Kalimat yang Menyentuhku dengan Lembut
Apa kabar sahabat?
Begitulah bunyi dari larik terakhir sebuah sms yang masuk kira-kira 11 jam yang lalu. Kalimat yang sederhana, mungkin diucapkan karena ketulusan, bisa juga sebagai sebuah basa-basi.
Di balik kesederhanaannya, Saya merasakan ada suatu hal yang istimewa darinya. Sebuah perasaan sayang seakan terpancar dari pertanyaan itu. Pertanyaan yang seperti sentuhan lembut, mengalir ke syaraf-syaraf sensorik dalam belahan otak. Peduli dengan keadaan entitas lain adalah suatu keluarbiasaan manakala kita menerima hipotesis bahwa kemanusiaan itu cenderung memiliki karakter yang egois, selfish.
Manusia selalu membutuhkan pengakuan. Eksistensi dan harga diri adalah sesuatu yang mahal dan selalu diperjuangkan oleh manusia dengan beragam bentuk dan caranya. Saya dulu cukup bandel, sering tidak mau nurut sama orang tua atau ustadz di sekolah. Motivasi yang mendasari selalu berasal dari kehausan akan perhatian dan keinginmenangsendirian. Pun, hal itu terjadi saat ini. Saat nilai-nilai kepahaman sudah mencoba untuk mengekspansi wilayah pikir di otak. Tetap, eksistensi dan harga diri selalu ingin menampilkan bentuknya dalam varian-varian tindak-tanduk.
Menekan egoisitas pribadi adalah hal yang bisa jadi sangat sulit. Alangkah bahagianya orang yang bisa terlepas dari kungkungan karakter dasar tersebut. Menyalurkan seluruh energinya untuk kebahagiaan yang menular, menginfeksi orang-orang di sekelilingnya. Friendly and hospitable. Seperti ungkapan seorang penyair Byron, "Untuk berbahagia, seseorang harus berbagi. Kebahagiaan hanya lahir dari kebersamaan".
.....................
REPLY > Saya baik-baik saja. Engkau sendiri?! > OK > SEND
