Soliter

May 31, 2007

Empati

Kategori: manusia

Empati adalah kemampuan menyelami perasaan orang lain tanpa harus tenggelam.
Empati adalah kemampuan dalam mendengarkan perasaan orang lain tanpa harus larut.
Empati adalah kemampuan dalam melakukan respon atas keinginan orang lain yang tak terucap. 

Di zaman ini apakah kita masih bisa merasakan hal tersebut?

Mungkin pernah suatu ketika saya atau anda berpapasan, kita saling kenal, ups maksud saya saling tahu. Tetapi kadangkala melempar senyum atau sebatas say hi saja tidak kita lakukan. Apa yang dipikirkan oleh teman sebelah saya atau anda sekarang pun mungkin kita tidak tahu.

Berapa orang yang sampai detik ini saya dan anda kenal, sampai pikiran dan keinginannya kita sudah tahu tanpa harus berbasa-basi-busa-busa?

Semakin lama semakin sulit mendapatkan ketulusan, semakin lama semakin mahal untuk mendapatkan kepercayaan dan rasa saling mengerti. Zaman kiwari orang koq seperti terhanyut dalam budaya tampak luar. Tak menghargai apa yang berada di dalam sanubari tiap manusia.


Sebenarnya,,, masih adakah rasa empati itu dalam diri kita?!
atau..
Sebenarnya,,, masih perlukah rasa empati itu dalam diri kita?!


May 30, 2007

Donna Donna Donna

Kategori: manusia, syair


On a wagon bound for market
there`s a calf with a mournful eye.
High above him there`s a swallow,
winging swiftly through the sky.

How the winds are laughing,
they laugh with all their might.
Laugh and laugh the whole day through,
and half the summer’s night.

Donna, Donna, Donna, Donna;
Donna, Donna, Donna, Don.
Donna, Donna, Donna, Donna;
Donna, Donna, Donna, Don.

"Stop complaining!“ said the farmer,
Who told you a calf to be?
Why don`t you have wings to fly with,
like the swallow so proud and free?“

Calves are easily bound and slaughtered,
never knowing the reason why.
But whoever treasures freedom,
like the swallow has learned to fly.

 

—-
Joan Baez

May 28, 2007

Tentang Saya (2) : Membeli Petasan

Kategori: privasi

Dibesarkan di lingkungan mesjid tidak secara langsung membuat saya soleh dan baik hati dan rajin menabung dan penyayang binatang emoticon.

Sering sekali disetrap => dijemur siang2, berdiri di depan kelas sampai kaki jontor, bersihin wc. Pernah juga disidang. Tetapi hal itu tidak membuat surut komitmen saya untuk terus menjadi yang terbadung.

Waktu bulan puasa, kalo ga salah saat itu saya duduk di kelas 5, berdua dengan salah seorang teman (hasil dari rayu sana – rayu sini, provoke sana – provoke sini), kita sebut saja sepatu (bosen mawar – melati terus), saya mempergunakan waktu istirahat kelas sekitar jam 9 sampai jam setengah 10 untuk beli petasan ke pasar. Waktu sore (hanya waktu sore-lah saya bisa bermain) setelah ashar petasan itu akan saya pergunakan untuk media perang-perangan emoticon dan alat menjaili yang efektif dan efisien.

Sedikit tentang pemberdayaan petasan, biasanya memang kita pakenya petasan korek. Nah, si petasan korek ini modelnya kayak korek api, ada bandul coklat mesiu di salah satu ujungnya. Keunggulan yang bersangkutan selain tidak perlu ada lagi korek untuk menyulut sumbu, juga keistimewannya dalam hal jeda waktu antara t1 (waktu pemantikan/penyalaan sumbu) dan t2 (meledaknya petasan) yang cukup lama dan bisa ditentukan dengan agak pasti, 3 sampai 5 detik. Jadilah petasan ini primadona bagi saya.

Kembali ke misi pembelian petasan tadi, saya sadar sesadar-sadarnya bahwa jarak pasar dengan sekolah lumayan jauh, ada sekitar 3 juta milimeter. Dan karena itu saya sadar sesadar-sadarnya juga kalo saya pasti tidak bisa tepat waktu sampai lagi di sekolah. Tapi bagaimanapun, the show must go on, hehehe..emoticon

Untuk mencapai pasar tadi, saya dan sepatu dengan sabar menelusuri rel kereta api. Kenapa rel kerta api? Karena selain kami cukup sayang untuk memberikan uang seharga satu dua buah petasan ke bapak sopir angkot, rel kerta api adalah juga resultan jarak antra pasar dan sekolah kami.

