi Constantine tetap konsisten hingga gugur di peperangan (kabarnya Constantine melepas baju perangnya dan bertempur bersama pasukan biasa hingga tak pernah ditemukan jasadnya => WOW)
  • Giustiniani meninggalkan kota dengan pasukan Genoa-nya. Kardinal Isidor lolos dengan menyamar sebagai budak melalui Galata, Pangeran Orkhan gugur di peperangan.
  • Konstantinopel jatuh

Epilog pasca perang

  • Penduduk kota berbondong-bondong berkumpul di Hagia Sophia
  • Sultan Muhammad II memberi perlindungan kepada semua penduduk, siapapun, baik Islam, Yahudi ataupun Kristen
  • Toleransi tetap ditegakkan, siapa pun boleh tinggal dan mencari nafkah di kota tersebut
  • Sekolah dibangun, siapa pun boleh belajar, tak ada perbedaan terhadap agama, GRATIS lagi
  • Membangun perumahan, diberikan gratis kepada para pendatang yang bersedia tinggal dan mencari nafkah di reruntuhan kota Byzantium.
  • Kota tersebut kini bernama Istanbul, Hagia Sophia yang megah berubah fungsi menjadi museum.

 

 

——


Referensi

http://panji-only.web.ugm.ac.id/?p=13
http://myquran.org/forum/index.php?topic=9909.0;wap2
http://eramuslim.com/berita/lpk/7b16154048-muhammad-al-fatih-the-conqueror.htm?prev

November 20, 2007

Yang Terjadi di Tempat Gelap

Kategori: privasi, kampus

And i dont want the world to see me
(GGD – Iris)

Tepatnya jangan kepergok! Seperti maling. Zaman dulu, saat masih angkatan muda, saat masih semangat-semangatnya, masih fresh!

Jangan kepergok karena kalau kepergok bisa berbahaya. Haha..  Malam-malam ngampus sekitaran jam 2, terus beraksi jam 3-an sampe jam setengah 5. Keliling dari tembok satu ke tembok yang lain, dari papan pengumuman satu ke papan pengumuman lain. Semua gedung, bahkan mushola dan kamar mandi biasanya tak luput dari polesan karya-karya eksentrik.

Perekat yang kuat tentu saja jadi bahan yang tak boleh disepelekan. Provokasi kreatif harus mantap. Kelincahan dan pengenalan medan, kapan satpam berkeliling misalnya, harus diperhitungkan. Moment harus pas, isu yang dibawa kudu menggelitik. Kalau ngajak sekutu, harus yang loyal, ga bocor orangnya.

Banyak hal yang harus disiapin, tapi yang paling penting: mental. Mental? ya, mental, karena beresiko. Resiko? Mungkin ditelanjangin atawa diiket di tiang basket bisa jadi yang minimal.

Pernah hampir kepergok. Beraksi kesiangan alias hampir shubuh. Untung pernah belajar beladiri, sehingga masih bisa melakukan perlawanan. Alhamduillah, bisa menang dan identitas tidak terbongkar, padahal saat itu hanya satu jurus yang dikeluarkan, jurus sakti mandraguna – pilih tanding: Melangkah Tanpa Bayangan (lebih terkenal di kalangan awam dengan istilah ‘kabur’ atau ‘lari’)

Seru. Menegangkan. Indah. Memorable.

Hmmmm.. Sekarang adek-adek masih suka ‘begituan’ ga ya?!

November 9, 2007

Kontemplasi

Kategori: syair, privasi

Seperti kata Gie.. "Aku tak tahu mengapa, aku merasa agak melankolik malam ini.." (1969)
(more…)

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main