Soliter

May 3, 2007

Menyoal Kompetensi Mahasiswa dalam Konteks Pergerakan yang Kontinu

Kategori: serius, kampus

Sejarah dunia adalah sejarah orang muda.
Jika angkatan muda mati rasa, matilah sejarah sebuah bangsa.

- Pramoedya Ananta Toer -

 

Masih ingat 1998? Euforia gerakan kemahasiswaan dalam penumbangan rezim penguasa yang otoriter. Terlepas dari penilaian gagal atau tidaknya gerakan tersebut untuk mencapai sistem kenegaraan Indonesia yang ideal, namun harus kita akui bahwa gerakan tersebut mampu memberikan nuansa geliat anak muda kuliahan yang telah mengaktualisasi gerakannya dalam ranah praksis yang kontributif bagi bangsa.

Hakikatnya gerakan mahasiswa adalah gerakan yang berlandaskan intelektualisme (intellectual movement). Sebagai insan ilmiah, mahasiswa harus bisa mengonsep gerakannya dalam kaidah-kaidah yang logis dan rasional, jauh dari kesan emosional, dan destruktif. Menurut perspektif penulis, dalam konteks gerakannya, mahasiswa ditopang oleh empat pilar utama yang menjadi kompetensi dasar, yaitu membaca (reading), menulis (writing), berdiskusi (discussion), dan pewarisan nilai (kaderisasi, forming of cadres).

Membaca adalah satu faktor penting yang sangat menentukan dalam transformasi pola pikir. Salah satu negarawan dan pemikir besar kita, Bung Karno, adalah seorang yang cinta membaca dan memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi-koleksi buku yang luar biasa; atau seorang Tan Malaka yang kabur ke Rusia di zaman pergolakan tanpa membawa apa-apa yang berharga kecuali sepeti besar buku untuk dibaca; juga seorang Bill Clinton yang kabarnya mampu menghabiskan dua buku tebal dalam hitungan beberapa hari.

Pergolakan isu saat ini berubah dengan sangat cepat, hal ini harus diimbangi oleh kualitas interpersonal mahasiswa yang mumpuni dalam hal wawasan dan kemampuan berwacana. Kedua hal ini bisa didapatkan dengan cara membaca; koran, majalah, tabloid dan lain sebagainya. Kiranya kesibukan bukanlah alasan yang menyebabkan kita tidak membaca, luangkanlah waktu barang sejam atau dua jam sehari untuk membaca.

Pilar kedua, mahasiswa harus mampu dan terbiasa untuk melontarkan opini, ide atau gagasannya dalam bentuk tulisan. Hal ini menjadi penting manakala gerakan mahasiswa ditujukan untuk sasaran yang massif dan global, tulisan-tulisan yang dicetak dalam bentuk media publik akan bisa dibaca oleh banyak orang dari berbagai kalangan, sehingga eskalasi gerakan bisa lebih cepat dan meluas, tak hanya lokal, tapi juga menasional, bahkan bisa menembus batas mancanegara.

Suatu ideologi ataupun pemikiran akan bisa terabadikan dalam bentuk tulisan, banyak contoh bisa disebut, diantaranya das Kapitalnya Marx yang dijadikan pegangan paham kaum komunis; teori kontroversial evolusi Darwin yang dituliskan dalam The Origin of The Species; atau jangan jauhjauh, hampir semua agama-agama besar di dunia mengabadikan ajarannya dalam bentuk tulisan pada kitab sucinya masing-masing.

Suatu kegembiraan besar ketika para mahasiswa sudah terbiasa melontarkan ide-ide dalam tulisan, menyuarakan opini dalam ruang gerak yang lebih luas dan bisa diakses dengan mudah. Bukankah orang bilang sebatang pena lebih tajam daripada sebilah pedang?

Pilar ketiga, berdiskusi. Instrumen diskusi mempunyai kemampuan yang powerfull dalam menganalisa masalah dan mengejawantahkan solusi konkritnya.

Dalam berdiskusi kita akan mendapat input-input yang berharga bagi pola pemikiran dan pola pergerakan yang matang dan intelek, akan ada share ide, juga akan ada proses pengujian terhadap suatu kualifikasi paham atau opini tertentu. Lebih dari itu fungsi psikologis akan sangat nampak disini, dengan proses seperti ini akan terjalin kedekatan emosional antar elemen yang akan mempermudah setiap mobilitas pergerakan.

Pilar keempat, kaderisasi. Aktivisme mahasiswa adalah sesuatu yang terbatas, terutama oleh waktu kuliah. Seorang mahasiswa yang telah lulus dan terjun langsung di masyarakat tak bisa lagi disebut aktivis mahasiswa, lahan dan potensi gerakannya menjadi jauh berbeda. Oleh karena itu, perlu ada pewarisan nilai-nilai idealisme terhadap para junior (adik kelas) sehingga kontinuitas gerakan bisa terjaga.

Harapan penulis, semoga gerakan kemahasiswaan akan selalu berada pada koridor idealisme intelektul dan memihak kepada kepentingan rakyat. Menjadi suatu kekecewaan manakala gerakan ini disusupi oleh motif dan cara yang tidak bisa dipertanggungjawabkan di depan mimbar intelektualisme.

 

4 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://kangzamzam.blogsome.com/2007/05/03/menyoal-kompetensi-mahasiswa/trackback/

  1. Ada yang bilang bahwa idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki seorang pemuda. Namun Gerakan mahasiswa dalam koridor idealisme semestinya juga tetap berlanjut ketika ia telah lulus dan terjun di masyarakat, meski tidak berstatus lagi sebagai mahasiswa, mimpi2 yang dulu diperjuangkannya harus segera direalisasikan pada fase ini, karena ia kemudian akan memegang kebijakan yang bersentuhan dengan banyak pihak

    Comment by diah irma — May 25, 2007 @ 7:41 pm

  2. Sejarah telah mencatat, bahwa mahasiswa tak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya bangsa Indonesia. Sebutlah Sumpah Pemuda, Proklamasi Kemerdekaan RI, Keruntuhan Orde Baru dan bergulirnya Reformasi 1998. Maka mahasiswa memang diharapkan berada dalam koridor gerakan idealisme yang kontinyu.
    Namun ada tugas yang lebih besar ketika mahasiswa lulus dan terjun di masyarakat, yaitu mempertahankan idealisme dan merealisasikan mimpi2 yang dulu diperjuangkan. Karena mahasiswa adalah generasi pemimpin selanjutnya. Maka jangan lagi ada mantan aktivis mahasiswa yang kemudian menjadi pemimpin tapi ternyata terlibat kasus korupsi atau tindakan2 sewenang-wenang terhadap rakyat yang dipimpinnya.

    Comment by Diah Irma — May 27, 2007 @ 6:48 am

  3. mbak diah bicara tentang aktivitas pasca kampus..
    mempertahankan idealisme adalah perjuangan paling berat pada masa-masa itu..
    apa yang dibutuhkan?
    sederhana menurut saya, komunitas.

    Comment by alphabetterakhir — May 29, 2007 @ 10:48 am

  4. sejarah hanya akan terulang bila kita terlalu menyudutkan masalah lalu dan merasa
    negara ini tidak pernah bergerak maju…..!!
    jangan terus larut membahas masa lalu seakan tidak habis2nya…
    tapi berikan solusi untuk memperbaiki masa lalu…

    Comment by elan — February 22, 2008 @ 12:26 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main