Singkat cerita, sampailah saya di pasar dan membeli petasan. Kami kembali menyusuri rel kereta api untuk pulang ke sekolah. Seperti yang sudah saya perkirakan, kelas sudah masuk dari se-jam-an yang lalu. Seperti biasa, kalo saya kabur atau telat masuk kelas, saya akan melompati pagar yang berada di samping sekolah. Tak dinyana tak diduga, di sana telah menunggu deretan ibu guru (means: lebih dari dua) yang sudah bersiap-siap dengan muntahan omelannya.

Karena sudah biasa, saya mah santai2 saja.. Sisa jam pelajaran harus saya habiskan di wc belakang sekolah pun tidak bermasalah (duh saya kesian sama sepatu, meler-meler dia emoticon).

Mengapa-nya Sekolah

Kategori: umum, indonesia

Mengapa masih harus ada bimbel non-sekolah?

Mengapa banyak dosen yang kerjanya hanya proyekan?

Mengapa ada guru merangkap tukang ojek? 

Mengapa guru gajinya kecil? 

Mengapa kuliah harus pake sepatu?

Mengapa sekolah dasar dan menengah harus pake seragam? 

Mengapa sekolah harus bayar mahal?

. . . 

Mengapa pendidikan tidak lagi mencerahkan?

 

May 27, 2007

Imaginary Revolution

Kategori: syair

Katanya mau jalan
Ngomongnya mau gerak
Gayanya mau nggebrak

Hanya lisan dan lagak

 

Sentimentalia

Kategori: privasi

Mengapa perasaan sedih ini muncul?

 

May 25, 2007

Tentang Sebuah Gerakan

Kategori: manusia, syair, indonesia

 

Apresiasi yang sangat tinggi untuk mas Wiji Thukul,,
terasa sekali emosi yang meluap dalam setiap bait syairnya

 

 

tadinya pengin bilang
aku butuh rumah
tapi lantas kuganti
dengan kalimat:
setiap orang butuh tanah
ingat: setiap orang! 

aku berpikir tentang
sebuah gerakan
tapi mana mungkin
aku nuntut sendirian?

aku bukan orang suci
yang bisa hidup dari sekepal nasi
dan air sekendi
aku butuh celana dan baju
untuk menutup kemaluanku

aku berpikir tentang gerakan
tapi mana mungkin
kalau diam?

 

—-
Wiji Thukul
1989

 


 

May 20, 2007

Pemuda Loyo dalam Sebuah Drama Kebangkitan*

Orang yang hidup bagi dirinya sendiri
akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil.
Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain
akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.

- Sayyid Quthb -

 

Hari kebangkitan nasional tidak pernah membuat kita bangkit sebenarnya. Sama halnya seperti 99 tahun yang lalu saat para ambtenaar mendirikan Boedi Oetomo (BO). BO didirikan bukan dengan semangat pembangkitan, yang ada, BO malah bersifat sangat a-nasionalis, mendukung dan didukung penjajah, tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka. Maka tidak heran ketika ruh kebangkitan tidak muncul-muncul di kalangan manusia Indonesia. Lha wong yang digunakan adalah simbol penghambaan terhadap kolonialis, bukan simbol kebangkitan.

Semangat kebangkitan biasanya dimulai dengan semangat anti-kemapanan. Mempunyai semangat tinggi, pikiran yang meledak-ledak dan tak kenal batas adalah prasyaratnya. Jika kita telaah sekilas saja, secara logis kita sudah bisa mengatakan bahwa prasyarat tersebut ada pada elemen kaum muda.

Tidaklah berlebihan kiranya ketika sastrawan Pram berujar ”Sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Jika angkatan muda mati rasa, matilah sejarah sebuah bangsa”. Tentu saja kita bisa melakukan studi atas pernyataan tersebut. Kebangkitan suatu kaum, faktanya, adalah kebangkitan kaum mudanya.

