Soliter

April 18, 2008

Pindahan Yuk Kawan…

Yuk mari ke..

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

http://belajarmenulis.wordpress.com

Yuk ah.. 

March 10, 2008

Miskin

Kategori: manusia, indonesia

Karena lapar, anak pintar itu bunuh diri. Teguh, 11 tahun, menggantung lehernya.

Hal di atas sudah semakin sering terdengar di telinga. Tukang gorengan yang bunuh diri karena kedelai naik, anak SD yang memutuskan mati karena tidak bisa membayar SPP, ada juga yang gantung diri setelah diledek anak tukang bubur oleh teman-temannya.

Kemiskinan telah menjadi momok yang menghancurkan sendi moral dan kepribadian kita.Hampir 40 juta orang di republik ini yang mungkin semenderita Teguh. Faktor makanan menyumbang kriteria terbesar, 75 persen. Dengan kata lain, sejumlah 30 juta orang sedang kelaparan saat ini. Di sini, Republik Indonesia, sangat mungkin di depan hidung anda sendiri.

Saya selalu berpikir, alangkah berdosanya para pejabat publik kita. Di saat ada rakyatnya yang mati karena kelaparan, mereka masih sempat meminta kenaikan gaji ratusan persen, mereka masih tega mentilap uang publik untuk dimakan sendiri. Padahal mereka hapal dengan cerita seorang Umar yang pernah dengan sangat ketakutan, memanggul sendiri bahan makanan untuk rakyatnya yang kelaparan di malam hari.

Pun saya selalu merasa berdosa. Seorang yang mengaku setanahair dengan orang-orang tak beruntung di atas, mengaku seagama, mengaku sebagai belahan jantung sesama saudara, telah tega mengacuhkan sekitar. Telah tidak tanggap untuk sekedar memberikan uluran tangan yang sebenarnya juga sama pendek ini. Dimanakah sebenarnya disimpan hati ini?

Kemudian para teoritis ramai membicarakan solusi-solusi mereka. Proteksionisme, subsidi, privatisasi BUMN, pinjam uang lagi, dll, dsb, dkk. Sudah terlalu banyak solusi, tak ada hasil yang bisa mata ini lihat.

Oh maaf, saya salah. Hasilnya ada. Teguh adalah salah satu diantaranya.

[Akhirnya, tak ada jajaran karangan bunga untukmu, tak ada buku ditulis, tak ada pembagaian rupiah dalam rangka selamatan, tak ada ucapan duka dan liputan besar-besaran di tv dan di koran. Akankah kau cemburu (Teguh)?]

 

 

 

 

 

_belajarmenulis
http://belajarmenulis.wordpress.com/2008/03/10/miskin/

March 9, 2008

Tekad

Kategori: privasi

Di sini hujan, dan hati ini terasa meleleh.

Sepertinya harus menyibukkan diri dengan aktivitas-aktivitas lain. Harus dilupakan. Belum saatnya. Akan ada waktu yang tepat.

Saat ini masih banyak manusia papa yang menunggu. Masih banyak harapan dan cita-cita yang harus diraih, harus direalisasikan.

Oleh karena itu hai pembolak-balik hati manusia,
jangan cabut sedetik pun tekad itu dari hatiku.





 

 

 

 

_belajarmenulis
http://belajarmenulis.wordpress.com/2008/03/09/tekad/ 

February 27, 2008

Nuclear Shell Model [1]

Kategori: akademika

Ada 2 teori pemodelan besar yang bisa menjelaskan fenomena-fenomena dalam inti, yakni model kulit inti (nuclear shell model) dan model tetes air (liquid drop). Penggunaannya tergantung objek pengamatan apa yang ingin diketahui.
(more…)

Shubuh

Kategori: privasi

Selepas shubuh. Selesai tilawah.
Apa selanjutnya?!
Lari pagikah?

Tapi rasanya mata ini ingin mengatup sebentar. Ibu pasti mencak-mencak kalau tahu saya tidur sehabis shubuh. Rizki hari ini bakal dipatok ayam, katanya. biasanya waktu masih di rumah, S.O.P. ba’da shubuh di hari libur adalah kunci pintu kamar, pasang earphone dengan konten lagu heavy, selimutan, plus tutup pake bantal kalau perlu.

