Soliter

June 14, 2007

Prinsip No. 1

Kategori: umum

Saya selalu merasa bingung dengan motto "hidup mengalir laksana air". Bagi saya pandangan hidup seperti ini adalah pandangan hidup yang sangat pragmatis, tidak memiliki pijakan prinsip yang kuat, ikhlas terombang-ambing keadaan, dan hanya cocok bagi orang-orang yang siap terhina dan dihinakan.

Saya berpandangan, bahwa kemuliaan seseorang terletak pada prinsip hidup yang melekat di dalam sanubarinya. Manusia yang memiliki keteguhan seperti itu akan mendapatkan penghormatan dan garis hidup yang berharga.

Manusia akan selalu tersentuh oleh keluhuran pembelaan komitmen. Contoh saja, saya sebagai seorang mahasiswa tak akan bisa melepas begitu saja kesempatan untuk menapaki kembali romantisme, katakanlah, seorang Soe Hok Gie. Salah seorang manusia yang keras kepala dalam membela apa yang dia yakini. Kita, Manusia, sekali lagi, akan selalu memberikan respek pada setiap tindakan penetapan komitmen akan sebuah prinsip. Itu fitrah.

Seorang William Wallace, sampai matinya di tatakan pancung tetap mempertahankan harga diri bangsanya dan kebanggaan prinsip hidupnya yang merdeka. Dia telah menjadi martir, sejarah (minus versi Britania) akan selalu memberikan respek dan penghargaannya yang tinggi. Sejarah akan selalu mencatat orang-orang yang memiliki jiwa kepahlawanan. Orang-orang yang rela berkorban apa saja demi prinsipnya. Memang sejarah juga akan mencatat manusia yang pragmatis, tanpa prinsip dan kekuatan kepahlawanan, tapi catatan tersebut harus puas menempati lembar-lembar terkelam dalam dokumentasi sejarah.

 

Mencoba berkomitmen dan keras kepala tak akan ada salahnya..
 

 

 

7 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://kangzamzam.blogsome.com/2007/06/14/prinsip-no-1/trackback/

  1. Friedrich Nietzsche, Leo Tolstoy, Karl Marx, Rosa Luxemburg, Trotsky,
    bahkan Jean-Paul Sartre dan Ernest Mandel pun..
    yang kuburannya masih merah.
    sejujurnya mereka semua terpenjara oleh pikiran-pikirannya sendiri..
    terjebak oleh kungkungan kurun waktu mereka sendiri,
    terjebak oleh kehomogenan lingkungan mereka sendiri,
    mereka hanya mengetahui masalah mereka sendiri
    bagaimana mereka mau menyusun teori pembebasan?
    bagaimana mereka mau mengalahkan wahyu Sang Pencipta?
    bagaimana seseorang mau menerima pokok2 pikiran mereka untuk zaman sekarang ini?
    atau atas dasar apa seseorang mau bereksperimen dengan atau mencoba
    menganalisis dengan menjebloskan diri sendiri
    ke alam kontemplasi yang berujung kembali ke pangkalnya?

    ya.. berujung kembali ke pangkalnya.. karena karya mereka terbukti kadaluarsa
    Ada garis yang tebal dan nyata… Al Quran dan hadits.
    ..dan tentu saja karena Guevarra takkan terlahir lagi..

    Comment by Gilang WHP — June 14, 2007 @ 8:49 pm

  2. Menarik bung Gilang..

    Tapi kita coba melirik masalah prinsip yang saya coba ketengahkan. Prinsip berarti juga pedoman hidup. Saat seseorang tidak memiliki prinsip, itu artinya dia tidak mempunyai pedoman hidup. Tak ada tujuan spesifik yang ingin dia capai.

    Bung Gilang mencoba melempar isu tentang pedoman hidup yang membebaskan. Saya pikir itu adalah syarat mutlak untuk pencapaian kemaslahatan, karena dalam suasana terbebaskan manusia bisa berpikir untuk memajukan peradabannya..