Indonesia kini mempunyai stempel besar di dahinya sebagai negara pecundang. Coba kita trace berbagai rekor dunia saat ini. Indonesia kita tercinta pasti akan selalu menempati urutan teratas dalam kategori-kategori yang jelek bin buruk bin mengkhawatirkan. Politik penuh kecurangan-yang-dimaklumi, budaya bangsa yang kian meluntur diterpa arus MTV, Holywood, dan—sialnya—Bollywood. Kebijakan Hankam yang membuat kita tidak aman, ekonomi yang bisa dikendalikan pihak-pihak kapitalis non-Indonesia. Kiranya kita tidak usah panjang-panjang membicarakan keburukan-keburukan tersebut, toh sudah hampir sebagian besar orang Indonesia saat ini dengan bangga melakukannya—penulis berharap untuk tidak dimasukkan dalam golongan tersebut.

Banyaknya permasalahan di negeri ini tidak lepas dari peran kaum mudanya. Predikat pendobrak (agent of change) yang dimiliki kaum muda seakan tidak ada lagi bentuknya, dimakan kultur konsumtif dan hedonis kontemporer. Hitung sajalah berapa orang mahasiswa di kampus anda yang peduli pada nasib dan masa depan bangsa. Masalah dobrak-mendobrak menjadi penting tatkala kita dihadapkan pada wilayah-wilayah stagnan yang menggelayuti seluruh sektor kehidupan bangsa.

Saat ini pragmatisme sudah merasuk dan mengakar dalam hati dan otak. Mahasiswa yang merupakan representasi strata atas kaum muda tidak luput dari trend ini. The last stronghold rupanya juga ikut kepincut janji-janji instan menggiurkan yang dibawa oleh zaman.

Bagaimanapun, kita harus menyadari keadaan yang ada, rekonstruksi lagi pola pikir kita. Pemahaman yang benar akan masalah-masalah riil bangsa menjadi pondasi utama kebangkitan. Turun dan melihat langsung keadaan masyarakat adalah pilihan utama, karena dengan begitu sense of crisis bisa kita bangun dengan baik. Metode seperti ini digunakan oleh pemimpin-pemimpin revolusioner dunia seperti Muhammad SAW, Lenin, Soekarno, bahkan Che.

Pengasahan kapasitas pikir menjadi langkah selanjutnya. Membaca, menulis, berdiskusi. Mahasiswa-pemuda (mari untuk selanjutany kita batasi pada kelompok mahasiswa saja dulu) harus menyadari bahwa gerakan perbaikan dan perubahan harus dimulai dari kerangka logika intelektualitas. Dengan begitu, pertanggungjawaban ilmiah dan kebolehjadian suksesnya kebangkitan menjadi lebih kuat.

Membaca akan memberikan wawasan yang luas. Buku adalah instrumen yang melintas ruang dan waktu. Diskusi jika dilakukan paralel dengan proses membaca akan saling melengkapi dalam ideologisasi pemikiran personal. Kemudian, penerjemahan dari kegelisahan-kegelisahan akan sangat efektif tersampaikan dalam budaya tulis menulis. Berkomunikasi dan melakukan persuasi terhadap orang lain dalam kacamata globalisasi dunia.

Lalu beranjak pada pengambilan konklusi dan pematangan konsep. Melakukan pengasahan intelektualitas dan pendalaman sense of crisis secara paralel akan memberikan nuansa baru bagi paradigma berpikir. Arahkanlah pada ujung yang solutif dalam kerangka konsep yang matang.

Sebagai finishing touch, mahasiswa akan dihadapkan pada pilihan yang menjadi pamungkas: bergerak. Pola pikir dan semangat adalah sumbu dari kebangkitan, pergerakan adalah hulu ledaknya. Solusi yang kita tawarkan haruslah kita sendiri yang mengeksekusi. Mempercayakannya kepada orang lain, atau bergantung pada inisiatif orang lain adalah kebodohan terbesar yang mungkin dilakukan oleh mahasiswa, para muda penggagas kebangkitan.

Ayo kembali bangun rasa kepekaan kita terhadap nasib dan masa depan bangsa ini, tolak untuk menjadi bagian dari sekrup-sekrup kapitalisme global, emoh untuk hanya menjadi calon buruh-bergaji-besar-di-perusahaan-multinasional yang mandul sense of belonging pada bangsa sendiri. Mari coba memahami masalah yang ada, dan memberi solusi atasnya. Membangun mimpi dan menggenapkan ikhtiar. Semoga kita bukanlah angkatan muda yang mati rasa.

 

Mei 2007,
Bukan dalam rangka memperingati harkitnas versi soeharto

 

 

 

* Tulisan ini pernah dimuat dalam buletin Garda Ganesha

May 7, 2007

I Want to Break Free

Kategori: syair, privasi

Pas dengan suasana hati saat ini..