Ya, mata ini makin terasa berat kini.











dimuat juga di http://belajarmenulis.wordpress.com/

 

February 26, 2008

Absen

Kategori: manusia, privasi, budaya

Penggunaan istilah absensi seringkali tertukar dengan presensi. Absensi secara harfiah berarti ketidakhadiran berakar dari kata dasar absen yang artinya tidak hadir. Sedangkan presensi berarti kehadiran, berasal dari noun bahasa inggris present yang artinya hadir.

“isi nama tuh di absensi”. Kalimat yang ditujukan untuk menyuruh seseorang yang hadir pada sebuah kegiatan untuk membubuhkan tanda kehadirannya pada daftar ketidakhadiran. Kesalahan penggunaan istilah yang cukup fatal bukan? paling tidak secara logika bahasa.

Istilah yang tepat, presensi, memang agak asing di telinga. Namun, apa salahnya kita coba untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya? Mari kita tidak lagi terus menerus mendzalimi diri kita sendiri.

Oya, siang tadi saya seharusnya mengisi lembar absensi.











dimuat juga di http://belajarmenulis.wordpress.com/

 

Kesetaraan

Kategori: manusia, islam, budaya

Jadi teringat awal masuk kuliah dahulu. Bertemu dengan suasana Masjid Kampus yang asri. Tak hanya asri, Masjid ini memberikan suatu pelajaran baru yang berharga bagi saya.

Biasanya di kampung saya, atau di sebelah kampung saya, atau di sebelah sebelah kampung saya, masjid akan dilengkapi dengan sajadah-sajadah minimal karpet. Tetapi yang jelas, pasti ada sajadah untuk imam. Sajadah paling bagus, paling tebel. Adalah sesuatu yang baru saat di kampus ini, masjid tidak dilengkapi dengan sajadah, bahkan untuk imam.

Saya terus memikirkannya. Kesimpulan sementara, saya melihat adanya prinsip kesetaraan yang diperlihatkan dari samanya alasan untuk sholat. Alas sholat jamaah sama dengan imamnya, tak lebih bagus, tak lebih tebal, tak lebih tinggi.

Di masjid dekat dengan kost saya, setiap maghrib, isya dan shubuh selalu saya temui imam muda yang di kemudian hari begitu saya kagumi. Bacaan AlQur’an saat dia mengimami sholat sungguh sangat bagus, tartil dan indah sekali langgamnya, sering membuat titik air mata turun dari pelupuknya. Penyesalan saya adalah sampai saat ini saya tak tahu namanya, yang saya tahu dia masih berstatus mahasiswa, angkatan 98.

Ada satu hal yang selalu saya perhatikan darinya. Masjid dekat kost saya ini sama dengan masjid-masjid di kampung saya, kehormatan sajadah tebal dan bagus untuk imam. Tetapi sang imam muda selalu menggulung sajadah jika dia akan mengimami. Sholat bersama di lantai keramik, tak lebih tinggi, tak lebih rendah, setara.

Selalu, dan selalu saya mengasosiasikan kepemimpinan dalam agama saya, Islam, dengan kesetaraan yang ditunjukkan oleh fenomena di atas. Tidak hanya dari disiplinnya mengikuti komando, atau shaf-shafnya yang rapi dan rapat, tetapi juga kesetaraan dan penolakan terhadap pengistimewaan.

Kini, apabila kehormatan menjadi Imam datang pada saya, sajadah tebal nan indah itu akan selalu tergulung.











dimuat juga di http://belajarmenulis.wordpress.com/

 

February 25, 2008

Pengamen

Kategori: manusia

Saya selalu tidak suka dengan pengamen. Sering saya bertanya apa bedanya mereka dengan pengemis? genjrang genjreng ga keruan, terus minta duit, terus ngeloyor pergi. Saya paling males ngasih. Ngamen dijadikan kedok untuk menutupi modus mengemis mereka.

Tetapi tentu saja selalu ada perkecualian. Seperti tadi di warung Cap Cay. Waktu dari pesan makanan sampai siap hidang di warung ini memang cukup lama, selama jeda waktu itu saya dan serombongan kawan ngobrol ngalor ngidul plus ejek-ejekan. Ditengah keasyikan kita, muncul pengamen tunggal, bawa gitar, pake kaos.