    Comment by jajaka tunggara — June 14, 2007 @ 11:21 pm

  3. tapi air juga kan mengalir menurut alur-alur tetrtentu kang :) , misalkan saja sungai kalau tidak ada alurnya maka tidak disebut sungai..hehehe begitukah?

    oya memang benar kalau mengutip kata-kata nya Anis Mata orang yang paling banyak mempengaruhi orang lain memang orang yang Iradah nya (kemauannya) paling kuat. Orang yang punya tekad dan pendirian yang teguh. salam..

    Comment by ismansyah — June 17, 2007 @ 12:16 pm

  4. wah wah ada senior nih :) selamat datang abang, silakan di cicipi hidangan alakadarnya..

    ehm.. kita harus sepakat dulu bahwa air adalah makhluq Allah yang tidak dikaruniai akal pikiran, air hanya pasrah saja mengikuti hukum-hukum alam kepadanya, mengalir dari tempat tinggi menuju tempat yang lebih rendah.
    tak ada inisiatif, pasrah saja.. naah hal itulah yang saya pikir tidak seharusnya kita jadikan filosofi hidup.

    btw saya sepakat dnegan kutipan anis matta-nya.

    Comment by jajaka tunggara — June 19, 2007 @ 6:38 am

  5. Bung zam2, masih inget saya kah? Hm, numpang nimbrung ya..
    @Bung Gilang : “....mereka hanya mengetahui masalah mereka sendiri..”, waduh koq kykny sentimen yah ma mereka ?apa gara2 mereka terkenal dengan skeptis, agnostik, atau atheisnya ? Anyway, menurut saya, justru ada beberapa masalah yg mereka ungkapkan yg berasal dari refleksi kehidupan manusia kebanyakan..karl marx, terkenal dgn das kapitalnya, menyinggung mengenai marxisme yg ter’inspirasi’ dari kehidupan masyarakat sekitarnya, yg notabene terikat dengan kapitalisme saat itu.
    Dan Nietzche, yg mengatakan “tuhan telah mati”, juga ada benarnya, karena kita terkadang memang telah membunuhnya….Lagipula, saya rasa beberapa poin dari eksistensialisme modern-nya cukup bermanfaat koq, yah walaupun harus saya akui dokrin positifnya-beberapa- masih kurang menarik, tetapi, toh caranya mengajukan problem fundamental itu sendiri, seperti masalah moral dan nilai dengan cara yg radikal dan efektif tetap menjadi bahan pemikiran dan tantangan utk pemikir sesudahnya.

    Menurut saya, karya mereka sampai sekarang tidak semuanya hilang begitu saja dan kadaluarsa, justru merekalah yang menyebabkan manusia dapat mencapai kemajuan berpikir lebih lagi..Coba saja lihat Nietzche, walaupun di akhirnya gila, tetapi sampai sekarang pun ia masih diakui sebgai filosof terbesar Jerman. Saya heran ketika Anda mengatakan bahwa pemikiran Nietzche itidak dapat diterima, mungkin benar utk Anda, tetapi saya yakin Anda belum membaca karya2 besarnya. Anda semestinya dapat melihat betapa orisinil pemikirannya, baik dalam “thus spake zarathustra, beyond good and evil” maupun karya2 lainnya.

    Comment by yesalover — June 20, 2007 @ 6:54 am

  6. o iy, menurut saya, terkadang ada perlunya mengikuti kekuatan alam, seperti mengikuti arus utk mencari sebuah batu pijakan lalu menggunakan batu dan arus itu sendiri utk melompat keluar…Kan bakalan capek klo kita ngelawan arus yg deras..makanya ikuti dulu, temukan batu, baru keluar…

    Comment by yesalover — June 20, 2007 @ 6:59 am

  7. @yesalover
    lebih dari nimbrung juga boleh :)
    menjadikan arus untuk mencari pijakan itu bagus juga.
    syaratnya: ga terlena dan terus terhanyut dalam derasmya arus tersebut, fine2 aja saya kira.

    Comment by jajaka tunggara — June 21, 2007 @ 5:47 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main