 

I want to break free
I want to break free
I want to break free from your lies
You’re so self satisfied I don’t need you
I’ve got to break free
God knows God knows I want to break free

I’ve fallen in love
I’ve fallen in love for the first time
And this time I know it’s for real
I’ve fallen in love yeah
God knows God knows I’ve fallen in love

It’s strange but it’s true (hey yea)
I can’t get over the way you like me like you do
But I have to be sure
When I walk out that door
Oh how I want to be free baby
Oh how I want to be free
Oh how I want to break free

But life still goes on
I can’t get used to living without living without
Living without you by my side
I don’t want to live alone hey
God knows got to make it on my own
So baby can’t you see
I’ve got to break free

I’ve got to break free
I want to break free yeah

I want I want I want I want to break free….

 

—-
Queen 


May 3, 2007

Hohoho…

Kategori: umum

(>‘’‘’‘<)
( ’ ; ’ )
(@)(@)

Stay Cute!!

<)"""""(>
( ’ @ ’ )
(("),,,,("))

Sleep More

@""@
( =’.’= )
o~(__)_)

Be Good!!

(>‘’‘’‘<)
( ’ ; ’ )
(@)(@)

Be Happy

<)"""""(>
( ’ @ ’ )
(("),,,,("))

Be Cool

@""@
( =’.’= )
o~(__)_)

Be Loved

(>‘’‘’‘<)
( ’ ; ’ )
(@)(@)

Be Smart

<)"""""(>
( ’ @ ’ )
(("),,,,("))

Be Strong

@""@
( =’.’= )
o~(__)_)

Be Fun

(>‘’‘’‘<)
( ’ ; ’ ) 
(@)(@)

Gud Luck

<)"""""(>
( ’ @ ’ )        
(("),,,,("))

Take Care!

Menyoal Kompetensi Mahasiswa dalam Konteks Pergerakan yang Kontinu

Kategori: serius, kampus

Sejarah dunia adalah sejarah orang muda.
Jika angkatan muda mati rasa, matilah sejarah sebuah bangsa.

- Pramoedya Ananta Toer -

 

Masih ingat 1998? Euforia gerakan kemahasiswaan dalam penumbangan rezim penguasa yang otoriter. Terlepas dari penilaian gagal atau tidaknya gerakan tersebut untuk mencapai sistem kenegaraan Indonesia yang ideal, namun harus kita akui bahwa gerakan tersebut mampu memberikan nuansa geliat anak muda kuliahan yang telah mengaktualisasi gerakannya dalam ranah praksis yang kontributif bagi bangsa.

Hakikatnya gerakan mahasiswa adalah gerakan yang berlandaskan intelektualisme (intellectual movement). Sebagai insan ilmiah, mahasiswa harus bisa mengonsep gerakannya dalam kaidah-kaidah yang logis dan rasional, jauh dari kesan emosional, dan destruktif. Menurut perspektif penulis, dalam konteks gerakannya, mahasiswa ditopang oleh empat pilar utama yang menjadi kompetensi dasar, yaitu membaca (reading), menulis (writing), berdiskusi (discussion), dan pewarisan nilai (kaderisasi, forming of cadres).

Membaca adalah satu faktor penting yang sangat menentukan dalam transformasi pola pikir. Salah satu negarawan dan pemikir besar kita, Bung Karno, adalah seorang yang cinta membaca dan memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi-koleksi buku yang luar biasa; atau seorang Tan Malaka yang kabur ke Rusia di zaman pergolakan tanpa membawa apa-apa yang berharga kecuali sepeti besar buku untuk dibaca; juga seorang Bill Clinton yang kabarnya mampu menghabiskan dua buku tebal dalam hitungan beberapa hari.

Pergolakan isu saat ini berubah dengan sangat cepat, hal ini harus diimbangi oleh kualitas interpersonal mahasiswa yang mumpuni dalam hal wawasan dan kemampuan berwacana. Kedua hal ini bisa didapatkan dengan cara membaca; koran, majalah, tabloid dan lain sebagainya. Kiranya kesibukan bukanlah alasan yang menyebabkan kita tidak membaca, luangkanlah waktu barang sejam atau dua jam sehari untuk membaca.

