Merenungi Salam Kita
Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh..
Ungkapan paling indah untuk mendo’akan saudara. Diucapkan dari ustadz yang mungkin paling sholeh, sampai pejabat yang mungkin paling bangsat. Menjadi kata hiasan di setiap pembukaan penampilan. Diucapkan oleh orang di kegiatan masjid, juga di acara-acara kafe. Terlontar dalam hajatan resmi maupun tidak resmi.
Waktu saya kecil dulu, kata-kata ini keluar begitu saja tanpa terpikirkan makna yang terkandung di dalamnya. Semakin besar, semakin tahulah saya kekuatan kalimat ini.
Seringkali salam ini saya lantunkan dulu hanya untuk menunaikan kewajiban. Saat masuk ke kelas, saat masuk ke rumah, saat membuka pidato di muhadloroh masjid tingkat RT (saya pernah jadi juaranya lho
). Masih, tak terpikir makna yang terkandung dalam kalimat indah ini.
Penghujung ibtidaiyah, Ustadz di kampung saya yang merangkap juga kakek tercinta menghadiahi taushiyah yang menjelaskan makna dari sebaris kata salam tersebut. Bahwa mengucapkan kata-kata di atas adalah kewajiban kita terhadap saudara sesama muslim. "Ooooh..", kurang lebih itu yang saya bilang. Jelas taushiyah ini membekas dalam hati, tapi bekasnya cuma sedikit
perlu ada lagi yang mengubak hati ini supaya bekasnya lebih dalam.
Terus, terus, dan terus. SLTP, SMU, Kuliah. Saya semakin familiar dengan salam ini. Semakin banyak materi belajar yang menyenggol tafsirnya. Semakin banyak pengalaman-pengalaman yang dihasilkan darinya. Dan saya pun semakin bisa merenungkan kekuatan di baliknya. Sungguh, benar-benar Allah maha penyayang kepada kita dengan mengajarkan salah satu do’a terindahnya.
Perjalanan hidup memang jadi syarat pendahuluan untuk menjadikan seseorang mampu memaknai perilakunya. Saya, anda, kita semua, juga sedang melalui proses tersebut. Insya Allah waktu akan membuktikan.
Terakhir saudaraku.. Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