Saya nilai pengamen ini adalah salah satu pengamen yang tahu cara mengamen dengan elegan. Diselingi candaan-candaan garing, dia membawakan beberapa lagu Iwan Fals sampai selesai dengan sungguh-sungguh, walaupun gelas plastik uangnya sudah ada yang mengisi. Beberapa kali kawan saya merequest lagu darinya.

Tutur katanya yang rendah hati dan dedikasinya saat menyanyi memberikan rasa penghargaan yang sangat tinggi dalam hati saya. Beberapa ribu pun keluar untuknya.

Memang fatsoen itu perlu, dalam mengemen sekalipun.









dimuat juga di http://belajarmenulis.wordpress.com/ 

Perut

Kategori: umum

Perut saya sakit hari ini. Mungkin ini imbas dari telat makan kemarin.

Jadi ceritanya setelah pagi skemarin belum sempet makan apa-apa, dan siangnya saya mau langsung tidur, males keluar kandang. Tapi emang rejeki nggak ke mana, ada kamil datang ke lab ngasi makanan kotak, isinya 2 biji kue (biji?) dan air mineral dalam gelas cantik. Ada makanan masuk perut.

Baru malam hari saya keluar beli makan, saking laparnya, setelah makan di tempat (warteg), pulang ngebungkus juga buat ‘cemilan’ ekstra.

Itulah tersangka utama sakitnya si perut.

February 24, 2008

Tidur

Kategori: umum, privasi

Sehabis training tadi, entah kenapa kepala terasa berat, pusing ga keruan. Sholat dzuhur terus tilawah sebentar, hingga akhirnya nyungsep di tempat bobo.

Yah, tentu saja bobo, atau bahasa resminya: "tidur". Adalah seperti yang disampaikan oleh kbbi:

ti·dur v 1 dl keadaan berhenti (mengaso) badan dan kesadarannya (biasanya dng memejamkan mata): siang untuk bekerja, malam untuk istirahat dan—; obat—(penidur), obat bius (obat yg menyebabkan dapat tidur nyenyak); 2 (masuk—; pergi—) hendak (mulai) mengistirahatkan badan dan kesadarannya: biar aku saja yg menyudahkan pekerjaan ini, engkau boleh pergi—; tempat—, tempat untuk tidur; ranjang; 3 berbaring; terbaring (tidak berdiri): bubu—;
di atas miang (enjelai), pb tidak dapat tenang (selalu gelisah);— tak lelap, makan tak kenyang, pb sangat gelisah (krn bersusah hati, banyak pikiran, dsb);
ti·dur-ti·dur v berbaring-baring (untuk melepaskan lelah dsb): ia ~ di pematang seraya berlagu;
~ ayam tidur, tetapi belum nyenyak benar;
me·ni·duri v 1 tidur di; berbaring di; 2 ki bersetubuh dng: seorang pemuda ditangkap krn disangka ~ istri orang;
me·ni·dur·kan v 1 membawa tidur; membaringkan (meninabobokan dsb) supaya tidur: ia biasa ~ anaknya dng senandung; 2 merebahkan: setelah di rumah ia langsung ~ dirinya di balai-balai;
ter·ti·dur v 1 (sudah) tidur; mulai tidur: Upik sudah ~; 2 tidak sengaja tidur: semalam ia ~ di depan pesawat televisi;
ti·dur·an v berbaring-baring tetapi tidak tidur (untuk melepaskan lelah dsb): ia ~ di sofa sambil membaca koran; ia senang ~ di kursi malas;
ti·dur-ti·dur·an v tiduran;
pe·ni·dur n 1 cak tukang tidur; orang yg suka tidur (mudah sekali tidur): sambil duduk pun ~ itu dapat tidur lelap walaupun keadaan di sekelilingnya sangat bising; 2 (obat dsb) untuk memudahkan atau menyebabkan tidur nyenyak: obat ~; hikmat ~;
pe·ti·dur·an n tempat tidur;
ke·ti·dur·an 1 n tempat (balai-balai dsb) untuk tidur; 2 v tidak sengaja tidur; tertidur: krn sangat lelah, ibu ~ di sofa;
ke·ti·dur-ti·dur·an v selalu hendak tidur;
se·ke·ti·dur·an n setempat tidur; keadaan tidur bersama-sama di satu tempat tidur;
selapik ~ , ki (sahabat) karib sekali;
ber·se·ke·ti·dur·an v 1 tidur bersama-sama di tempat tidur; 2 bersetubuh


dan saya tidur selama lebih dari 4 jam siang ini..