Pilar kedua, mahasiswa harus mampu dan terbiasa untuk melontarkan opini, ide atau gagasannya dalam bentuk tulisan. Hal ini menjadi penting manakala gerakan mahasiswa ditujukan untuk sasaran yang massif dan global, tulisan-tulisan yang dicetak dalam bentuk media publik akan bisa dibaca oleh banyak orang dari berbagai kalangan, sehingga eskalasi gerakan bisa lebih cepat dan meluas, tak hanya lokal, tapi juga menasional, bahkan bisa menembus batas mancanegara.

Suatu ideologi ataupun pemikiran akan bisa terabadikan dalam bentuk tulisan, banyak contoh bisa disebut, diantaranya das Kapitalnya Marx yang dijadikan pegangan paham kaum komunis; teori kontroversial evolusi Darwin yang dituliskan dalam The Origin of The Species; atau jangan jauhjauh, hampir semua agama-agama besar di dunia mengabadikan ajarannya dalam bentuk tulisan pada kitab sucinya masing-masing.

Suatu kegembiraan besar ketika para mahasiswa sudah terbiasa melontarkan ide-ide dalam tulisan, menyuarakan opini dalam ruang gerak yang lebih luas dan bisa diakses dengan mudah. Bukankah orang bilang sebatang pena lebih tajam daripada sebilah pedang?

Pilar ketiga, berdiskusi. Instrumen diskusi mempunyai kemampuan yang powerfull dalam menganalisa masalah dan mengejawantahkan solusi konkritnya.

Dalam berdiskusi kita akan mendapat input-input yang berharga bagi pola pemikiran dan pola pergerakan yang matang dan intelek, akan ada share ide, juga akan ada proses pengujian terhadap suatu kualifikasi paham atau opini tertentu. Lebih dari itu fungsi psikologis akan sangat nampak disini, dengan proses seperti ini akan terjalin kedekatan emosional antar elemen yang akan mempermudah setiap mobilitas pergerakan.

Pilar keempat, kaderisasi. Aktivisme mahasiswa adalah sesuatu yang terbatas, terutama oleh waktu kuliah. Seorang mahasiswa yang telah lulus dan terjun langsung di masyarakat tak bisa lagi disebut aktivis mahasiswa, lahan dan potensi gerakannya menjadi jauh berbeda. Oleh karena itu, perlu ada pewarisan nilai-nilai idealisme terhadap para junior (adik kelas) sehingga kontinuitas gerakan bisa terjaga.

Harapan penulis, semoga gerakan kemahasiswaan akan selalu berada pada koridor idealisme intelektul dan memihak kepada kepentingan rakyat. Menjadi suatu kekecewaan manakala gerakan ini disusupi oleh motif dan cara yang tidak bisa dipertanggungjawabkan di depan mimbar intelektualisme.

 

May 2, 2007

Untuk Adindaku..

Kategori: syair, privasi

Bismillahirrahmanirrahim

Teruntuk adinda yang selalu berada di hati dan pikiranku
Buat adinda yang mungkin kini sedang menunggu-nunggu
Kepada adinda yang belum ku tahu siapa dan seperti apa raut dirimu 

Taqdir Allah akan selalu menyertai kebersamaan setiap insan
Termasuk kita saat ini
Waktu takkan pernah bisa mengikis ikatan kita
Sebaliknya, waktulah yang akan memperkokoh ikatan kita
Karena adindaku…
Suratan ini telah diteguhkan di lauhul mahfudz

Adindaku tercinta
Sungguh rindu hati ini bertemu denganmu
Sungguh rindu hati ini berdzikir bersamamu

Adindaku…
Mungkin selalu dan selalu terpikir olehmu betapa pengecutnya diriku
Mungkin selalu dan selalu terlintas kekesalan-kekesalan dalam benakmu tentangku
Mungkin selalu dan selalu hatimu tak rela dalam penantian-penantian panjangmu
Mungkin selalu dan selalu kau ingin berkata: “Kemanakah dikau pelipur lara? Penuntunku di dunia dan akhirat? Apakah kau masih malu untuk menampakkan dirimu dihadapanku? Aku telah siap untuk kau jemput, aku telah siap untuk kau jumpa, aku telah siap… tapi apakah kau masih malu?"

O Adindaku…
Terasa bergetar hati ini
Terasa ditarik-tarik jantung ini

Kuatkanlah diriku ya Allah…
Aku tidak  ingin sepengecut ini…............................

 

—-
Bandung
di syahdunya separuh malam

 

 

 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main