Prinsip No. 1
Saya selalu merasa bingung dengan motto "hidup mengalir laksana air". Bagi saya pandangan hidup seperti ini adalah pandangan hidup yang sangat pragmatis, tidak memiliki pijakan prinsip yang kuat, ikhlas terombang-ambing keadaan, dan hanya cocok bagi orang-orang yang siap terhina dan dihinakan.
Saya berpandangan, bahwa kemuliaan seseorang terletak pada prinsip hidup yang melekat di dalam sanubarinya. Manusia yang memiliki keteguhan seperti itu akan mendapatkan penghormatan dan garis hidup yang berharga.
Manusia akan selalu tersentuh oleh keluhuran pembelaan komitmen. Contoh saja, saya sebagai seorang mahasiswa tak akan bisa melepas begitu saja kesempatan untuk menapaki kembali romantisme, katakanlah, seorang Soe Hok Gie. Salah seorang manusia yang keras kepala dalam membela apa yang dia yakini. Kita, Manusia, sekali lagi, akan selalu memberikan respek pada setiap tindakan penetapan komitmen akan sebuah prinsip. Itu fitrah.
Seorang William Wallace, sampai matinya di tatakan pancung tetap mempertahankan harga diri bangsanya dan kebanggaan prinsip hidupnya yang merdeka. Dia telah menjadi martir, sejarah (minus versi Britania) akan selalu memberikan respek dan penghargaannya yang tinggi. Sejarah akan selalu mencatat orang-orang yang memiliki jiwa kepahlawanan. Orang-orang yang rela berkorban apa saja demi prinsipnya. Memang sejarah juga akan mencatat manusia yang pragmatis, tanpa prinsip dan kekuatan kepahlawanan, tapi catatan tersebut harus puas menempati lembar-lembar terkelam dalam dokumentasi sejarah.
Mencoba berkomitmen dan keras kepala tak akan ada salahnya..