 

 

Training Blogging

Kategori: umum

Assalamu’alaikumww..
Halo..

Saya lagi ngeblog di depan komputer pada acara "Training Blogging Gamais

Hahahaha.. Garing ya?!

Ikut acara pelatihan yang isinya anak-anak muda semua ternyata menyenangkan. Muda relatif terhadap angkatan saya. 

Ni acara diisi sama pak Budi Rahardjo blogger kondang yang merangkap dosen di kampus saya. Isinya? Ya, tak jauh dari tips n trik cara ngeblog yang baik dan benar.

Nah, sekarang ceritanya kita lagi praktikum di Labdas IF, jadinya dapet akses internet n bisa ngeblog.

Sudahlah.. 

February 17, 2008

ITB Yang Makin Gemulai..

Kategori: kampus

ITB yang makin gemulai..

Sebuah kalimat yang terucap dari seorang temen..

Benarkah?!

Hmmmm….
Ga bisa menggenaralisir sih, tapi makin lama anak-anaknya emang makin penurut. perempuannya makin banyak, laki-lakinya makin metro (hahahaha).

Saya amati dari beberapa fakta sejarah. mulai dari ospek yang dulu keras bangget, seringnya tawuran, rapat bentak-sana bentak-sini, kursi2 melayang, ngeyel sama soknya minta ampun
Pokoknya maskulin dah!
Kalo sekarang kan ospek isinya seminar-seminar aja, rapat malem yang intimidatif udah jarang, tawuran ga pernah kedengeran lagi, kompromistis, pejantannya dandy n wangi..

Trus?!
Apa ini salah?

Well, i dunno..

Asal anak cowoknya ga pada maen boneka ajalah
Hahahahaha…

(more…)

February 15, 2008

Selamat Pagi Indonesia

Kategori: syair, indonesia

sedetik yang lalu adalah masa yang sudah lewat,
mari kita hidup dalam detik ini,
detik di mana kita bisa mengolah hidup,
menyambut masa depan yang lebih cerah..
(more…)

February 14, 2008

Atom dan Inti di Dalamnya

Kategori: akademika

Hal yang sangat fundamental dalam fisika nuklir adalah mempelajari kelakuan partikel-partikel penyusun atom dan strukturnya. Kita bisa ibaratkan atom sebagai sebuah bola yang memiliki inti (nukleus) yang dikelilingi oleh elektron-elektron yang bergerak mengelilinginya dengan lintasan-lintasan (kulit) tertentu.

Pada kenyataannya, elektron yang mengelilingi nukleus, memiliki pola gerakan yang tidak ajeg pada satu lintasan, tetapi acak. Hanya saja ada probabilitas terbesar keberadaan elektron tersebut pada satu lintasan. Singkatnya bisa kita katakan suatu kulit bukanlah lintasan elektron, tetapi tempat yang paling sering dikunjungi elektron.

Kecenderungan elektron pada suatu posisi kulit berbeda-beda, tergantung dari energi yang dimilikinya. Semakin besar energi pada sebuah elektron, maka elektron itu akan berada pada kulit yang semakin jauh dari nukleus. Kita juga mengenal istilah spin-up dan spin-down, yang berarti kecenderungan gerak spin elektron yang mendekat atau menjauhi inti.

Kemudian kita bicara tentang inti atom (nukleus). Inti atom terdiri dari partikel-partikel neutron dan proton yang disebut nukleon. Nukleon ini analog pola geraknya seperti elektron yang mengelilingin nukleus. Ada 3 buah model yang sering digunakan untuk menjelaskan tentang nukleus; model gas, model tetes air, dan model kulit. Untuk mengetahui informasi-informasi energi per kulit, momentum sudut dan spin inti, kita bisa menggunakan pemodelan kulit.

February 2, 2008

Sidang Chapter 1

Kategori: privasi, kampus

Jumat, 1 februari 2008, dimulai jam 9.00 berakhir jam 09.45
Berlokasi di 1205, bersebelahan dengan bengkel.
(more…)

January 27, 2008

Selamat Jalan Bung!

Kematian Paman Gober
Oleh: Seno Gumira Ajidarma


Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang
bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk
Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal :
apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat,
terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya
berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang disana,
segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah
berhenti bertambah.

Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal lagi pabrik apa
saja yang dimilikinya. Bila terlihat pabrik di depan matanya, ia hampir
selalu berkata, "oh, aku lupa, ternyata aku punya pabrik sepatu."
Kejadian semacam ini terulang di muka pabrik sandal, pabrik rokok,
pabrik kapal,pabrik arloji, maupun pabrik tahu-tempe. Boleh dibilang,
hampir tidak ada pabrik yang tidak dimiliki Paman Gober. Ibarat kata,
uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman Gober.

Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder no.1, Paman Gober adalah
bebek yang sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal bebek, ia
tidak pernah mewmberi bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras
malah Donal ini, beserta keponakan-keponakan nya Kwak, Kwik, dan Kwek,
hamper selalu diperas tenaganya, dicuri gagasannya, dan hasilnya tidak
pernah dibagi. Cendekiawan jenius Kota Bebek, Lang Ling Lung, yang
dimuka rumahnya tertera papan nama Penemu, Bisa Ditunggu, pun hamper
selalu diakalinya.

Sudah berkali-kali Gerombolan Siberat, tiga serangkai kelas kakap,
menggarap gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada
dipihak Paman Gober. Pman Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi Hitam,
tukang tenung yang suka terbang naik sapu. Sudah beberapa kali Mimi
Hitam berhasil merebut Keping Keberuntungan, jimat Pman Gober, namun
keping uang logam kumuh itu selalu berhasil direbut kembali. Tidak bisa
dipungkiri, Paman Gober memang pekerja keras. Masa mudanya habis
dilorong-lorong gua emas. Sebuah gunung emas yang ditemukannya menjadi
modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak tersaingi
dari Kota Bebek.

Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek, sesepuh Kota Bebek yang
mengasingkan ke sebuah pertanian jauh di luar kota, addalah kenyataan
bahwa Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia. Pman Gober menjadi
legenda yang disukai. Pman Gober begitu rakus. Pman Gober begitu pelit.
Tapi ia tidak dibenci. Setiap kali ada orang mengecam,menyaingi,
pokoknya mengancam reputasi Paman Gober sebagai orang kaya, justru orang
itu tidak mendapat simpati. Paman Gober bisa menangis tersedu-sedu meski
hanya kehilangan uang satu sen. Ia sama sekalli bukan tokoh teladan,
tapi mengapa ia bisa begitu dicintai?
"Dunia sudah jungkir balik," ujar Nenek Bebek kepada Gus Angsa, yang
meski suka makan banyak, sangat malas bekerja. Namun Gus Angsa sudah
tertidur sembari bermimpi makan roti apel.

"Suatu hari dia pasti mati," ujar Kwik.

"Memang pasti, tapi kapan?" Kwak menyahut.

"Kwek!" Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek. Dasar bebek.

Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donal, membawa Koran itu
dari depan pintu ke ruang tengah.

"Belum mati juga!"

Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang tiada
lagi berita yang bisa dibaca di Koran. Banyak kabar, tapi bukan berita.
Bnyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan
pengetahuan. Koran-korantelah menjadi kertas, bukan media.

Semua bebek memang menunggu kematian Pman Gober. Itulah kabar terbaik
yang mereka harapkan terbaca. Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap
untuk mati. Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, umurnya cukup
uzur. Untuk kuburanya sendiri, ia telah membeli sebuah bukit, damn
membangun mausoleum di tempat itu. Jadi, bukanya Paman Gober tidak mau
mati. Ia sudah siap untuk mati.

"Mestinya, bebek seumur saya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap
masuk ke liang kubur. Makanya, ketika saya diminta menjadi Ketua
Perkumpulan Unggas Kaya, saya merasakan kegetiran dalam hati saya,
sampai beberapa lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang
mampu menjadi ketua?"

Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan Batin
Gober Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses.
Hampir setiap bab dalam buku itu mangisahkan bagaimana Paman Gober
memeburu kekayaan. Mulai dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai
sayuran yang membuat bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah
tambahan. Bab terakhir diberi judul Sampai Kapan Saya Berkuasa?. Memang,
Paman Gober adalah ketua terlama Perkumpulan Unggas Kaya. Entah kenapa,
ia selalu terpilih kembali, meski pemilihan selalu berlangsung
seolah-olah demokratis. Begitu seringnya ia terpilih, sampai-sampai
seperti tidak ada calon yang lain lagi.

