Orang yang hidup bagi dirinya sendiri
akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil.
Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain
akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.
- Sayyid Quthb -
Hari kebangkitan nasional tidak pernah membuat kita bangkit sebenarnya. Sama halnya seperti 99 tahun yang lalu saat para ambtenaar mendirikan Boedi Oetomo (BO). BO didirikan bukan dengan semangat pembangkitan, yang ada, BO malah bersifat sangat a-nasionalis, mendukung dan didukung penjajah, tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka. Maka tidak heran ketika ruh kebangkitan tidak muncul-muncul di kalangan manusia Indonesia. Lha wong yang digunakan adalah simbol penghambaan terhadap kolonialis, bukan simbol kebangkitan.
Semangat kebangkitan biasanya dimulai dengan semangat anti-kemapanan. Mempunyai semangat tinggi, pikiran yang meledak-ledak dan tak kenal batas adalah prasyaratnya. Jika kita telaah sekilas saja, secara logis kita sudah bisa mengatakan bahwa prasyarat tersebut ada pada elemen kaum muda.
Tidaklah berlebihan kiranya ketika sastrawan Pram berujar ”Sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Jika angkatan muda mati rasa, matilah sejarah sebuah bangsa”. Tentu saja kita bisa melakukan studi atas pernyataan tersebut. Kebangkitan suatu kaum, faktanya, adalah kebangkitan kaum mudanya.
Indonesia kini mempunyai stempel besar di dahinya sebagai negara pecundang. Coba kita trace berbagai rekor dunia saat ini. Indonesia kita tercinta pasti akan selalu menempati urutan teratas dalam kategori-kategori yang jelek bin buruk bin mengkhawatirkan. Politik penuh kecurangan-yang-dimaklumi, budaya bangsa yang kian meluntur diterpa arus MTV, Holywood, dan—sialnya—Bollywood. Kebijakan Hankam yang membuat kita tidak aman, ekonomi yang bisa dikendalikan pihak-pihak kapitalis non-Indonesia. Kiranya kita tidak usah panjang-panjang membicarakan keburukan-keburukan tersebut, toh sudah hampir sebagian besar orang Indonesia saat ini dengan bangga melakukannya—penulis berharap untuk tidak dimasukkan dalam golongan tersebut.
Banyaknya permasalahan di negeri ini tidak lepas dari peran kaum mudanya. Predikat pendobrak (agent of change) yang dimiliki kaum muda seakan tidak ada lagi bentuknya, dimakan kultur konsumtif dan hedonis kontemporer. Hitung sajalah berapa orang mahasiswa di kampus anda yang peduli pada nasib dan masa depan bangsa. Masalah dobrak-mendobrak menjadi penting tatkala kita dihadapkan pada wilayah-wilayah stagnan yang menggelayuti seluruh sektor kehidupan bangsa.
Saat ini pragmatisme sudah merasuk dan mengakar dalam hati dan otak. Mahasiswa yang merupakan representasi strata atas kaum muda tidak luput dari trend ini. The last stronghold rupanya juga ikut kepincut janji-janji instan menggiurkan yang dibawa oleh zaman.
Bagaimanapun, kita harus menyadari keadaan yang ada, rekonstruksi lagi pola pikir kita. Pemahaman yang benar akan masalah-masalah riil bangsa menjadi pondasi utama kebangkitan. Turun dan melihat langsung keadaan masyarakat adalah pilihan utama, karena dengan begitu sense of crisis bisa kita bangun dengan baik. Metode seperti ini digunakan oleh pemimpin-pemimpin revolusioner dunia seperti Muhammad SAW, Lenin, Soekarno, bahkan Che.
Pengasahan kapasitas pikir menjadi langkah selanjutnya. Membaca, menulis, berdiskusi. Mahasiswa-pemuda (mari untuk selanjutany kita batasi pada kelompok mahasiswa saja dulu) harus menyadari bahwa gerakan perbaikan dan perubahan harus dimulai dari kerangka logika intelektualitas. Dengan begitu, pertanggungjawaban ilmiah dan kebolehjadian suksesnya kebangkitan menjadi lebih kuat.
Membaca akan memberikan wawasan yang luas. Buku adalah instrumen yang melintas ruang dan waktu. Diskusi jika dilakukan paralel dengan proses membaca akan saling melengkapi dalam ideologisasi pemikiran personal. Kemudian, penerjemahan dari kegelisahan-kegelisahan akan sangat efektif tersampaikan dalam budaya tulis menulis. Berkomunikasi dan melakukan persuasi terhadap orang lain dalam kacamata globalisasi dunia.
Lalu beranjak pada pengambilan konklusi dan pematangan konsep. Melakukan pengasahan intelektualitas dan pendalaman sense of crisis secara paralel akan memberikan nuansa baru bagi paradigma berpikir. Arahkanlah pada ujung yang solutif dalam kerangka konsep yang matang.
Sebagai finishing touch, mahasiswa akan dihadapkan pada pilihan yang menjadi pamungkas: bergerak. Pola pikir dan semangat adalah sumbu dari kebangkitan, pergerakan adalah hulu ledaknya. Solusi yang kita tawarkan haruslah kita sendiri yang mengeksekusi. Mempercayakannya kepada orang lain, atau bergantung pada inisiatif orang lain adalah kebodohan terbesar yang mungkin dilakukan oleh mahasiswa, para muda penggagas kebangkitan.
Ayo kembali bangun rasa kepekaan kita terhadap nasib dan masa depan bangsa ini, tolak untuk menjadi bagian dari sekrup-sekrup kapitalisme global, emoh untuk hanya menjadi calon buruh-bergaji-besar-di-perusahaan-multinasional yang mandul sense of belonging pada bangsa sendiri. Mari coba memahami masalah yang ada, dan memberi solusi atasnya. Membangun mimpi dan menggenapkan ikhtiar. Semoga kita bukanlah angkatan muda yang mati rasa.
Mei 2007,
Bukan dalam rangka memperingati harkitnas versi soeharto
* Tulisan ini pernah dimuat dalam buletin Garda Ganesha