"Terlalu, masak tidak ada bebek lain?"

Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-bebek
menjadi takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan terl;alu kaya.
Setiap hari yang dilakukannya adalah mandi uang. Ketika Donal Bebek
bertanya dengan kritis, mengapa Paman Gober tidak pernah peduli kepada
tetannga, bantuan keuangannya kepada Donal segera dihentikan.

"Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula."

"Apakah saya tidak punya hak bicara?"

"Bisa, tapi janngan asal meleter, nanti kamu aku sembelih."

"Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan manusia."

"Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari manusia."

"Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan manusia?"

"Yang jelas manusia bisa makan manusia."

"Tapi Pman mau menyembelih sesame bebek, apakah sudah mau meniru sifat
manusia?"

Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober suka memelihara
musuh-musuh yang tidak pernah bisa mengalahkannya itu, justru untuk
menunjukkan kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televise. Kalau
Paman Gober sudah bicara, kamera tidak berani putus, meskipun
kalimat-kalimatnya membuat bebek tertidur. Paman Gober selalu
menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya, dan Paman Gober juga
semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga Kota Bebek.

"Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur, dan monument, apa
jadinya Kota Bebek?"

Tidak ada yang berani melawan. Tidak ada yang berani bicara.

"Paman Gober," kata Donal suatu hari, kenapa Paman tidak mengundurkan
diri saja, pergi ke pertanian seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan
arti hidup? Sudah waktunya Pman tidak terlibat lagi dengan urusan
duniawi."

"Lho, aku mau saja Donal. Aku mau hidup jauh dari Kota Bebek ini.
Memancing, main golf, makan sayur asem, dan membaca butir-butir falsafah
hidup bangsa bebek. Tapi, apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan? Apa
mungkin aku menolak kehormatan yang segenap unggas? Terus terang,
sebenarnya sih aku lebih suka mengurus peternakan."

Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan. Demokrasi
berjalan, tapi tidak memikirkan pimpinan, karena memang hanya ada atu
pemimpin. Segenap pengurus bisa dipilih berganti-ganti, namun kedudukan
Paman Gober tidak pernah dipertanyakan. Para pelajar seperti Kwik, Kwek,
dan Kwak menjadi bingung bila membandingkannya dengan sejarah
kepemimpinan kota lain. Kota Bebek seolah-olah memiliki pemimpin abadi.
Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa bahkan sudah tidak
mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang bisa diganti. Mereka pikir
keabadian Paman Gober sudah semestinya.

Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman Gober. Riwayat hidup
Paman Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek
terkaya yang sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru. Nenek
Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan, yang mestinya semakin
canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda ingin
meniru Paman Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau bisa paling
kaya di dunia.

"Paling kaya di dunia?" Kwak bertanya.

" Iya, paling kaya di dunia," jawab Nenek Bebek.

"Apakah itu hakikat hidup bebek?"

"Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober."

Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih terus
menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. Matanya
telah rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia
bagai tak tergantikan.

Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa
dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota
Bebek membuka koran, yang ingin meraka ketahui hanya satu : apakah hari
nin Paman Gober sudah mati. Seriap pagi mereka berharap akan membaca
berita Kematian Paman Gober, dihalaman pertama.



Jakarta, 16 Agustus 1994

 

  

 

     

 

 

 

      

 

    



Jend (Purn) H.M. Soeharto
In memoriam, 8 Juni 1921 – 27 Januari 2008

January 24, 2008

Netra

Kategori: syair

Kita tak berani lagi untuk jujur pada kepala sendiri
(more…)

January 6, 2008

Kenapa Kamu Berjuang?*

Kategori: privasi

Karena Cinta.

(more…)

December 26, 2007

Open Up Your Heart and Let The Sunshine In

Kategori: syair, privasi

Buka mata dan hati..
Saat keadaan marah dan tersakiti

Buka mata dan hati..
Dalam kondisi tertekan dan terasing

Buka mata dan hati..
Ketika merasa kalah dan terpuruk

(more…)

December 24, 2007

Mengklaim Budaya Sendiri

Kategori: indonesia, budaya

Berbicara mengenai budaya. Berbicara mengenai keragaman dengan segala kompleksitasnya.
(more…)

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main